Puncak Karya di Pura Penataran Agung Desa Adat Nangka Dipuput Delapan Ida Pedanda - Bali Kini

Bali Kini

https://www.voaindonesia.com

Breaking News

Senin, 24 September 2018

Puncak Karya di Pura Penataran Agung Desa Adat Nangka Dipuput Delapan Ida Pedanda

AMLAPURA,Balikini.Net - Bertepatan dengan hari Purnama kapat, upacara karya memungkah, ngenteg Linggih,juga dilanjutkan dengan peresmian Pura setelah dilakukan renovasi besar-besaran. Peresmian itu sendiri dilakukan oleh Dirjen Bimas Hindu,Prof. DR. I Ketut Widnya serta Bupati Karangasem, IGA Mas Sumatri, Senin (24/9) kemarin. 

Ketua Panitia Karya, Ida Made Alit, menyampaikan, keberadaan Pura penataran sebagai stana Ida Betara Gunung Agung baru dilakukan renovasi secara besar-besaran. Renovasi dilakukan mengingat keberadaan Pura belum pernah direnovasi sejak ratusan tahun lalu, atau sekitar abad 17 lalu. Itupun, kata Ida Made Alit, karena saat itu status gunung agung mengalami peningkatan. "Perencanaannya setelah Gunung Agung berstatus awas," ujarnya. 

Ida Made Alit mengatakan,sebelum menggelar upacara ini, pihak panitia terlebih dahulu melakukan pemugaran Pura dengan tidak menghilangkan bentuk aslinya. Ia pun mengatakan,pembangunan Pura berlangsung selama lima bulan. Namun, rencana pemelaspasan yang direncanakan pada awal bulan September menjadi buyar karena kembali di guncang gempa yang membuat beberapa palinggih mengalami kerusakan. "Pemelaspasan sempat mundur, namun puncak karya tetap hari ini," ujarnya lagi. 

Ida Made Alit mengatakan, upacara karya melaspas, Mamungkah,ngenteg linggih, padudusan agung dan tabuh gentuh menelan biaya mencapai Rp 1.2 miliar. Dana itu selain bantuan dari pemerintah daerah Karangasem juga partisipasi masyarakat Hindu. Sedangkan, dana pemugaran Pura menelan dana Rp 4 Miliar. Sehingga total dana yang dikucurkan oleh pemkab Karangasem melalui dana Bantuan  Keuangan Khusus (BKK) Kabupaten Karangasem. "Dari pemerintah Kabupaten Anggaranya Rp 5.2 Miliar, dipakai untuk pemugaran dan upacara, selain memang partisisipasi masyarakat Karangasem sangat luar biasa, gotong royong dalam mempersiapkan upakara," ujarnya. 


Sementara itu Bupati Karangasem, IGA Mas Sumatri menyampaikan, moment hari ini sangat bersejarah mengingat cita-cita leluhur dahulu yang belum bisa menyelesaikan pembangunan Pura dan upacaranya sehingga hari ini bisa terlaksana. Pura kahyangan jagad Penataran Agung Nangka sendiri merupakan warisan leluhur yang harus tetap dijaga. "Cita-cita dari raja dahulu untuk menuntaskan pembangunan Pura belum terwujud, namun baru bisa terwujud tahun ini," ujar bupati. 


Bupati IGA Mas Sumatri juga berharap suport dari seluruh umat Hindu dimana pun berada sehingga kedepanya Pura ini bisa dilengkapi. Bupati menyebut, beberapa fasilitas penunjang yang belum dibangun seperti Dapur suci, pasraman pemangku atau pinandita,serta parkir sebagai fasilitas kepada pemedek. "Kami mohon kepada umat hindu dimanapun berada untuk memberikan suport pembangunan kelanjutan Pura ini," ujarnya. 

Sedangkan, Dirjen Bimas Hindu, Prof. DR. I Ketut Widnya menyampaikan, kabupaten Karangasem memiliki Pura-Pura yang berkaitan dengan Gunung Agung.  Untuk hal itu, sudah saatnya Universitas-Universitas Hindu melakukan penelitian mengapa para leluhur kita dulu membangun Pura di sekitaran Gunung agung. Ia pun menyebut, Karangasem sebagai pusat peradaban sehingga sekarang harus meneruskan peradaban itu. "Saya kira banyak Pura-Pura yang belum kita temukan yang ada di sekitaran Gunung Agung," ujarnya. 

Puncak Karya mamungkah, Ngenteg Linggih,Padudusan Agung, Mapeselang dan Pedanan di Pura Penataran Agung Desa Adat Nangka, Linggih Ida Betara Gunung Agung sendiri dipuput oleh delapan Pedanda, yakni Ida Pedanda Nyoman Jelantik Dwaja dari Geria Dauh Pasar, Budakeling. Ida Pedanda Gde Wayan Pasuruan dari Geria Kawan, Sibetan. Ida Pedanda Jelantik Karanga dari Geria Karang, Budakeling, Ida Pedanda Gde Pinatih Pasuruan dari Geria Jungutan, Ida Pedanda Gde Jelantik Padang dari Geria Padang Taman Tanjung, Budakeling, Ida Pedanda Gde Wayan Demung, dari Geria Demung, Budakeling, Ida Pedanda Gde Putra Manuaba, Geria Bungaya, Desa Bungaya Kangin, dan Ida Pedanda Gde Ketut Pinatih Pasuruan dari Geria Ulon,Jungutan. [krs/r6]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi Balikini.net menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di Balikini.net . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi Balikini.net akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.balikini.net