Hari Perdamaian Dunia di Menumen Gong Perdamian - Bali Kini

Bali Kini

https://www.voaindonesia.com

Breaking News

Minggu, 23 September 2018

Hari Perdamaian Dunia di Menumen Gong Perdamian

Denpasar,Balikini.Net - Hari perdamaian dunia diperingati setiap tanggal 21 September. Tahun ini para pengusaha Bali memperingatinya dengan doa bersama dan sarasehan damai di Taman Gong Perdamaian Dunia Kertalangu, Denpasar. Hadir dalam acara tersebut, Ketua Kadin Bali A.A Ngurah Alit Wiraputra, SH, MH, Pemilik Gong Perdamaian Ketut Suardhana Linggih, dan beberapa ketua asosiasi pengusaha, para pengusaha, SC & OC Gema Perdamaian, serta mahasiswa dari perguruan tinggi di Bali. Hal tersebut disampaikan oleh koordinator acara Dr. dr. I Gusti Nyoman Darmaputra, SpKK. Sebagai narasumber dalam sarasehan tersebut Ida Rsi Acarya Waisnawa Agni Budha Wisesanatha, Prof. Dr. I Wayan Ramantha, S.E, M.M., CPA, Ak, dan Dr. A.A Tini Rusmini Gorda, S.H, M.M, M.H. 

Pengusaha tak sebatas sebagai pelaku ekonomi  tapi juga insan-insan yang  butuh kebahagiaan dan kedamaian. Hal tersebut dikatakan oleh guru besar Fakultas Eknonomi dan Busines (FEB) Uninversitas Udayana, Prof. Dr. I Wayan Ramantha, S.E, M.M., CPA, Ak, dalam sarasehan damai tokoh pengusaha se Bali Jumat (21/9) malam di Taman Gong Perdamaian Desa Budaya Kertalangu Denpasar. 

Ramantha melihat  tiga varian antara Kedamaian dan Ekonomi: (a) Varian sinergis,  nilai kedamaian bersinergi dengan nilai ekonomi, (b) Varian antitesis dan dialektis,  nilai kedamaian terhubung secara pradoksal dengan nilai ekonomi, (c) Varian partial-equivalence structure,  nilai kedamaian terkait secara simbiosis saling melengkapi, saling mengharapkan dan saling meningkatkan dengan nilai ekonomi. Menurutnya, kedamaian memerlukan kecukupan secara ekonomi. Karena kecukupan ekonomi akan bisa dicapai jika  ada kedamaian. 

Agama apa pun pasti sarat dengan  budaya dan  mengandung banyak sisi pemikiran ekonomi. Bila dikolaborasikan dengan  baik oleh pemerintah, pengusaha dan masyarakat, maka  akan lebih cepat dapat mengantarkan masyarakat ke arah kesejahteraan dan kebahagiaan. Karena konsep bahagia adalah sejahtera plus kepuasan secara lahiriah dan batiniah, fisikal dan spiritual, skala niskala. 

Hal itu ia dikatakan seiring dengan arah pengembangan ekonomi dunia menuju:  Orange Economy, yaitu: Ekonomi sebagai industri yang mengkombinasikan kreasi, produksi, serta komersialisasi konten kreatif yang tak berwujud dari alam, kebudayaan dan agama. 

Ketua BKOW Provinsi Bali, Dr. A.A Tini Rusmini Gorda, S.H, M.M, M.H, menekankan  makna perdamaian dengan dua kata kunci yakni Sabar dan Ikhlas. Tini Rusmini  mencontohkan dalam dunia pendidikan. Ia harus sabar dalam  beradaptasi dengan berbagai karakter karyawan, guru, dosen yang dikelola oleh pengusaha wanita ini agar bisa diterima di hati mereka.

"Sabar untuk bisa menerima semua karakter yang ada dan ikhlas jika semua yang saya harapkan tidak menjadi harapan banyak orang.  Semua pasti ada kadaluwarsanya, kita jalani saja semua ini dengan sabar dan ikhlas agar Damai, karena Damai itu sesungguhnya  sederhana",  pungkasnya. 

Sedangkan Ida Rsi Wisesanatha menyampaikan bahwa diri sejati kita bukanlah badan itu,  namun eksistensi kita pada saat menjadi manusia memiliki badan sebagai wadah diri sejati. Dalam kesadaran diri sejati (roh) kita akan memiliki intelegensia dan kebijaksanaan yang tinggi. Manakala tingkat kesadaran kita mencapai kesadaran roh, maka kesabaran, kebijaksanaan, dan rasa maklum menjadi sangat tinggi. Permasalahannya sekarang pada saat menjadi 
manusia ada amnesia, lupa kalau kita ini adalah roh. 

Ada 6 lapis pembungkus / dimensi yang menyelimuti diri sejati kita ini yakni  soul, will, compassion, pikiran dan ego, emosi dan badan itu sendiri. Ini yg harus dicerahkan terlebih dahulu dengan cara mengenali hukum alam dimasing-masing dimensi itu.  Setelah mengenali kelolalah karena ini merupakan perjalanan panjang manusia bahkan sampai bereinkarnasi berulang kali. Demikian dipaparkan oleh salah satu Steering Committee  Gema Perdamaian, Ida Rsi Wisesanatha di drpan ratusan pengusaha se Bali dalam Sarasehan Damai Pengusaha se Bali, 21 September lalu.

Menurut Ida Rsi Wisesanatha, struktur kesadaran yang membawa roh ini perlu dibangun sehingga kita dapat mengkonstruksi langkah-langkah kita kedepan dan menghargai perjalanan kita. "Dharma yang baik itu adalah dharma yg berdasarkan pengenalan hukum alam. bukan menghafal atapun mendogma, tetapi meneliti sumber pembelajaran masing-masing sehingga estetika dapat diciptakan" ujar Pembina Umum Paiketan Krama Bali ini. 

Lebih lanjut dijelaskan, keteraturan dan disiplin adalah dasar menuju pencerahan. Bermula dari keteraturan dan desiplin, masing-masing individu kemudian baru memulai mengenali dimensi badan, emosi, ego sampai kepada dimensi compassion terlebih dahulu, karena pintu gerbangnya adalah rasa cinta kasih (compassion).  

Menurut pria yang saat masih Walaka bernama Made Suryawan ini, dalam konteks damai kita harus selalu berada dalam kesadaran. Seperti yang dikatakan Steve Job "stay foolish stay hungry". Jangan merasa  paling suci, paling benar, dan paling pintar, sehingga muncul rasa arogansi menuding orang lain seolah-olah lebih bodoh dari kita, kemudian menuntut orang itu menjadi pintar dengan cara yang aneh-aneh. "Damai hanya ada kalau kita semua hormat kepada diri sendiri dan hormat kepada orang lain" ungkapnya (rls/r5).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi Balikini.net menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di Balikini.net . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi Balikini.net akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.balikini.net