Yeh Gangga Kembangkan Konservasi Penyu Untuk Pariwisata - Bali Kini

Bali Kini

https://www.voaindonesia.com

Breaking News

Minggu, 08 Juli 2018

Yeh Gangga Kembangkan Konservasi Penyu Untuk Pariwisata

Tabanan,Balikini.Net -  Sejak tahun 2014 Yeh Gangga, yang terletak di Desa Sudimara, Kecamatan Tabanan telah membentuk kelompok masyarakat untuk melakukan konservasi penyu terutama penyelamatan telur hingga melepaskan tukik. Pantai yang berpasir hitam ini memang dikenal sebagai salah satu habitat bertelur penyu di Bali.

Hasil dari penetasan yang telah lama dilakoni masyarakat Yeh Gangga ini Pada Minggu, 8 Juli puluhan masyarakat melakukan pelepasan tukik dirangkai dengan kegiatan membersihkan pantai. 
Menuerut keliat banjar yeh Gangga I ketut Pindo  Kegiatan ini merupana spontan dari keinginan anak-anak surfing, Gangga Surf Comumity untuk membersihkan pantai dan pelepasan tukik .

Pelepasan 75 ekor tukik dilakukan sebagai daya tarik wisayean yang berkunjung di tempat ini  dan  saat ini ada sekitar 300 tukik yang ada di penangkaran dan akan dilepaskan ketika ada kegiatan di pantai Yeh Gangga. "Hal ini untuk mengembangkan potensi pantai, terutama untuk menarik wisatawan asing, karena mereka sangat senang demgan kegiatan komservasi alam," ujarnya.

Warga Banjar Yeh Gangga sudah memiliki kesadaran terkait penyelamatan penyu. Hal itu ditandai dengan penyerahan telur-telur penyu yang ditemukan kepada kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) konservasi penyu. "Jika ada uang saya kasi, jika tidak akan ditunda. Pemberian uang sebagai bentuk penghargaan kepada masyarakat. Nominalnya tidak tetap," terangnya. 

Pindo berencana akan mengenalkan tukik dan konservasi penyu ke sekolah-sekolah. Hal ini agar anak-anak memahami dan pada masa depan ikut menjaga kelestarian penyu yang kini semakin langka, namun semakin banyak diburu. "Mungkin kami mulai dengan anak-anak sekolah dasar," paparnya.

Untuk musim bertelur, di pantai Yeh Gangga sering dijumpai penyu bertelur mulai bulan April. Setiap sarang telur bisa didapati telur mulai 40 hingga 100 butir telur. Pindo menyebut, menurut penelitian dari 100 ekor tukik yang kembali ke laut hanya satu ekor yang bisa bertahan hidup sampai dewasa. 

"Itu pada kondisi alami, karena sejak telur, penyu sudah menghadapi predator. Makanya dengan konservasi kami berharap dapat meningkatkan populasi penyu," terangnya. [ag/r4]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi Balikini.net menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di Balikini.net . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi Balikini.net akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.balikini.net