Wacana Penutupan Toko Jaringan Mafia Tiongkok Berdampak Pada Pelaku Usaha - Bali Kini

Bali Kini

https://www.voaindonesia.com

Breaking News

Selasa, 13 November 2018

Wacana Penutupan Toko Jaringan Mafia Tiongkok Berdampak Pada Pelaku Usaha

Denpasar,balikini.net-Langkah tegas Pemprov dan DPRD Bali untuk berupaya menertibkan serta menutup Toko Jaringan “mafia” Tiongkok, tampaknya berdampak pada usaha-usaha pariwisata lain di Bali. Hal ini terungkap dalam penyampaian aspirasi dari sekelompok pelaku pariwisata di DPRD Bali.

Sekitar 50 orang datang ke DPRD Bali, mereka adalah pemilik travel agent OKB Kris alias Rusli Wisanto, Pengusaha yang bergerak di Nusa Penida Putu Darmaya, Pemilik Desa Rafting Made Setiawan, Tokoh Pramuwisata Hongkong Handi, termasuk pegawai – pegawai rumah makan, yang pemiliknya orang Tiongkok seperti Great Hot Shark Hot Pot dan lainnya.

Para pelaku usaha mengaku menurun pendapatannya sejak adanya sidak dan rencana penutupan tersebut. Usaha-usaha yang dimaksud seperti SPA, Warung Babi Guling, dan Swing. Seperti yang diungkapkan oleh Kris, salah satu pelaku usaha. Dirinya mengaku mengalami kerugian hingga ratusan juta. “Saya merasakan dengan langkah penutupan ini, saya langsung rugi dari satu penerbangan Rp. 600 juta. Karena toko – toko itu langsung menyetop subsidinya, sedangkan saya sudah kontrak dengan travel agent Tiongkok,” keluh Kris.

Bahkan, dirinya menyebutkan bahwa selama ini memang ada subsidi dari Toko Jaringan Mafia Tiongkok. Nilainya sekitar Rp. 2,5 Juta per orang. Syaratnya, wisatawan harus masuk berbelanjut di toko-toko tersebut. “Satu kepala bisa Rp 2,5 juta disubsidi oleh toko, setelah ada wacana penutupan, akhirnya langsung subsidi dicabut, sepihak, saya rugi saat pesawat lending Rp 600 juta, dan aka nada lanjutanya lagi,” terangnya.

Berbeda dengan salah satu Tokoh Pramuwisata bernama Handi. Ia menyarankan agar ada kerjasama dengan jaringan mafia. Supaya usaha-usaha di Bali bisa berkembang. “Memang mereka jaringan mafia, namun kita di Bali semestinya bekerjasama dengan baik dengan mafia itu. Karena uangnya banyak sekali,” tandasnya.

Menurutnya, walaupun jaringan Mafia Tiongkok illegal dan bermasalah, namun akan memberikan dampak ekonomi bagi Bali. “Mafia itu bangun toko, bangun jaringan, kemudian subsidi ke wisatawan ke Bali. Kemudian banyak wisatawan Tiongkok datang, ini yang membuat pariwisata Bali hidup. Jadi, Bali perlu mafia ini, uangnya mereka triliun dan bisnisnya mereka membangun jaringan toko model di Bali, di seluruh Dunia,” kata dia.

Menyikpai hal itu, Ketua Komisi IV DPRD Bali Nyoman Parta yang menerima aspirasi para pelaku usaha-usaha tersebut mengatakan, tak menduga jika langkah tegas terhadap penutupan itu akan memiliki dampak lain. “Ternyata sikap ini memberikan dampak ekses yang lain. Diluar dugaan kita ada wisatawan yang suka ayunan Swing, karyawannya orang local. Wisatawan Cina suka nakan Babi Guling juga,” katanya.

Mengenai adanya subsidi yang disebutkan per orang mencapai Rp. 2,5 Juta, Parta tak habis pikir dan mempertanyakan asal subsidi. “Kok bisa toko subsidi sebanyak itu? Ada apa dibalik ini?,” Tanya dia.

Dirinya juga menanyakan kenapa para pelaku usaha-usaha tersebut bekerja sama dengan jaringan toko yang illegal. Padahal, sudah jelas-jelas hal itu akan menimbulkan masalah. “Kenapa mau kerjasama dengan toko – toko yang tidak ada izin, binis bermasalah. Ditutup di Tiongkok, Thailand ke Bali juga bermasalah. Kalaupun sekarang disebut mau bangun di Manado, Bintan, nanti disana juga bermasalah,” cecarnya.

Begitu juga dengan saran agar Bali bekerjasama dengan jaringan Mafia langsung dibantah keras oleh Parta. Dengan tegas, Parta menyatakan bahwa Bali tak perlu pemain ataupun pebisnis nakal. “Kalau jenis mafia, dia untung kemudian setelah banyak untung pergi. Kami perlu yang mau menjaga Bali, menjaga dan merawat budaya Bali,” tegasnya.

Diakhir pertemuan, disimpuulkan bahwa DPRD Bali dan Gubernur beserta Bupati/Walikota akan tetap melakukan penutupan usaha tak berizin terhadap jaringan toko Tiongkok. Kemudian terkait yang berizin, dengan posisi sudah banyak masalah dan merusak citra pariwisata Bali, juga akan ditutup semuanya. Selanjutnya, akan dilakukan penataan supaya ada perbaikan mendasar. “Kami tidak ada niat lain, selain untuk kebaikan Bali kedepan. mari dukung sama – sama, untuk ditutup dulu kemudian ditata, untuk lebih bagus dan bisa beraktivitas lagi, dengan ketentuan aturan berlaku,” pungkasnya. Dp/r2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi Balikini.net menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di Balikini.net . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi Balikini.net akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.balikini.net