Kisah Hidup Dr. Ketut Rochineng, SH.MH. Bocah Miskin Penjual Es Lilin hingga Menjabat Pj Bupati - Bali Kini

Bali Kini

https://www.voaindonesia.com

Breaking News

Senin, 12 Maret 2018

Kisah Hidup Dr. Ketut Rochineng, SH.MH. Bocah Miskin Penjual Es Lilin hingga Menjabat Pj Bupati

MANGUPURA-Balikini.Net - Tepuk tangan terus menggema saat nama Dr. Ketut Rochineng, SH.MH dipanggil ke Podium Wisudawan ke-125 Universitas Udayana (Unud) di Gedung Auditorium Widya Sabha Kampus Bukit, Jimbaran, Badung, Sabtu (10/3).



Birokrat Pemprov Bali yang masa hidupnya sempat menjadi bocah miskin penjual es lilin itu, berhasil menyandang gelar Doktor Ilmu Hukum dengan nilai Cum Laude (Pujian) di Program Pasca Sarjana S3 Kampus terbesar dan terbaik di Bali itu.



Putra pasangan Nyoman Cawi (alm) yang kesehariannya menjadi Pegawai Mantri Kesehatan dengan Ni Nyoman Seneng (alm tahun 2018) adalah anak keempat dengan 8 bersaudara yang kini menjabat sebagai Penjabat Bupati Gianyar. 



Lahir dari keluarga sangat miskin dan serba kekurangan, tidak mengurangi semangat keluarga Rocky sapaan akrabnya yang kini masih menjabat Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Bali. Tak banyak yang tahu, Pejabat kelahiran Desa Petemon, Seririt, 10 September 1958 itu juga berhasil menjadi pengusaha sukses.



Hidup dari keluarga miskin memang berat, karena itu seluruh sodara Rochineng hidup menyebar mencari nafkah keluar daerah. "Saat hidup sudah sodara saya hidupnya menyebar, ada juga yang jadi perawat atau polisi. Tergantung yang menampung dan mengajaknya waktu itu," kenang Rochineng yang kini menempati rumah mewah di Jalan Buana Taman No.5 Padang Sambian, Denpasar.



Semasa kecil Rochineng bersekolah di SDN 1 Desa Petemon dan SDN 2 Bubunan tahun 1970 dan melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Seririt tahun 1973 sampai akhirnya belajar di SMAN 1 Seririt dengan hidup sangat sederhana, karena ditinggal orang tuannya meninggal sejak umur 8 tahun. Bahkan saking miskinnya, Rochineng sempat putus sekolah saat SMA tidak bisa melanjutkan kelas 2.



Akibat tidak punya biaya yang kemudian dibantu keluarga besarnya melanjutkan sekolah, karena hasil ulangan dan ujiannya saat itu minimal nilai 9 dan 10 untuk semua mata pelajaran.



"Saya juga pernah jadi buruh bangunan untuk tambahan biaya sekolah. Bahkan, semasa SMP dan SMA tidak pernah tidur di rumah, karena saya tak punya rumah sendiri melainkan tidur menumpang di rumah teman-teman secara bergiliran. Di sekolah juga sering bertarung adu panco dan sering menang, sehingga dapat uang sebagai hadiah sekedar untuk beli tipat cantok," sebutnya. 



Namun seperti kata pepatah, dibalik kesuksesan seseorang, pasti ada perempuan hebat dibalik itu. Ternyata hal itu benar terjadi, sejak kenal istrinya, Ni Made Sri Ardiani, S.Pd yang kesehariannya masih menjadi Guru SMPN 2 Denpasar, hidup Rochineng berubah drastis dan terus menuju kesuksesan.



"Dari sejak kelas II SMA sekitar tahun 1974 kenal dengan Bapak (Rochineng, red) sangat pintar, karena menjadi juara kelas terus dan baru menikah tahun 1986. Tapi ceritanya Bapak jadi body guardnya saya dulu. Pedalem dan saya kasian, karena dia sangat pinter, sehingga Ibu kagum dengan kepinterannya. Tapi sangat susah hidupnya waktu itu," kata Istri Rochineng kelahiran Singaraja, 20 Oktober 1959 menimpali.



Diceritakan, saat waktu kecil Istri Rochineng tinggal di Desa Bubunan dan baru setelah SMA kelas dua baru pindah ke Desa Petemon dekat rumah yang ditinggali Rochineng. Saat itu, tanpa malu-malu Rochineng mengaku masih berdagang es lilin keliling tidak saja di Desa Petemon, tapi juga sampai ke desa-desa lain, bahkan sampai Desa Bubunan.



"Makanya sering Ibu dulu juga beli es lilin Bapak. Karena ada pabrik es di dekat rumah dan Bapak terus jualan keliling ke desa-desa dengan jalan kaki," bebernya dan langsung ditanggapi Rochineng, sejak baru tamat SMA baru dicari oleh orang dari desa ke desa yang kebetulan Pejabat Kehutanan dan diajak mengikuti Pendidikan Kehutanan di Madiun dan Bogor. "Tamat Pendidikan Kehutanan saya langsung dipekerjakan keliling Bali sebagai Tenaga Penyuluh Kehutanan," sebut Rochineng.



Pertama kalinya dari 1978 sampai 1979, Rochineng menjadi penyuluh di Kecamatan Payangan, Gianyar baru lanjut ke Kecamatan Kubu, Karangasem sampai tahun 1983 bertugas di Nusa Penida, Klungkung serta sejumlah daerah lainnya hingga kariernya berubah tahun 2008 bergeser menjadi Sekretaris Kehutanan Provinsi Bali.



Selanjutnya tahun 2009 diangkat Gubernur Bali Made Mangku Pastika menjadi Kepala BKD Provinsi Bali sampai sekarang. "Begitu karier saya yang dimulai dari bersekolah di Patemon lanjut jadi penyuluh ke Seririt, terus sempat belajar di Fakultas Hukum Universitas Ngurah Rai di Payangan, sampai pindah ke Karangasem terus lanjut ke Klungkung dan kuliah S1 Hukum tamat tahun 1989 dan S2 di tahun 2004 dan di tahun 2018 baru meraih gelar Doktor," paparnya. 



Rochineng mengaku selama hidupnya mempunyai hobi bela diri dengan Silat Sitembak (Silat Bali) yang ditekuninya sejak kecil di Desa Patemon dan Bubunan, hingga terus bertanding dan jadi juara. Karena sempat pindah tugas antar kabupaten, akhirnya belajar Karate sekitar tahun 80-an dan tahun 1978 juga pernah belajar Karate di Payangan, Gianyar.



"Saya latihan dengan Pak Murti, disaat itu saya sudah bekerja dan terus berpindah tugas ke Buleleng. Tapi saya tetap ikut Karate yang diajar oleh Gus Lilik di Buleleng," ujarnya seraya mengaku selain olah raga silat juga aktif bermain tenis "Dari Seririt saya sudah mengawali bermain tenis dan sampai ke Klungkung hingga mendapatkan juara hampir tiap tahun saya memperoleh juara 3 besar," tandas Rochineng yang terus terpilih menjadi Ketua Umum Olah Raga Tenis dan Ketua Umum Karate Forki Bali itu.



Selanjutnya Pejabat multitalenta ini, juga menggeluti dunia tarik suara dengan menjadi penyanyi yang beken dikenal Rocky. N yang telah memiliki tiga album yaitu Bali Santi, Ngejuk Impian, Trisakti Pembangunan yang terispirasi dari Nawa Cita. "Kalau menyanyi ini seperti dadakan istilahnya, yang tidak diduga-duga.



Memang dari kecil saya suka mendengar musik karena tidak mempunyai sarana sehingga tidak tercapai mimpi saya. Tapi akhirnya sekarang, karena dukungan dari teman-teman serta para staf di kantor, akhirnya saya jadi penyanyi dan saya pun tidak pernah latihan menyanyi.



Apalagi kursus vokal, hanya saja setiap hari menonton Dangdut di TV, disanalah saya mengetahui teknik vokal dan mengevaluasi bagaimana menyanyi yang benar dari nada tempo, sampai pengaturan nafas serta teknik memenggal kata," tegas Ayah dengan Putra Tunggal bernama Gede Rai Ardian Machini Yasa, SH.MKn yang berprosesi sebagai Notaris yang menikah dengan Rai Irma Santini, SH sebagai PNS Kabupaten Badung itu.



Sedangkan di Laskar Bali, memang Rochineng mengawalinya dari anggota sekitar tahun 2000-an, karena sering aktif pada organisasi akhirnya dipercaya memegang Korlap Gunung Agung. "Dulunya karena saya senang berorganisasi dan terus aktif serta senang mencari teman yang banyak, sehingga saya diangkat akhirnya menjadi Sekjen," tegasnya sekaligus menyampaikan saat ini menjabat sebagai Penjabat Bupati (Pj) Gianyar.



"Sepertinya saya sedang melakukan napak tilas, sebab saya dulu pernah bekerja di daerah Payangan dan sekarang menjadi Penjabat Bupati di Gianyar. Saya berharap di Gianyar akan sukses untuk memimpin sebagai penjabat, sekalipun Gianyar relatif maju, tetapi dibalik majunya daerah tersebut pasti ada kantong-kantong kemiskinan, sehingga saya mau mempercepat pengentasan kemiskinan di Gianyar," ujar Kakek dengan 3 cucu ini, yakni Ni Putu Raysa Ayu Warmini Kirei (6 tahun), Made Kiandra Arka Dylan Machini (4 tahun) dan Ni Komang Rayna Lani Adriana (7 bulan).



Rochineng berambisi memajukan Gianyar, sebab data BPS Gianyar mempunyai angka kemiskinan cukup tinggi sebesar 4,06 persen. Guna mengurangi angka kemiskinan Rochineng akan terjun langsung ke lapangan dengan metode by name by addres, atau berdasarkan laporan akan datangi warga yang kurang mampu.



"Kemarin saja saya sudah mendapatkan 2 rumah dekat kota dengan jarak 5 kilometer dari kota, sudah mendapatkan orang miskin tak punya rumah sama sekali. Hnya menggunakan bedek beratapkan ilalang dan langsung minggu depannya saya kerjakan dengan staff saya dan dana saya ambil dari swadaya. Karena kalau menunggu dari Dinas Sosial Kabupaten Gianyar direncanakan pada bulan Oktober baru ada program bedah rumah, kan kasihan mereka harus menunggu lama. Sebab saya pernah merasakan bagaimana rasanya gak punya rumah dulu. Kalau bicara orang miskin pasti saya tanggapi. Sebab dulu saya pernah merasa miskin," tuturnya bersemangat. WP/r4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi Balikini.net menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di Balikini.net . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi Balikini.net akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.balikini.net