Laporan Reporter : Asrinidevy
Yogyakarta , Bali Kini — Perayaan Hari Suci Shivaratri yang digelar di kompleks Candi Prambanan, Sabtu (17/1/2026), menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali posisi Candi Prambanan sebagai mercusuar spiritual Hindu Nusantara dan dunia, sekaligus penggerak ekonomi berbasis wisata budaya.
Rangkaian kegiatan yang menjadi pembuka Prambanan Shiva Festival 2026 ini melibatkan ribuan umat Hindu dari berbagai daerah. Persembahyangan akbar berlangsung khidmat di Lapangan Garuda, Taman Wisata Candi Prambanan, ditandai dengan pelantunan sloka Sanskerta, Dharmagita, hingga ritual pemujaan Siwa dengan 1.008 mantra.
Ketua Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan, Nyoman Ariawan Atmaja, menegaskan bahwa pelaksanaan Shivaratri di Prambanan memiliki landasan historis yang kuat. Menurutnya, kegiatan ini selaras dengan bukti sejarah yang tercatat dalam Prasasti Wantil tahun 778 Åšaka atau 856 Masehi.
“Prasasti Wantil tahun 778 Åšaka (856 Masehi) menyebutkan kelompok candi agung yang dipersembahkan untuk Dewa Shiva atau disebut Shivagrha. Jadi Shivagrha adalah nama asli dari Candi Prambanan sebagai pusat pengagungan Dewa Shiva. Itulah salah satu alasan mendasar mengapa puja Shiva kita lakukan malam ini di Candi Prambanan,” jelas Nyoman.
Ia menekankan bahwa perayaan ini bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan momentum spiritual untuk melakukan perenungan mendalam. “Ini menjadi momentum yang tepat untuk melakukan kontemplasi dan perenungan diri dengan melepaskan semua ikatan dunia dan fokus memuliakan nama Shiva,” tambahnya.
Nyoman juga menyoroti bahwa Prambanan Shiva Festival tidak hanya berisi kegiatan keagamaan, tetapi juga ruang ekspresi seni. Dalam pembukaan festival, ditampilkan pameran lukisan dari 150 seniman berbagai daerah yang merepresentasikan keindahan dan kemegahan Candi Prambanan. “Ragam ekspresi, gaya, dan gagasan visual para perupa berpadu dengan atmosfer sakral candi, menciptakan dialog artistik yang memperkaya pengalaman seni dan budaya,” ujarnya.
Dari sisi pariwisata, Wakil Menteri Pariwisata RI Ni Luh Puspa menilai perayaan Shivaratri di Prambanan merupakan contoh konkret bagaimana nilai spiritual dapat menjadi fondasi pengembangan pariwisata berkarakter. “Mari kita bersama-sama merenungkan makna dari perayaan Hari Suci Shivaratri ini untuk memperdalam kebijaksanaan, meningkatkan kesadaran spiritual, dan memperbaiki kualitas diri,” ungkapnya.
Ia berharap momen sakral ini mampu memperkuat karakter pariwisata Indonesia yang tidak semata mengejar kunjungan, tetapi juga kualitas pengalaman. “Semoga kita bisa lebih mendekatkan diri pada Hyang Widi, memperkuat ketenangan batin, serta membangun karakter, sehingga mampu menciptakan pariwisata yang memberikan kontribusi positif pada masyarakat dan lingkungan sekitar,” jelas Wamenpar.
Ni Luh Puspa menambahkan bahwa aktivitas Shivaratri di Prambanan menjadi landasan penting dalam mewujudkan konsep pariwisata yang lebih bermakna. “Pariwisata berorientasi pada spiritualitas tidak hanya berfokus pada eksplorasi fisik suatu destinasi, tapi juga ada di dalamnya soal perenungan diri, keseimbangan batin, dan hubungan yang lebih harmonis dengan lingkungan dan budaya setempat,” lanjutnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha Djumaryo menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghidupkan kembali fungsi Candi Prambanan, tidak hanya sebagai situs sejarah, tetapi juga ruang budaya yang hidup.
Menurutnya, festival ini menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat dikelola secara kreatif untuk kepentingan spiritual sekaligus ekonomi. “Perayaan Shivaratri dan rangkaian Prambanan Shiva Festival menunjukkan bagaimana kebudayaan bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Prambanan tidak lagi sekadar monumen, tetapi ruang hidup yang mempersatukan nilai agama, seni, dan pariwisata,” ujar Giring.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan ratusan seniman dalam festival ini sebagai wujud nyata bahwa kebudayaan harus terus diberi ruang berkembang. “Melalui seni dan kreativitas, warisan leluhur kita tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dihidupkan kembali agar relevan bagi generasi masa kini,” tambahnya.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI, Prof. I Nengah Duija menekankan bahwa kebangkitan spiritual di Prambanan harus berjalan seiring dengan kebangkitan ekonomi berbasis budaya. "“Sudah saatnya kita tunjukkan bahwa umat Hindu siap menjadikan Candi Prambanan bukan hanya sebagai situs sejarah, tetapi juga sebagai gerbang kebangkitan spiritual dan ekonomi umat,” jelasnya.
Sebagai informasi rangkaian festival akan berlangsung selama satu bulan penuh hingga puncak perayaan Mahashivaratri pada 15 Februari 2026.
FOLLOW THE BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram