sponsor

Breaking News

Bali Kini

Bali Nu Ada

Kabar Nasional

Kabar Internasional

Budaya

Technology

» » SUGIHAN : MENGINGATKAN PENYUCIAN ALAM DAN BADAN.

Penulis  : I K. Satria
Balikini.Net - Dalam rangkaian Hari Suci galungan kita mengenal adanya Hari Sugihan. Kata sugihan berasal dari kata “sugi “ yang artinya membersihkan. Jadi kata sugihan bisa diartikan sebagai upaya penyucian atau pembersihan. Hal ini bisa kita lihat dalam pelaksanaan hari suci sugihan dimana ritual yang dilakukan adalah dengan melakukan pembersihan baik pada diri, maupun alam semesta. Secara umum ada tiga jenis sugihan berdasarkan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Bali. Ketiga hari suci sugihan  itu antara lain Sugihan Pengenten, Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Secara sederhana ketiga arti dari sugihan ini adalah Sugihan pengenten sebagai hari suci untuk mensucikan pikiran agara kita ingat atau hari untuk mengingatkan akan pentingnya melakukan pensucian atau menyambut Galungan dengan ingatan yang baik. Selanjutnya adalah sugihan jawa yaitu diartikan sebagai pensucian di jaba atau luar diri atau bisa disebut dengan makrokosmos atau alam semesta. Terakhir adalah hari suci sugihan bali yaitu pesucian badan atau diri atau bhuwana alit atau sering juga disebut dengan  microkosmos.

Sekarang mari kita lihat masing-masing pemaknaan dari hari suci sugihan ini agar kita terhindar dari kesalahan dalam menjalankan hari Suci. Sugihan pengenten adalah hari dimana kita diingatkan untuk melakukan usaha atau upaya untuk mensucikan, kata pangenten berasal dari kata “enten”  yang artinya teringat, ingat dan diingatkan. Awalan pe menjadi penegas sehingga kata pengenten berarti hari dimana manusia diingatkan akan suatu hal dimana kemudian manusia diingatkan dengan hari itu untuk mulai melakukan rangkaian hari suci galungan. Hari ini dilakukan pada buda pon sungsang, yang dilakukan dengan cara yang sederhana yaitu dengan melakukan persembahyangan atau mempersembahkan punjung untuk menyatakan bahwa umat sudah mulai diingatkan dengan hari kemenangan sehingga perlu melakukan suatu proses atau tahapan-tahapan untuk merayakan hari suci galungan. Ada beberapa masyarakat melakukan sugihan pengenten dengan cara melakukan persembahyangan di sanggah dadya atau sanggah paibon dengan mempersembahkan beberapa banten yang tujuannya memuja Tuhan dalam manifestasi beliau sebagai Bhatara-Bhatari sebagai penganugerah kecemerlangan dengan menganugerahkan ketyagan pada umatnya. Kalau kita ihat di dalam Lontar Sundarigama, hari sugihan pengenten ini hampir tidak disebutkan, sehingga jarang masyarakat melakukannya, namun di beberapa desa di Bali masih melakukan ini sebagai kula dresta atau kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan dalam sebuah keluarga untuk melaksanakan hari suci.

Selanjutnya adalah Sugihan Jawa. Kata Jawa bisa diartikan sebagai jaba yang artinya luar. lingkungan luar dalam hal ini adalah sesuatu yang ada di luar badan.  Ada kekeliruan yang dilakukan oleh masyarakat terkait dengan hari suci ini dimana pada hari ini dilakukan pemujaan khusus bagi masyararakat yang berada di luar bali atau masyarakat yang berasal dari jawa dan tinggal di Bali. Hal ini sangat menyimpang dari makna sesungguhnya dimana kata luar yang dimaksudkan sesungguhnya adalah luar badan yaitu alam semesta ini. Seperti yang kita ketahui bahwa alam semesta ini dalam pandangan agama hindu ada dua, yaitu bhuwana agung atau yang disebut dengan alam semesta dan bhuwana alit atau yang disebut dengan mikrokosmos atau badan ini sendiri. Bahwa ada hubungan yang mesti selalu dijaga agar selalu harmonis antara alam besar dan alam kecil ini. Apapun yang kita lakukan di alam besar atau alam semesta maka hal itu pula yang akan terjadi pada alam kecil atau badan kita. Sugihan Jawa adalah hari dimana kita diharapkan melakukan pensucian atau parerebon atau parerebuan. Itulah sebabnya pada hari ini dilakukan pemujaan dengan mempersembahkan banten pangrebuan di sanggah kemulan dengan tujuan mendoakan alam semesta agar tersucikan dengan perayaan hari sugihan jawa itu. Makrokosmos dimana energi semesta kita dapatkan. Salah satunya adanya udara yang baik, sinar matahari, air, pertiwi dan ruang hampa yang baik untuk keseimbangan dalam kehidupan kita. Begitu pula tumbuh-tumbuhan yang baik sebagai unsur penghidup dan hewan-hewan yang semua mendukung kehidupan manusia. Keberadaan seluruh isi alam ini tidak bisa kita pisahkan peranannya dalam kehidupan kita, kitapun tidak bisa membalas atas segala jasa alam semesta dalam kelangsungan kehidupan yang diberikan kepada kita. Sehingga dengan demikian maka alam semestai ini mesti disucikan dengan cara-cara tertentu yaitu salah satunya dengan cara beritual. Selain itu untuk menjaga keseimbangan dan kesucian di alam semesta adalah dengan melakukan pemeliharaan terhadap isi alam, menjaga kebersihan, kelestarian, dan keberlangsungan kehidupan isi alam adalah cara lain selain ritual. Sugihan jawa sesungguhnya sebagai tonaggak kita untuk kembali kepemahaman bahwa kita tidak mampu hidup tanpa ada topangan dari alam semesta ini. Dengan kesadaran itulah kita mestinya terbangkitkan untuk menjaga dan memeliharan alam dengan segala isinya agar keseimbangan badan kita dengn alam terjalin baik dan bisa memperoleh kebaikan pula.

Selanjutnya adalah Hari Suci Sugihan Bali. Pada pengertian ini Bali diartikan sebagai dalam diri. Artinya bahwa pada hari ini kita melakukan pemujaan untuk memohonkan kerahayuan pada sang diri ini. Bahwa alam kecil yang namanya badan inilah yang memberikan kita menjadi hidup dan mengetahui indahnya dunia ini. Alam kecil ini pula sebagai mesin yang maha sempurna yang mesti kita rawat dan jaga agar selalu dalam kondisi baik. Sugihan bali sesungguhnya adalah hari dimana segala isi alam kecil ini dimuliakan dengan melakukan berbagai cara penyucian salah satunya adalah dengan melakukan penglukatan, tapa brata dan yoga semadhi untuk kebaikan badan sehingga bisa tersucikan. Hal ini pula kemudian kaan mampu memberikan kemudahan badan untuk meningkatkan kemampuan untuk menyerap energy positif dari alam. 
Banyak diantara kita yang salah menanggapi bahwa badan ini adalah mesin sempurna yang mesti dijaga keberlangsungannya. Banyak yang mencederai mesin kecil ini dengan merokok, minuman keras, narkoba, dan aktivitas buruk lainnya yang sesungguhnya memperlemah keberadaan badan utuk melakukan aktivitasnya. Kalau kita lihat beberapa untaian menawadharma sastra yang jelas menyatakan bahwa          “ Badan adalah alat untuk menjalankan Dharma, memenuhi Kama,mencari Artha dan untuk memperoleh Penyatuan”. Dari sloka ini sangat jelas bahwa badan kita adalah alat sempurna sebagai sarana untuk menjalankan dharma, lalu kenapa setiap hari kita melukai badan yang sempurna ini dengan hal-hal yang tak penting? Bukankah sebenarnya kita memuliakan alat yang digunakan untuk menjalankan dharma ini?. Bahwa dengan badan kita mampu memenuhi keingainan dan memperoleh harta. 

Maka adalah wajib dimana kemudian badan ini dipelihar dan dimuliakan terlebih badan ini pula yang nantinya akan mampu memberikan kita penyatuan kepada Brahman. Intinya sugihan bali adalah hari dimana badan ini kita muliakan untuk kemudian digunakan berkarma baik untuk mencapai kesejahteraan. Jadi sugihan itu adalah hari dimana kita diingatkan (pengenten), kita mesti melakukan penyucian alam semesta (sugihan jawa) dan selanjutnya mensucikan badan (sugihan bali), untuk kemudian kesucian itu kita gunakan menyambut Hari kemenangan yautu Galungan.



«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply

Redaksi Balikini.net menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di Balikini.net . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi Balikini.net akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.balikini.net