Bali Kini
Ads
Kabar Denpasar
Kabar Tabanan
Kabar Klungkung
Kabar Jembrana
Kamis, 13 Agustus 2026
BaliKini.Net
Krama Rantau Tetap Dilibatkan, Desa Adat Selumbung Susun Aturan Pemilihan Kelian Secara Daring
Laporan reporter: Gusti Ayu Purnamiasih
KARANGASEM, Bali Kini — Desa Adat Selumbung (DAS), Kecamatan Manggis, Karangasem, menggelar Paruman Desa Adat, Sabtu (9/8/2026). Paruman ini menjadi momentum penting untuk membahas status krama rantau sekaligus menyusun perarem mengenai mekanisme ngadegang atau pemilihan Kelian Desa Adat Selumbung.
Paruman diikuti krama dari lima banjar adat. Dalam proses penyusunan perarem, krama yang sedang berada di perantauan juga diberikan kesempatan untuk mengikuti pembahasan secara daring. Pelibatan krama rantau melalui teknologi ini menjadi bentuk adaptasi desa adat terhadap perkembangan zaman, tanpa menghilangkan prinsip musyawarah dalam pengambilan keputusan adat.
Penglingsir Desa Adat Selumbung, Made Toya Cahya Surya, mengatakan pelaksanaan paruman telah dipersiapkan cukup panjang. Persiapan tersebut dilakukan sejak Juni 2025.
Sementara, Ketua Panitia Paruman Desa Adat Selumbung, I Ketut Sujata, menjelaskan proses persiapan secara kelembagaan dimulai dengan terbentuknya Parayogya sementara pada 7 Desember 2025.
Parayogya sementara tersebut kemudian mulai merancang dan merinci kebutuhan pelaksanaan paruman. Selanjutnya, pada 29 Maret 2026 dibentuk panitia paruman yang di dalamnya turut melibatkan Parayogya.
Pembentukan tersebut tidak terlepas dari dasar hukum adat yang masih digunakan Desa Adat Selumbung. Hingga saat ini, Desa Adat Selumbung masih berpedoman pada awig-awig tahun 1980. Dalam awig-awig tersebut, kewenangan untuk melaksanakan paruman di Desa Adat Selumbung berada pada Parayogya.
“Di dalam awig-awig itu, yang berwenang melaksanakan paruman di Desa Adat Selumbung adalah Parayogya. Karena di dalam awig-awig lama itu belum ada pengertian kepala desa atau bendesa seperti sekarang,” jelasnya.
Menurutnya, panitia paruman kemudian dibentuk atas inisiatif Sesa dan Bendesa dengan melibatkan para penglingsir. Pembentukan panitia tersebut menjadi bagian dari proses untuk memastikan paruman dapat terlaksana sesuai tatanan adat yang berlaku.
Ia mengatakan, paruman memiliki sejumlah tujuan. Dalam jangka pendek, paruman diarahkan untuk menyelesaikan micara desa serta proses ngadegang Kelian Desa Adat.
Untuk jangka menengah, paruman diharapkan dapat mengembalikan tata kelola Desa Adat Selumbung sesuai dengan sempat petitis, awig-awig 1980, serta aturan hukum adat lainnya.
“Tujuan jangka panjangnya adalah menguatkan kelembagaan hukum adat, tradisi, budaya dan adat, sehingga diharapkan tercapai masyarakat yang berkeadilan, sejahtera dan damai,” katanya.
Selain membahas tata kelola desa adat, paruman juga menjadi momentum untuk mengingat kembali sejarah Desa Adat Selumbung. Berdasarkan penuturan dalam paruman, keberadaan desa adat tersebut memiliki sejarah panjang yang disebut telah dimulai sejak 1177.
Pada awalnya, desa tersebut dikenal dengan nama Desa Lumbung. Sejumlah penglingsir dari Palumbung, Lubangan dan Remintan disebut menjadi bagian dari tokoh yang menginisiasi berdirinya desa tersebut.
Dalam perjalanan sejarahnya, setelah pembangunan Kahyangan Tiga dan pura yang menjadi bagian penting dari desa, nama Desa Lumbung kemudian berubah menjadi Selumbung pada 1398.
Nama Selumbung sendiri dimaknai memiliki filosofi tersendiri. “Selang” dimaknai sebagai waras atau sehat jasmani dan rohani, sedangkan “bung” dimaknai sebagai kesejahteraan dan kemakmuran. Filosofi tersebut menjadi gambaran cita-cita leluhur terhadap kehidupan masyarakat Desa Adat Selumbung.
Dalam menghadapi dinamika kehidupan desa adat, prinsip-prinsip adat seperti paras-paros, gilik saguluk, salunglung sabayantaka, serta saling asah, saling asih dan saling asuh kembali ditekankan.
Prinsip tersebut diharapkan menjadi landasan dalam pelaksanaan paruman, terutama dalam menyelesaikan berbagai persoalan desa adat melalui musyawarah dan kebersamaan.
Paruman Desa Adat Selumbung pun diharapkan tidak hanya menghasilkan aturan mengenai kepemimpinan desa adat, tetapi juga menjadi langkah untuk memperkuat kembali kelembagaan adat sekaligus menjaga warisan nilai dan tradisi leluhur di tengah perubahan zaman. (Ami)
BaliKini.Net
K9 Baru-Willem Curi Perhatian di Pameran HUT RI
Laporan reporter: Gusti Ayu Purnamiasih
Karangasem, Bali Kini — Kehadiran dua anjing pelacak (K9) bernama Baru dan Willem menjadi daya tarik tersendiri dalam Pameran Pembangunan dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Karangasem. Keduanya tampil dalam demonstrasi kemampuan mendeteksi narkotika yang digelar Unit Deteksi K9 BNNP Bali.
Aksi dua anjing pelacak terlatih ini mendapat perhatian pengunjung pameran. Baru dan Willem diketahui memiliki kemampuan mendeteksi sejumlah jenis narkotika, di antaranya ganja dan sabu.
Demonstrasi tersebut digelar bersamaan dengan kehadiran BNNK Karangasem dalam Pameran Pembangunan, Rabu (12/8). Melalui stand yang dibuka selama pameran, BNNK Karangasem memberikan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.
Selain menyaksikan demonstrasi K9, pengunjung juga dapat memperoleh informasi mengenai berbagai layanan BNNK Karangasem. Di antaranya layanan Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Narkotika (SKHPN), sosialisasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN), serta layanan rehabilitasi.
Stand BNNK Karangasem juga dilengkapi berbagai media edukasi. Pengunjung dapat melihat contoh narkotika dan zat berbahaya (natoksin), serta memperoleh informasi P4GN melalui videotron portabel.
BNNK Karangasem turut memperkenalkan inovasi B’Suk Desa yang menjadi salah satu upaya mendekatkan program dan layanan P4GN hingga ke tingkat desa. Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang bersih dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.
Demonstrasi Baru dan Willem memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai pemanfaatan satwa terlatih dalam mendukung tugas petugas mendeteksi keberadaan narkotika yang disembunyikan di berbagai tempat maupun barang bawaan.
Keberadaan K9 juga menjadi salah satu instrumen pendukung dalam pengawasan dan pemeriksaan terhadap potensi peredaran narkotika, termasuk di sejumlah akses masuk wilayah Bali.
BNNK Karangasem mengajak masyarakat turut memperkuat upaya P4GN mulai dari lingkungan keluarga, pendidikan, desa, hingga seluruh elemen masyarakat. Masyarakat juga diimbau memanfaatkan layanan BNNK Karangasem, khususnya untuk informasi pencegahan, pemeriksaan narkotika maupun rehabilitasi. (Ami)
BaliKini.Net
Wali Kota Jaya Negara Ikuti Prosesi Ngratep, Mlaspas dan Pasupati Pelawatan Ida Bhatara Pura Puseh Desa Adat Sumerta
Denpasar, Bali Kini - Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara mengikuti prosesi Ngratep, Mlaspas dan Pasupati Pelawatan Ida Bhatara Pura Puseh Desa Adat Sumerta bertepatan dengan Rahina Tilem Karo, Rabu (12/8) petang.
Tampak krama adat setempat dengan khidmat mengikuti setiap prosesi Ngratep, Mlaspas dan Pasupati Pelawatan Ida Bhatara Pura Puseh Desa Adat Sumerta.
Turut hadir Anggota DPRD Kota Denpasar, I Made Mudra, Camat Denpasar Timur, Ni Ketut Sri Karyawati serta seluruh krama Desa Adat Sumerta.
Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara dalam kesempatan tersebut mengatakan, Upacara Ngratep, Mlaspas dan Pasupati Pelawatan Ida Bhatara Pura Puseh Desa Adat Sumerta ini merupakan momentum bagi seluruh masyarakat setempat untuk senantiasa eling dan meningkatkan Srada Bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Sehingga menjadi jalan menjaga keharmonisan antara Parahyangan, Palemahan, dan Pawongan sebagai impelementasi dari Tri Hita Karana.
"Dengan pelaksanaan upacara ini mari kita tingkatkan Sradha Bhakti sebagai upaya menjaga harmonisasi sebagai impelementasi Tri Hita Karana sejalan juga dengan spiirit Kota Denpasar yakni Vasudhaiva Kutumbakam," ujar Jaya Negara.
Sementara Kelihan Penyatusan Pengamong Pura Puseh Desa Adat Sumerta, I Made Budiarta mengatakan bahwa upacara Ngratep, Mlaspas dan Pasupati Pelawatan Ida Bhatara Pura Puseh Desa Adat Sumerta ini dilaksanakan setelah proses pembenahan Pelawatan Ida Bhatara Pura Setempat tuntas dilaksanakan. Upacara ini sendiri dipuput oleh Ida Pedanda Griya Tegal Jingga.
"Proses pengerjaan perbaikan telah dilaksanakan beberapa waktu yang lalu. Dimana, setelah tuntas dikerjakan, dilanjutkan dengan proses Ngratep, Melaspas dan Pasupati. Setelah itu turut dilaksanakan Upacara Nyangcang di Setra Adat Sumerta yang dilanjutkan dengan Upacara Melasti," paparnya.
Dikatakannya, upakara ini merupakan wujud sradha dan bhakti krama Desa Adat Sumerta kepada Ida Bhatara Sesuhunan. "Hal ini tentunya diharapkan dapat memberikan anugerah kesejahteraan, kebaikan serta kemakmuran bagi seluruh krama desa," ujarnya.(humas.dps/esa-gita).
BaliKini.Net
Keluarga Penumpang Masih Datangi Posko KMP Putri Yasmin, Satu Anggota Keluarga Belum Ditemukan
Laporan reporter; Gusti Ayu Purnamiasih
Karangasem, Bali Kini — Sejumlah keluarga penumpang KMP Putri Yasmin masih mendatangi Pelabuhan Padangbai, Karangasem, untuk mencari informasi terkait keberadaan sanak keluarga mereka yang menjadi penumpang kapal yang mengalami kebakaran saat berlayar menuju Lembar, Lombok Barat, Rabu (12/8/2026).
Para keluarga mendatangi posko pelayanan KMP Putri Yasmin yang dibuka di kawasan Pelabuhan Padangbai. Mereka berharap mendapatkan kepastian mengenai kondisi dan keberadaan anggota keluarga yang hingga kini belum diketahui.
Salah satu keluarga penumpang, Feri, mengaku kehilangan kontak dengan lima orang anggota keluarganya yang sebelumnya berangkat menggunakan KMP Putri Yasmin menuju Lombok.
Dari lima anggota keluarganya tersebut, empat orang telah ditemukan dan tercatat dalam kondisi selamat di Lembar. Namun, satu anggota keluarganya hingga kini belum ditemukan.
Feri mengatakan, berdasarkan data yang diterimanya, terdapat 187 nama dalam daftar penumpang, namun terdapat satu nama yang tidak tercantum atau belum teridentifikasi.
Pihak keluarga berharap satu nama yang belum tercatat tersebut merupakan anggota keluarganya yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
“Sampai sekarang kami masih menunggu update informasi dari petugas terkait keberadaan keluarga kami,” ujar Feri.
Hingga saat ini, sejumlah keluarga penumpang lainnya juga terus berdatangan ke posko pelayanan di Pelabuhan Padangbai. Mereka masih menunggu informasi terbaru dari petugas terkait proses pendataan dan keberadaan penumpang KMP Putri Yasmin.
Petugas di posko terus melakukan koordinasi dan memberikan informasi kepada keluarga yang datang untuk memastikan kondisi serta keberadaan para penumpang. (Ami)
BaliKini.Net
35 Penumpang KMP Putri Yasmin Berhasil Dievakuasi ke Padangbai, Enam Anak Turut Diselamatkan
Laporan reporter: Gusti Ayu Purnamiasih
Karangasem, Bali Kini — Sebanyak 35 penumpang KMP Putri Yasmin yang mengalami kebakaran saat berlayar dari Padangbai menuju Lembar, Lombok Barat, berhasil dievakuasi dan tiba kembali di Pelabuhan Padangbai, Karangasem, Rabu (12/8/2026).
Dari 35 penumpang yang berhasil dievakuasi tersebut, terdapat enam anak-anak. Seluruh penumpang kemudian mendapat penanganan setelah tiba di Padangbai.
Kepala KSOP Padangbai, Herry Wiyanto, mengatakan proses evakuasi dilakukan setelah KMP Putri Yasmin mengalami kebakaran dalam perjalanan menuju Lembar. Evakuasi dilakukan dengan melibatkan kapal lain yang berada di sekitar lokasi kejadian.
KMP Putri Yasmin sebelumnya bertolak dari Pelabuhan Padangbai menuju Pelabuhan Lembar. Berdasarkan laporan awal, kebakaran terjadi sekitar pukul 04.50 WITA ketika kapal berada di sekitar Perairan Bangko-Bangko, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat.
Kebakaran diduga berasal dari satu unit truk box yang berada di dalam kapal. Saat kejadian, kru kapal langsung melakukan upaya penanganan dan penyelamatan penumpang.
KMP Portlink 2 yang berada di sekitar lokasi kemudian membantu proses evakuasi. Sebanyak 35 penumpang berhasil dievakuasi menggunakan kapal tersebut dan dibawa kembali menuju Padangbai.
Setibanya di Padangbai, para penumpang langsung mendapat penanganan dari petugas terkait, termasuk tim Bidokkes, Basarnas, Bakamla dan kepolisian.
KMP Putri Yasmin diketahui mengangkut total 114 penumpang, terdiri dari 53 penumpang sepeda motor, 17 penumpang pejalan kaki dan 44 sopir kendaraan. Kapal tersebut dinakhodai I Gede Adi Prayoga.
Sementara itu, proses penanganan terhadap KMP Putri Yasmin dan seluruh penumpang serta awak kapal masih dilakukan oleh instansi terkait. (Ami)
Rabu, 12 Agustus 2026
BaliKini.Net
Perkuat Arah Pembangunan, Pemkot Denpasar dan Banggar DPRD Bahas Perubahan KUA-PPAS 2026
Ket. Foto : Rapat pembahasan Perubahan KUA-PPAS Tahun Anggaran 2026, Senin (10/8), di Gedung DPRD Denpasar dibuka Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar Ida Bagus Yoga Adi Putra bersama I Wayan Mariyana Wandhira dan I Made Oka Cahyadi Wiguna, serta dihadiri Sekretaris Daerah Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya selaku Ketua TAPD.
Denpasar , Bali Kini - Pemerintah Kota Denpasar bersama Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Denpasar menggelar rapat pembahasan Perubahan Kebijakan Umum APBD (KUA) serta Perubahan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Tahun Anggaran 2026, Senin (10/8), di Gedung DPRD Denpasar. Rapat dibuka Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar Ida Bagus Yoga Adi Putra bersama I Wayan Mariyana Wandhira dan I Made Oka Cahyadi Wiguna, dengan Sekretaris Daerah Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya selaku Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Pembahasan diarahkan untuk menyesuaikan asumsi pendapatan, belanja dan pembiayaan daerah sekaligus mengakomodasi program prioritas masyarakat.
Dalam pembahasan tersebut, rancangan Perubahan KUA-PPAS Tahun Anggaran 2026 antara Pemkot Denpasar dan DPRD Kota Denpasar resmi disepakati. Sekda Eddy Mulya menjelaskan, seluruh konsep yang diajukan Pemkot Denpasar dapat diterima dengan baik oleh Banggar DPRD dengan sejumlah catatan strategis. Salah satu perhatian utama adalah optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang dalam rancangan perubahan ditargetkan mencapai sekitar Rp2,2 triliun. Pemkot optimistis target tersebut dapat dicapai, bahkan berpotensi melampaui target melalui optimalisasi sektor unggulan, termasuk pariwisata serta pembinaan usaha mikro dan kecil agar semakin mandiri.
Selain pendapatan, pembahasan juga menitikberatkan pada efektivitas belanja dan peningkatan kualitas infrastruktur perkotaan. Pengalokasian anggaran diarahkan untuk mendukung delapan prioritas belanja daerah serta pencapaian indikator kinerja utama RPJMD. Banggar DPRD menekankan agar pembangunan infrastruktur tidak hanya mengejar volume pekerjaan, tetapi juga memperhatikan standar dan kualitas hasil pembangunan. “Sejumlah sektor yang menjadi perhatian antara lain fasilitas sekolah, Puskesmas, perbaikan jalan serta trotoar, sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Eddy Mulya.
Lebih lanjut Sekda Eddy Mulya menyampaikan, aspek kesiapsiagaan menghadapi musim hujan turut menjadi perhatian dalam pembahasan. Seluruh jajaran perangkat daerah, seperti Dinas PUPR, Dinas Perkim, Dinas Pemadam Kebakaran dan Dinas Perhubungan, didorong meningkatkan kesiapsiagaan melalui langkah konkret serta koordinasi harian dengan BMKG untuk memantau perkembangan cuaca. Pemkot Denpasar juga akan memperkuat koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Nusa Penida dalam pemantauan pintu air, pengerukan sungai, pembersihan sodetan serta saluran dan drainase kota, sehingga potensi genangan maupun dampak bencana hidrometeorologi dapat diminimalkan.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar Ida Bagus Yoga Adi Putra mengatakan, penyusunan Perubahan KUA-PPAS dilakukan secara menyeluruh sebagai respons terhadap perubahan asumsi makro yang berdampak pada struktur APBD Tahun Anggaran 2026. Menurutnya, proses penyusunan anggaran harus tetap berpegang pada prinsip efektivitas, efisiensi dan kemanfaatan, serta tata kelola keuangan yang transparan dan akuntabel. Pembahasan tersebut juga menjadi tindak lanjut rapat internal Banggar DPRD Kota Denpasar yang telah dilaksanakan pada Jumat 7 Agustus 2026.
Melalui pembahasan bersama tersebut, Pemkot Denpasar dan Banggar DPRD berkomitmen memastikan kebijakan anggaran tidak hanya tersusun secara administratif, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. "Kesepakatan Perubahan KUA-PPAS 2026 selanjutnya diharapkan menjadi pijakan dalam menjaga kesinambungan pembangunan Kota Denpasar, meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperkuat infrastruktur, serta memastikan pengelolaan keuangan daerah berjalan efektif, efisien dan akuntabel," ujarnya. (Pur)
BaliKini.Net
Walikota Jaya Negara Buka Lomba Mancing Lele Air Deras Banjar Saraswati Kesiman
Ket. Foto : Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara saat membuka lomba mancing lele air deras yang diselenggarakan Banjar Saraswati, Kesiman Denpasar dengan penebaran ikan lele di aliran Tukad (sungai) Bindu Kesiman, Minggu Pagi (9/8).
Denpasar, Bali Kini - Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara membuka lomba mancing lele air deras yang diselenggarakan Banjar Saraswati, Kesiman Denpasar dengan penebaran ikan lele di aliran Tukad (sungai) Bindu Kesiman, Minggu Pagi (9/8).
Sejak subuh para peserta datang silih berganti memadati kawasan aliran Tukad Bindu Kesiman. Tidak hanya dari wilayah Kota Denpasar, tampak pula pemancing dari luar Denpasar ikut serta dalam kegiatan ini, dengan membawa serta perlengkapan serta umpan memancing masing-masing.
Tampak hadir dalam kegiatan ini, Anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Anggota DPRD Provinsi Bali, AA Gede Agung Suyoga, dan Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede.
Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara mengapresiasi lomba mancing diselenggarakan Banjar Saraswati Kesiman. Disamping memberi tempat bagi penghobi mancing serta memberi ruang rekreasi, lomba ini diharapkan dapat menjaga kelestarian lingkungan dan kebersihan aliran Tukad Bindu.
"Tentu kami sangat mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini, semoga selain menjadi wahana rekreasi dan hiburan, ini juga menjadi edukasi untuk terus menjaga kelestarian lingkungan atau subak," ujarnya.
Sementara Kelian Adat Banjar Saraswati, Anak Agung Ngurah Srijaya Widiada menjelaskan, kegiatan lomba mancing bersama ini diselenggarakan dalam rangka penggalian dana untuk menyukseskan Karya Melaspas dan Mendem Pedagingan Banjar Saraswati yang dijadwalkan pada bulan Desember mendatang.
Acara ini diselenggarakan juga sebagai bentuk inovasi kegiatan kemasyarakatan yang tidak hanya berfokus pada penggalian dana, tetapi juga sebagai wadah penyaluran hobi dan peningkat keakraban antarwarga serta pecinta mancing.
Lebih lanjut dijelaskan, pihak panitia juga telah menyiapkan sebanyak 500 kilogram lebih ikan lele, ditambah 6 ekor "ikan master" dengan berat masing-masing di atas 3 kilogram.
"Untuk lomba kali ini, kami menyebar sekitar 2.100 kupon dengan harga Rp60.000 per kupon. Peserta yang hadir diperkirakan mencapai 1.000 orang pemancing. Tiket tersebut sudah mencakup akses masuk serta kupon undian doorprize," ujar Anak Agung Ngurah Srijaya Widiada.
Adapun Lomba ini memperebutkan total hadiah uang tunai untuk 6 kategori pemenang berdasarkan bobot ikan master terberat. Untuk Juara 1 sebesar Rp2.500.000, Juara 2 sebesar Rp1.500.000, Juara 3 sebesar Rp1.000.000, Juara 4 sebesar Rp750.000, Juara 5 sebesar Rp500.000 dan untuk Juara 6 sebesar Rp250.000.
Selain hadiah utama, panitia juga menyediakan sekitar 50 ekor ikan berpita khusus yang berhadiah doorprize menarik, baik berupa uang tunai maupun barang, yang dapat dimenangkan berdasarkan warna pita pada ikan yang berhasil dipancing.
Anak Agung Ngurah Srijaya Widiada berharap kegiatan ini dapat mengakomodasi minat dan hobi masyarakat luas, sekaligus menjadi alternatif penggalian dana kreatif di tingkat lokal.
"Harapan kami ke depan, upaya penggalian dana untuk kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan bisa terus berkembang secara kreatif, tidak hanya bergantung pada cara-cara konvensional seperti kupon makanan saja," pungkasnya. (Ays).
BaliKini.Net
Wawali Arya Wibawa Buka Mel Tanjung Kite Festival XVII,
Ket foto : Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa didampingi Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar, yang juga selaku Pembina Mel Tanjunung Kite Festival, I Wayan Mariyana Wandhira serta Anggota DPRD Provinsi Bali, AA Gede Agung Suyoga saat membuka Lomba Layang-Layang Mel Tanjung Kite Festival XVII Tahun 2026 dengan menarik layangan di Kawasan Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar, Minggu (9/8).
Dorong Pelestarian Tradisi Melayangan sebagai Wahana Kreativitas Rare Angon.
Denpasar, Bali Kini - Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, secara resmi membuka Lomba Layang-Layang Mel Tanjung Kite Festival (MTKF) XVII Tahun 2026 dengan menarik layangan di Kawasan Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar, Minggu (9/8). Kegiatan yang digelar ST. Eka Dharma, Banjar Tanjung, Desa Sanur Kauh ini menjadi wadah pelestarian tradisi melayangan sekaligus ruang ekspresi kreativitas budaya bagi para pelayang atau rare angon di Bali, khususnya Kota Denpasar.
Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar yang juga selaku Pembina Mel Tanjung Kite Festival, I Wayan Mariyana Wandhira, Anggota DPRD Provinsi Bali, AA Gede Agung Suyoga, Camat Denpasar Selatan, Ida Bagus Made Purwanasara, Perbekel Desa Sanur Kauh, I Made Ada, Bendesa Adat Intaran, I Gusti Agung Alit Kencana, serta undangan lainnya.
Suasana lomba tampak semarak dengan para peserta yang sibuk mempersiapkan layangan untuk diterbangkan. Usai membuka kegiatan secara resmi, Wakil Wali Kota Arya Wibawa turut menyaksikan jalannya perlombaan yang diawali dengan seri Layangan Tradisional Janggan Remaja. Meski kondisi angin belum berhembus secara optimal, para pelayang tetap menunjukkan strategi dan keterampilan dalam mempertahankan layangan agar tetap mengudara.
Pembina Mel Tanjung Kite Festival, I Wayan Mariyana Wandhira, didampingi Ketua Panitia, I Made Gde Jisnu Bajasangga Wandhira, mengatakan MTKF XVII Tahun 2026 mengusung tema “Bhumi Samudra Akasa Sanggama” yang bermakna keharmonisan antara darat, laut, dan udara sebagai fondasi lahir dan lestarinya budaya dari generasi ke generasi.
“Pelaksanaan kegiatan ini merupakan wahana untuk memberikan ruang gerak kepada para pelayang agar dalam bermain layangan tetap mengedepankan rasa tanggung jawab serta meningkatkan rasa kebersamaan di antara generasi muda dan masyarakat pelayang pada khususnya,” ujarnya.
Wandhira mengatakan, lomba tahun ini menghadirkan kategori remaja dan dewasa dengan beragam jenis layangan tradisional maupun kreasi. Di antaranya Layangan Tradisional Bebean, Bebean Big Size, Janggan, Janggan Buntut, Janggan Buntut Big Size, Pecuk, hingga seri khusus layangan mini. Khusus layangan tradisional, peserta diwajibkan menggunakan kain dengan corak warna Bali, yakni merah, kuning, hitam, dan putih. Selain itu, turut diperlombakan seri layangan plastik, layangan celepuk, dan layangan mini size.
“Peserta tahun ini berasal dari sekaa, klub, maupun perorangan, dengan jumlah mencapai 1.685 layangan dari berbagai jenis tradisional dan kreasi. Semoga kegiatan yang digelar selama tiga hari ini berjalan lancar sebagai upaya melestarikan tradisi melayangan sekaligus memberikan ruang ekspresi bagi rare angon. Yang terpenting, dalam 17 tahun perjalanan Mel Tanjung Kite Festival, kami berkomitmen untuk terus profesional dan meningkatkan kualitas kegiatan setiap tahunnya,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, memberikan apresiasi atas pelaksanaan MTKF XVII Tahun 2026. Menurutnya, kegiatan yang telah menjadi agenda rutin tahunan tersebut memiliki peran penting dalam mendukung pelestarian seni dan tradisi melayangan di Kota Denpasar.
Arya Wibawa menegaskan bahwa Pemerintah Kota Denpasar, baik secara kelembagaan maupun dirinya secara pribadi, terus berkomitmen mendukung pelestarian tradisi melayangan. Selain menjadi wadah kreativitas masyarakat, melayangan juga dapat menjadi wahana hiburan sekaligus atraksi budaya yang mendukung keberlangsungan pariwisata berbasis budaya di Bali, khususnya Kota Denpasar.
“Tentu kami sangat mendukung dan memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini sebagai wahana ekspresi dan kreativitas budaya bagi para pelayang yang dikenal sebagai rare angon. Layang-layang tradisional merupakan salah satu potensi budaya masyarakat yang memiliki ciri dan keunikan tersendiri. Tradisi ini juga mendorong munculnya kreativitas dan inovasi baru yang bermuara pada kelestarian budaya serta mendukung kemajuan pariwisata berbasis budaya,” ujar Arya Wibawa.
Ia berharap pelaksanaan MTKF dapat terus berkembang secara konsisten dari tahun ke tahun, tidak hanya dari sisi penyelenggaraan dan kualitas perlombaan, tetapi juga dalam memberikan ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan tradisi melayangan sebagai bagian dari kekayaan budaya Bali. (Ags ).
BaliKini.Net
Ribuan Crosser Ramaikan JAC ke-11, Semarakkan HUT Kota Negara ke-131
Jembrana , Bali Kini - Ribuan crosser dari berbagai daerah ikut ambil bagian dalam Jembrana Adventure Community (JAC) ke-11 yang digelar serangkaian memperingati HUT Kota Negara ke-131, Minggu (9/8/2026) yang mengambil lokasi start dan finish di Lapangan Ambyarsari, Desa Wisata Blimbingsari, Kecamatan Melaya.
Dibuka langsung oleh Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna, event tahunan ini tak hanya menjadi ajang adu ketangkasan di lintasan, tetapi juga ikut memeriahkan perayaan hari jadi Kota Negara.
Sejak pagi, suasana di lokasi kegiatan sudah dipadati para peserta dan penggemar olahraga otomotif. Deru mesin motor trail berpadu dengan tantangan lintasan yang menuntut keberanian, ketangkasan, serta kemampuan para crosser menaklukkan medan.
Ribuan crosser tidak hanya datang dari berbagai daerah di Bali. Tetapi juga dari pulau Jawa, terutama dari berbagai wilayah Jawa Timur.
Mereka datang dengan membawa semangat yang sama, yakni menikmati jalur adventure sekaligus menjajal kemampuan di medan yang telah disiapkan panitia.
JAC ke-11 menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang dikemas untuk menyemarakkan HUT Kota Negara ke-131. Selain menjadi ruang bagi komunitas otomotif untuk berkumpul, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan potensi wilayah Jembrana melalui jalur-jalur adventure yang nantinya dilalui para croser.
“Event seperti ini bukan hanya soal olahraga otomotif, tetapi juga bagaimana kita menghidupkan suasana perayaan HUT Kota Negara. Peserta yang datang dari luar daerah juga bisa melihat langsung potensi dan suasana Jembrana,” ujar Ketua JAC, Made Sardika.
Made Sardika menyebut total crosser yang ambil bagian dalam event ini jumlahnya 1.500-san dan dalam pelaksanaannya, para crosser harus melewati berbagai karakter medan. Mulai dari jalur tanah, tanjakan, turunan hingga trek yang membutuhkan konsentrasi dan teknik berkendara.
Tantangan tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta. Bagi para pencinta motor trail, medan yang menantang menjadi pengalaman yang tidak sekadar mengejar kecepatan, tetapi juga menguji kemampuan mengendalikan motor dan membaca kondisi lintasan.
"Untuk itu, tidak tanggung-tanggung panitia menyiapkan total hadiah sampai dengan Rp 50 juta. Yang uniknya ada juga tanjakan berhadiah dengan total hadiah Rp 15 juta. Kehadiran peserta dari berbagai daerah juga memberikan warna tersendiri bagi JAC ke-11. Event ini sekaligus menjadi wadah untuk mempererat silaturahmi antarkomunitas pecinta otomotif," ucapnya.
Di sisi lain, ramainya peserta dan penonton turut memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Kehadiran peserta dari luar Jembrana membuat aktivitas ekonomi masyarakat ikut bergerak, mulai dari sektor kuliner, perdagangan hingga jasa.
Sementara itu, Wabup I Gede Ngurah Patriana Krisna (Ipat) menyampaikan Pemkab Jembrana menyambut positif penyelenggaraan kegiatan tersebut. Event olahraga dan komunitas seperti JAC dinilai dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan kegiatan yang melibatkan masyarakat secara luas dalam rangkaian HUT Kota Negara.
Wabup Ipat juga mendorong agar event-event otomotif di Jembrana dikemas semakin baik dan berkelanjutan. Dengan demikian, Jembrana tidak hanya dikenal karena potensi pariwisata dan budayanya, tetapi juga memiliki identitas sebagai daerah tujuan kegiatan otomotif.
“Jangan berhenti di JAC saja. Kita ingin kegiatan otomotif terus tumbuh. Kalau bisa, orang punya bayangan bahwa kalau bicara otomotif, salah satu tempat yang dituju adalah Jembrana,” tegasnya.
Dengan semangat sportivitas dan kebersamaan, JAC ke-11 menjadi salah satu warna dalam perayaan hari jadi Kota Negara tahun ini.
"Sekali lagi, bukan hanya tentang siapa yang paling cepat menaklukkan lintasan, tetapi bagaimana sebuah event komunitas mampu ikut menghidupkan perayaan hari jadi Kota Negara dan membawa nama Jembrana lebih luas," tutup Wabup Ipat. *(*)

FOLLOW THE BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram