Laporan Reporter: Gusti Ayu Purnamiasih
KARANGASEM. BALI KINI — Memasuki pelaksanaan Aci Usabha Sambah atau bulan kelima dalam penanggalan adat, warga Desa Adat Tenganan Dauh Tukad kembali menggelar tradisi unik bertajuk perang pisang. Tradisi turun-temurun ini menjadi bagian penting dalam rangkaian upacara adat sekaligus simbol ujian mental dan fisik bagi calon pemimpin pemuda desa. Di Desa Tenganan Dauh Tujad, Kecamatan Manggis, Karangasem.
Sejak pagi, puluhan teruna atau pemuda desa telah berkumpul di depan Pura Dalem desa setempat untuk mempersiapkan pikulan berisi dua puluh butir kelapa dan dua sisir pisang kepok mentah yang akan digunakan dalam tradisi perang pisang.
Setelah suara kulkul dibunyikan, dua calon pemimpin pemuda desa yang disebut saye dan penampih melakukan persembahyangan di Pura Dalem Setra sebagai tanda dimulainya ritual adat tersebut.
Usai sembahyang, kedua calon pemimpin kemudian keluar sambil memikul keranjang berisi berbagai hasil bumi seperti buah-buahan dan palawija milik warga desa adat. Kemunculan saye dan penampih langsung disambut sorakan puluhan teruna yang menjadi penanda dimulainya perang pisang.
Dengan memikul kelapa di pundak, para pemuda kemudian menyerang dua calon pemimpin tersebut menggunakan lemparan pisang kepok mentah. Suasana perang adat berlangsung sengit ketika saye dan penampih membalas serangan dengan melempar buah dan palawija ke arah para pemuda.
Tradisi perang pisang dinyatakan selesai ketika kedua calon pemimpin berhasil melewati pelataran Pura Puseh menuju Pura Bale Agung desa adat setempat.
Klian Desa Adat Tenganan Dauh Tukad, I Wayan Tisna mengatakan tradisi perang pisang merupakan warisan leluhur yang terus dijaga masyarakat adat sebagai bagian dari pelaksanaan Usabha Sambah.
“Tradisi ini bukan sekadar perang-perangan biasa, tetapi memiliki makna mendalam, mencari calon pemimpin, dimana sebelum menjadi pemimpin maka akan diuji mental, fisik, keberanian, dan tanggung jawab calon pemimpin Seka Truna. Apakah nanti dia akan menangis, cengeng, tabah dan sebagainya akan terlihat ketika dia menjadi sasaran tembak perang pisang ini, dan siapapun yang bisa melewati ujian ini maka ia yang akan menjadi pemimpin seka truna,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh hasil bumi yang digunakan dalam tradisi tersebut nantinya tetap dimanfaatkan dan tidak dibuang percuma.
“Pisang yang digunakan dalam perang nanti direbus lalu dibuat urap untuk dibagikan kepada anak-anak. Jadi ada nilai kebersamaan dan rasa syukur yang terus dijaga,” tambahnya.
Tradisi perang pisang ini digelar setiap pelaksanaan Usabha Sambah sebagai bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen kebun yang melimpah. Selain itu, tradisi ini juga dimaknai sebagai ujian keberanian, mental, dan fisik bagi calon pemimpin pemuda desa adat.
Usai perang berlangsung, pisang-pisang yang digunakan tidak dibuang begitu saja. Pisang tersebut kemudian direbus dan diolah menjadi urap untuk disantap bersama anak-anak desa. (ami)
FOLLOW THE BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram