Laporan reporter: Gusti Ayu Purnamiasih
Karangasem, Bali Kini – Layanan Hemodialisis (HD) atau cuci darah di RSUD Kabupaten Karangasem terus berada dalam kondisi penuh setiap hari. Tingginya jumlah pasien tidak sebanding dengan ketersediaan mesin, sehingga antrean panjang dan rujukan ke luar daerah masih terjadi.
Direktur RSUD Karangasem, Angga Wirayoga, mengatakan jumlah pasien cuci darah di Kabupaten Karangasem saat ini mencapai sekitar 160 orang. Setiap pasien harus menjalani terapi secara rutin dua kali dalam seminggu atau sekitar delapan kali dalam sebulan, sehingga dalam satu hari sedikitnya 50 pasien membutuhkan layanan HD.
“Saat ini kami hanya mampu melayani sekitar 50–60 pasien per hari dengan dua sif, pagi dan sore. Itu sudah maksimal dengan kondisi alat yang ada,” ujar Angga.
RSUD Karangasem memiliki 32 mesin Hemodialisis, namun dua unit merupakan mesin cadangan, sehingga yang aktif digunakan hanya 30 mesin. Dengan jumlah tersebut, pelayanan belum mampu menjangkau seluruh kebutuhan pasien.
“Secara ideal, melihat potensi jumlah pasien dan antrean yang ada, kami membutuhkan sekitar 70 mesin HD agar pelayanan bisa optimal. Jika jumlah itu terpenuhi dan dikalikan dua sif, maka 140 pasien per hari bisa kami layani,” jelasnya.
Angga menambahkan, hingga saat ini masih terdapat sekitar tujuh pasien dalam antrean, sementara hampir 25 pasien terpaksa dirujuk ke rumah sakit di luar Kabupaten Karangasem.
“Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi kami,” tegasnya.
Sementara itu, Koordinator Instalasi Hemodialisa RSUD Karangasem, dr. Nengah Suardika, menjelaskan sebagian besar pasien gagal ginjal yang menjalani cuci darah disebabkan oleh penyakit kronis yang erat kaitannya dengan pola hidup.
“Penyebab paling umum adalah kencing manis (diabetes) dan hipertensi. Ada juga pasien dengan batu ginjal, di mana pada kasus tertentu ginjal masih bisa berfungsi kembali setelah batu diangkat. Asam urat juga menjadi faktor risiko,” jelas Nengah Suardika.
Ia menegaskan pentingnya pencegahan sejak dini dengan memperbaiki pola hidup masyarakat, terutama pengendalian tekanan darah, gula darah, dan pola makan.
Selain itu, RSUD Karangasem juga melayani pasien usia muda. “Ada pasien usia sekitar 17 tahun yang menjalani cuci darah. Namun untuk pasien di bawah 17 tahun, biasanya kami rujuk ke rumah sakit lain karena belum memiliki tabung khusus pengganti ginjal untuk anak-anak,” ungkapnya.
Pada beberapa kasus, seperti pasien dengan batu ginjal, tindakan cuci darah dilakukan sementara sebelum penanganan lanjutan.
Setiap sesi hemodialisis di RSUD Karangasem berlangsung selama sekitar lima jam, dan seluruh pasien telah masuk dalam jadwal rutin dan reguler, yakni dua kali dalam seminggu.
“Dengan kondisi pasien yang terus bertambah dan layanan yang selalu penuh, pengembangan instalasi hemodialisis menjadi kebutuhan mendesak,” pungkas Suardika.
FOLLOW THE BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram