Jangan Gengsi Cintai Joged - Bali Kini

Bali Kini

https://www.voaindonesia.com

Breaking News

Sabtu, 22 September 2018

Jangan Gengsi Cintai Joged

Bali kini - “Joged itu bukan sekadar tari pergaulan yang hanya diakui Bali bahkan UNESCO mengakui, generasi muda jangan menjauhi joged karena itu milik kita,” tutur Eva Anggreni selaku pembimbing garapan bertajuk Eling dari SMP PGRI 3 Denpasar.

Kalangan Madya Mandala Taman Budaya, Denpasar pada Jumat, 21 September 2018 kembali disemarakkan oleh garapan dari SMP PGRI 3 Denpasar dan SMP PGRI 2 Denpasar. Permasalahan dalam Tari Joged Bumbung tak hanya sebatas pada berkembangnya aliran joged tak wajar yang dikenal oleh masyarakat sebagai joged jaruh atau joged porno. Namun, kesadaran masyarakat untuk memerangi joged jaruh juga perlu menjadi sorot perhatian. “Joged jaruh yang mencemari joged bumbung jangan dijadikan alasan bahwa semua tari joged itu porno,” jelas Eva Anggreni. Sebagai seorang guru seni budaya, Eva paham betul bahwa Tari Joged sejatinya adalah tari pergaulan yang amat fleksibel dan klasik, sehingga pemahaman masyarakat akan joged bumbung dengan pakem-pakem yang asli perlu diingatkan, khususnya generasi muda yang akan meneruskan kelestarian budaya Bali. 
Melalui garapan teatrikal bertajuk Eling, SMP PGRI 3 Denpasar berusaha mengingatkan bahwa joged sebagai tari peragulan memiliki pakem-pakem tradisi khas yang patut dijaga. “Kebanyakan orang tua merasa resah kalau anaknya nonton joged, keresahan itu justru membuat anak muda semakin enggan untuk menonton joged,” keluh Eva. Melihat permasalahan itu, sebagai pembimbing Eva pun berusaha memberi pemahaman kepada siswa-siswinya bahwa kesenian joged bukanlah untuk dijauhi, melainkan kini kesenian joged tengah merindukan sosok pelestari. SMP PGRI 3 Denpasar yang dipimpin oleh I Made Suada ini pun tak hanya mempersembahkan garapan teatrikal, tari penyambutan khas SMP PGRI 3 Denpasar ‘Tari Aswelalita’ pun menjadi pembuka yang manis dan ramah. Garapan ini pun setidaknya melibatkan 70 orang siswa-siswi dari 7 (tujuh) ekstrakurikuler.
Mengangkat tema senada, SMP PGRI 2 Denpasar pun turut mengimbau bahwa keberadaan joged klasik perlu dilestarikan. “Bagaimana mengantisipasi joged porno, melawan joged porno dengan joged klasik itulah yang ingin kami sampaikan,” jelas Made Yudana selaku guru pengawas garapan SMP PGRI 2 Denpasar. Sekolah yang dipimpin oleh I Gede Wenten Aryasuda ini hanya menyiapkan 45 orang siswa dalam gelar Bali Mandara Nawanatya III dengan waktu persiapan hanya sebulan. Namun, Yudana pun mengungkapkan sumbangsih dana dari pemerintah untuk sekolah-sekolah perlu ditingkatkan guna menunjang garapan berkesenian para seniman muda.
Menepis joged jaruh kembali pada masyarakat Bali sendiri. Masyarakat Bali mutlak bertanya pada diri sendiri, “Sudahkah saya tidak gengsi mencintai joged?” Jawabannya patut dibuktikan dengan aksi bukan hanya sekadar ambisi agar Joged Bumbung klasik dengan pakem tradisi bukanlah hanya sekadar ilusi.
Bekal Untuk Melangkah
Keberadaan Bali Mandara Nawanatya III sebagai sarana berekspresi seniman muda dari berbagai sekolah di Bali pun turut dirasakan oleh Putu Lasmini, Kepala Sekolah TK Kartika VII-14. “Melangkah ke jenjang yang selanjutnya pasti memerlukan ketrampilan seni dan dari Nawanatya ini tak hanya anak TK semua kalangan pelajar se-Bali pun mendapatkan bekal untuk melangkah,” jelas Lasmini. Pementasan anak TK pada Bali Mandara Nawanatya III pada Jumat, 21 September 2018 berlangsung di Kalangan Angsoka Taman Budaya, Denpasar. TK Kartika VII-14 mempersembahkan 4 (empat) garapan diantaranya Tari Pendet, Tari Baris, Tari Gopala, dan Mapelalian Balapan Bakiak. Tak hanya TK Kartika VII-14, TK Lebah Sari yang dipimpin A.A Raka Sudani pun turut menuturkan hal senada, “Ini adalah sarana anak-anak mengenal budaya dan mengenal diri mereka dan teman-temannya,” jelas Sudani. Sebagai penampil kedua, TK Lebah Sari mempersembahkan 4 (empat) garapan yakni Dolanan Bebek Putih Jambul, Tari Puspanjali, Tari Jaranan, dan Tari Janger. Keduanya pun mengharapkan agar Nawanatya sebagai wadah berkesenian para pelajar se-Bali terus berlangsung dan dilanjutkan meski dengan nama atau waktu yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi Balikini.net menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di Balikini.net . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi Balikini.net akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.balikini.net