Nawanatya, Menyentuh Rasa Generasi Muda - Bali Kini

Bali Kini

https://www.voaindonesia.com

Breaking News

Senin, 24 September 2018

Nawanatya, Menyentuh Rasa Generasi Muda

Denpasar,Balikini.Net -  “Anak-anak itu sebenarnya mampu, mereka tidak hanya bermain hp. Adanya Nawanatya inilah yang menyentuh rasa mereka,” ujar I Wayan Budamani dengan gurat wajah serius. Sebagai seorang pembina Budamani tak menuntut kesempurnaan, namun sentuhan rasa kebahagiaan berkesenian adalah yang utama.

Budamani yang menjadi pembina garapan Cak SMAN 1 Tegalalang ini membina 156 orang siswa dalam kurun waktu 33 hari. Kesempatan menjadi penampil dalam Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya III membuat Budamani tidak ingin main-main dalam menggarap. “Yang kami angkat sekarang itu adalah tradisi khas Tegalalang yakni Ngerebeg,” jelas Budamani. Menurut Budamani, Ngerebeg merupakan sebuah tradisi yang sangat cocok diangkat sebagai sebuah kisah dalam cak. “Ada nyanyiannya, ada mesuryaknya, jadi saya pun melihat Ngerebeg ini tepat sekali diangkat menjadi garapan cak,” tambah Budamani. Ngerebeg merupakan sebuah tradisi unik dari daerah Tegalalang yang dahulu bernama Kushara Jenggala. Suasana riuh dan riang gembira dipancarkan anak-anak, remaja, dan warga desa yang bermula dari kisah Ida Dwagung Made yakni putra mahkota kedua Dalem Sukawati yang mendapatkan pencerahan setelah bertapa untuk mendirikan sebuah pura dekat pohon beringin. Sayangnya, para wong samar yang telah lama bersemayam di lokasi bakal pura pun merasa terusik dan akhirnya para wong samar pun turut dilibatkan dalam prosesi ritual pembuatan pura dan berdamai dengat umat manusia.

Parade Cak yang kali ini pada Sabtu, 22 September 2018 seperti biasanya menghuni Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya, Denpasar disemarakkan oleh SMAN 1 Tegalalang dan SMAN 1 Abiansemal. Ngerebeg sendiri menjadi kisah kedua yang tampil. Keunikan garapan cak SMAN 1 Tegalalang terlihat pada pakem tradisi yang masih kental. Para penampil tak memiliki lakon khusus dengan kostum yang berbeda. Semuanya masih serentak dengan kain poleng (hitam dan putih-red) yang membalut para penari cak. Para penari cak SMAN 1 Tegalalang memberikan kejutan dengan mewarnai punggung ditengah-tengah penampilan sebagai wujud dari kemunculan wong samar. Tak hanya itu, kemunculan barong landung yang dibuat siswa-siswi SMAN 1 Tegalalang sebagai wujud yang dipuja dalam pura dekat pohon beringin itupun menambah suasana mistis sekaligus semarak. Meski kental akan tradisi, namun menurut A.A Sagung Mas Ruscita Dewi sebagai pengamat Bali Mandara Nawanatya III menuturkan, tempo permainan garapan Ngerebeg ini pun masih cukup lambat. “Karena ceritanya adalah upacara, maka banyak bagian dari adegan cak yg temponya lambat, tapi sangat inovatif,” jelas Mas Ruscita. Bagi Mas, garapan dari SMAN 1 Tegalalang perlu meningkatkan permainan bunyi dan kedinamisannya.

Sebelumnya, SMAN 1 Abiansemal yang menjadi penampil pertama membawakan garapan cak bertajuk Sunda Upasunda. “Kisah ini memang tidak asing, hanya saja kami ingin mengungkapkan yang benar bahwa inilah kisah Sunda Upasunda yang sebenarnya,” jelas Ida Bagus Nyoman Mas selaku penata cak SMAN 1 Abiansemal. Sebelumnya, tak sedikit masyarakat yang terpelintir dengan kisah ini. Sunda Upasunda yang merupakan saudara dari kaum raksasa ini pun sejatinya digoda oleh para bidadari saat mereka mabuk, bukan saat bertapa. Kebenaran inilah yang ingin disampaikan oleh SMAN 1 Abiansemal. Berbeda dengan SMAN 1 Tegalalang, SMAN 1 Abiansemal memiliki lakon khusus yang dibalut dengan kostum tertentu sesuai perannya. Sehingga emosi yang mengalir dalam garapan Cak Sunda Upasunda pun sangat terasa. “Bagaimana dia membagi alur permainan bunyi, lambat, cepat, sedang, dan emosinya pun juga terasa,” terang Mas Ruscita mengomentari garapan SMAN 1 Abiansemal.

Pada akhirnya semua kembali pada penuturan Budamani diawal. Bukan sebuah kesempurnaan garapan yang menjadi acuan. Rasa semangat berkesenian, kegembiraan, dan kecintaan akan budaya justru menjadi kunci utamanya. Nawanatya yang menjadi sebuah wadah berbagi rasa inilah diharapkan keberlanjutannya agar selalu dapat memberikan sentuhan ‘rasa’ itu.[rls/r5]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi Balikini.net menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di Balikini.net . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi Balikini.net akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.balikini.net