Perayaan Nyepi di Belanda - Bali Kini

Bali Kini

https://www.voaindonesia.com

Breaking News

Rabu, 21 Maret 2018

Perayaan Nyepi di Belanda

Laporan Reporter Bali Kini dari Belanda  : Tari 

Belanda - Perayaan Nyepi Tahun Caka 1940 yang bertepatan juga dengan hari suci Saraswati di Negeri Kincir Angin, Belanda berlangsung semarak. 

Perayaan yang berlangsung Minggu (18/3/2018) di Gedung  KBRI Den Haag diawali dengan persembahyangan bersama, persembahan tari Rejang Dewa, Rejang Renteng, Magibung (makan bersama), magenjekan, tabuh gender, kreasi, lagu bali, joged bumbung, tari Panjisemirang, tari Baris, Panyembrahma, serta pawai Balinese Culture yang menyelipkan pesan Bali aman untuk dikunjungi.

Koordinator kegiatan yang juga Duta Besar (Dubes) RI di Kerajaan Belanda I Gusti  Weseka Puja menyampaikan, tujuan perayaan Nyepi dan Saraswati sebagai ajang silahturahmi antara  masyarakat Hindu pada khususnya dan masayarakat Indonesia pada umumnya yang tinggal di Belanda.


Kegiatan itu sukses menarik perhatian warga Eropa lainnya, seperti Irlandia, Jerman, Italy dan Belgia. "Sekitar 200 orang lebih yang hadir. Kami juga memperkenalkan Balinese cultures ke masayrakat  Belanda sendiri  dan promosi Bali Safe for tourism," kata dia.


Rangkain acaranya mulai pukul 10.30 hingga 17 00 waktu setempat.  Uniknya, pementasan hiburan juga  dihibur oleh 3 group gamelan dari Belanda yang mayoritas anggotanya orang Belanda sendiri.

Nyepi
Dialog Spiritual dengan Alam

Hari raya Nyepi merupakan perayaan tahun baru Saka. Hari ini diyakini sebagai sebuah dialog spiritual yang dilakukan oleh umat Hindu agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis serta sejahtera dan damai. Hari ini juga merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari kehidupan. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci dengan tapa Amati Karya, Amati Geni, Amati Lelungan dan Amati Lelangon.
Istilah Nyepi berasal dari kata sepi yang berarti sunyi atau senyap. Hari Raya Nyepi sebagai perayaan Tahun Baru Hindu dirayakan dengan kesunyian, senyap atau sepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan Perayaan ini bertujuan memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa untuk menyucikan alam manusia atau  microcosmos dan alam semesta (macrocosmos).
Perayaan Nyepi bermula dari penobatan Raja Kaniskha I dari dinasti Kushana pada tahun 78 Masehi. Kita tahu bahwa agama Hindu berasal dari India. Pada awal abad Masehi bahkan sebelumnya, negeri India dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan. Pertikaian antarsuku bangsa seperti Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya sering terjadi. Menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antarsuku ini menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama di negeri itu. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa, maupun adanya penafsiran yang berbeda terhadap ajaran yang diyakini. 
Dari pertikaian panjang itu,  akhirnya Suku Saka menjadi pemenang di bawah pimpinan Raja Kaniskha I yang kemudian dinobatkan menjadi raja turunan Saka pada
tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (Caitramasa) tahun 01 Saka, atau pada bulan Maret tahun 78 masehi. Peringatan ini merupakan hari keberhasilan kepemimpinan Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda.
Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan sebagai tahun baru Saka, yang jatuh pada bulan Maret tarikh Masehi, atau pada Sasih Kesanga dalam hitungan kalender Jawa dan Bali. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang. 
Oleh karena peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional, maka. keberhasilan ini disebar-luaskan ke seluruh daratan India dan Asia lainnya bahkan sampal ke Indonesia. 

Nyepi Nusantara
Di Nusantara, perayaan ini disebarluaskan oleh seorang Pendeta Saka bergelar Aji Saka. Ia tiba di Jawa di Desa Waru Rembang, Jawa Tengah tahun 456 Masehi, dimana pengaruh Hindu di Nusantara saat itu telah berumur 4,5 abad.
Sang Aji Saka yang mensosialisasikan peringatan pergantian tahun Saka, disertai dua orang punakawan atau pengikut yang diriwayatkan melahirkan aksara Jawa onocoroko doto sowolo mogobongo padojoyonyo. Aksara tersebut dibuat karena diilhami dua orang punakawan Aji Saka yang sama-sama setia, sama-sama sakti, sama-sama teguh dan sama-sama mati dalam mempertahankan kebenaran demi pengabdiannya kepada Sang Pandita Aji Saka.
Menurut Negarakertagama, pada zaman Majapahit pergantian tahun Caka dirayakan secara besar-besaran. Runtuhnya Majapahit, perayaan tahun Caka juga luntur di seluruh nusantara. Namun di Bali yang mayoritas beragama Hindu, perayaan itu hingga kini masih tetap eksis yang disebut dengan Hari Raya Nyepi.


Yoga Semedi
Nyepi berasal dari kata sepi yang berarti sunyi atau senyap. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dirayakan dengan tapa, yoga dan semadi atau  disebut dengan brata penyepian. Ada empat brata penyepian yang berisi empat pantangan yaitu Amati Geni atau tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu. Kedua adalah Amati Karya, yaitu tidak melakukan kegiatan kerja jasmani melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani. Selanjutnya adalah Amati Lelungaan, yaitu tidak bepergian melainkan melakukan mawas diri. Dan Keempat adalah Amati Lelangunan, yaitu tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusatan pikiran terhadap Tuhan. Brata penyepian ini mulai dilakukan sejak matahari terbit sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya atau selama 24 jam.
Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Buwana Alit atau alam manusia (microcosmos) dan Buwana Agung atau macrocosmos (alam semesta).
Rangkaian hari raya Nyepi diawali dengan upacara yang disebut Melasti, Melis atau Mekiyis. Ritual ini bertujuan untuk melebur segala macam kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan, serta memperoleh air suci  untuk kehidupan. Karena itu, upacaranya dilaksanakan  di laut, danau, atau sumber/mata air yang disucikan.
Semua simbol-simbol Tuhan seperti pretima, arca dan barong yang disucikan serta peralatan upacara seperti tombak, keris, dan umbul-umbul diusung ke sumber-sumber air untuk disucikan melalui sebuah prosesi. Prosesi diisi dengan larung sesaji, persembahan, serta persembahyangan. Dan terkadang, menurut tradisi masing-masing desa, juga disertai dengan ritual menurunkan roh leluhur melalui ritual trans (kesurupan). 

Tawur
Setelah ritual Melasti, rangkaian Nyepi dilanjutkan dengan upacara tawur. Upacara dilaksanakan di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan dan seterusnya dengan mengambil salah satu jenis upacara yang disebut caru (semacam sesajian) menurut kemampuan. Tawur atau pecaruan merupakan bentuk penyucian terhadap butha kala untuk mengembalikan keseimbangan alam semesta dan jagat raya. 
Ritual berlanjut hingga sore hari yang disebut dengan upacara pengerupukan, yaitu menebar-nebar nasi tawur, mengobor-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesui (rempah-rempah), serta memukul benda-benda yang dapat menimbulkan suara gaduh. Ritual ini bertujuan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, hingga lingkungan desa.
Sesuai perkembangan zaman,  pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yaitu patung raksasa sebagai perwujudan Buta Kala. Ogoh-ogoh diarak keliling desa atau wilayah, kemudian dibakar. Tujuannya untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.

Puncak Nyepi
Keesokan harinya, umat melaksanakan Hari Raya Nyepi. Pada puncak perayaan rangkaian pergantian tahun baru Caka ini, umat melaksanakan catur brata penyepian berupa tapa Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan dan Amati Lelangon. Sepanjang hari seama 24 jam, umat tidak boleh keluar pekarangan rumah, tidak boleh menyalakan api termasuk di dalamnya kegiatan masak-memasak, tidak boleh bekerja, dan tidak boleh menghibur diri seperti menonton TV, termasuk juga tidak makan-minum dan berbicara (mono brata). Umat harus khusyuk melaksanakan tapa, brata, yoga dan semadi agar mendapatkan kesucian lahir dan batin.

Ngembak Geni
Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni. Pada hari ini umat Hindu bersilaturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf-memaafkan satu sama lain.
Menurut Prof. Dr. IB Yudha Triguna, Nyepi merupakan momentum untuk evaluasi diri, seberapa jauh tingkat pendakian rohani yang sudah dicapai, dan sudahkah mengerti dengan hakekat tujuan kehidupan di dunia ini.
Menurut dia, dalam konteks mewujudkan perdamaian, umat mesti mampu melaksanakan brata atau pengendalian diri. Dengan memiliki benteng pengendalian diri yang kuat, umat akan mampu mengalahkan musuh-musuh yang ada pada dirinya. Godaan-godaan yang datang pun dengan mudah dapat ditaklukkan. Konsep pengendalian diri seperti itu sudah dituangkan dalam perayaan hari besar keagamaan Hindu yang dikenal dengan Nyepi.
Dengan demikian, momentum perayaan Nyepi dapat dijadikan sebagai inspirasi mengenal jatidiri bangsa. Memperkenalkan Nyepi kepada lapisan masyarakat dalam masyarakat majemuk, sangatlah penting. Ke depan, jika ada pertanyaan tahun baru tanpa pesta, orang banyak pasti akan tahu bahwa peristiwa itu adalah sebuah ritual yang dilangsungkan umat Hindu. Sesungguhnya seluruh rangkaian Nyepi dalam rangka memperingati pergantian tahun baru Saka itu adalah sebuah dialog spiritual yang dilakukan oleh umat Hindu agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis serta sejahtera dan damai. Mekiyis adalah salah satu bentuk dialog spiritual manusia dengan alam dan TuhanYang Maha Esa, dengan segala manifetasi-Nya serta para leluhur yang telah disucikan. Tawur Agung dengan segala rangkaiannya adalah dialog spiritual manusia dengan alam sekitar para bhuta demi keseimbangan alam semesta beserta isinya. Pelaksanaan catur brata penyepian merupakan dialog spiritual antara umat manusia dengan sang pencipta. 
Demikian juga pada hari Ngembak Geni, sehari setelah Nyepi, merupakan bentuk dialog antar sesama manusia tentang apa dan bagaimana yang sudah, dan yang sekarang serta yang akan datang. Bagaimana kita dapat meningkatkan kehidupan lahir batin kita ke depan dengan berpijak pada pengalaman selama ini. 
Dengan kata lain, perayaan Tahun Baru Saka (Nyepi) dengan ritual merupakan dialog spiritual kepada semua pihak, dengan Tuhan yang dipuja, para leluhur, dengan para bhuta, dengan diri sendiri dan sesama manusia demi keseimbangan, keharmonisan, kesejahteraan, dan kedamaian bersama. Ana dari berbagai sumber [suam/tar/r4/bel]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi Balikini.net menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di Balikini.net . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi Balikini.net akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.balikini.net