-->

Kamis, 04 Mei 2017

Jaga Kerukunan, Masyarakat Bali Perlu Revitalisasi Konsep Menyama Braya

Jaga Kerukunan, Masyarakat Bali Perlu Revitalisasi Konsep Menyama Braya


Jaga Kerukunan, Masyarakat Bali Perlu Revitalisasi Konsep Menyama Braya

Balikini.Net - Direktur Tri Sakti Institut Dr. I Gusti Ngurah Alit Susanta Wirya, SP. M.Agr menyerukan kepada masyarakat Bali untuk merevitalisasi atau menghidupkan kembali semangat menyama braya. Konsep menyama braya selama ini terbukti mampu menjaga dan menciptakan kehidupan yang rukun di Bali. Menyama braya telah menjadi sebuah kearifan lokal yang menjadi landasan moral dalam membangun relasi sosial bagi masyarakat Bali. “ini menjadi sebuah kekayaan sosial masyarakat Bali untuk menjaga keharmonisan, karena meletakkan pandangan bahwa semua orang adalah saudara dan keluarga, walau berbeda agama, ras atau suku” papar Alit Susanta Wirya saat ditemui di Denpasar, Kamis, (4/5/2017).

Menurut Alit Susanta, semangat dari konsep menyama beraya harus dihidupkan kembali dan harus mampu di implementasikan kembali dalam kehidupan bermasyarakat. Menyama braya menjadi konsep yang sangat universal karena memiliki makna plural dengan menghargai perbedaan dan menempatkan orang lain sebagai keluarga. “jika ini mampu dipahami secara baik, tidak ada konflik yang akan berujung pada perpecahan” tegas Alit Susanta yang juga seorang akademisi dari Universitas Udayana.

Alit Susanta menyampaikan pengejawantahan dari konsep menyama braya selama ini terkesan luntur dengan mulai timbulnya bentrok antar pemuda dan kelompok ormas. Sebagai langkah antisipasi maka perlu melakukan revitalisasi terhadap semangat dari konsep menyama braya. Semangat menyama braya mengingatkan bahwa hidup perlu bermasyarakat dan bersosialisasi, sehingga terdapat kesadaran untuk selalu menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Seorang pekerja pariwisata Jeffrey Wibisono mengaku sangat bersyukur selama 23 tahun tinggal di Bali dan marasakan semangat menyama braya masyarakat Bali. Walau berbeda agama dan bukan orang Bali, Jeffrey mengaku tidak pernah dianggap orang asing. Apalagi bagi masyarakat Bali hidup bersosialisasi merupakan hal penting dalam bermasyarakat. “Kekerabatan masyarakat Bali sangat terasa dan tidak ada di daerah lain seperti ini” ungkap Jeffrey Wibisono.

Jeffrey Wibisono mengakui bahwa masyarakat Bali sangat menjaga semangat menyama braya, terbukti ketika pertama kali tinggal di Bali dan kost di rumah orang Bali justru merasa seperti menjadi anak dari pemilik kost.  Masyarakat Bali memiliki personality yang hangat sehingga setiap pendatang merasa sebagai kerabat.”Jadi turis saja datang tanpa rasa was-was dan kekerabatan itu yang membuat mereka datang berulang ulang” ujar  Jeffrey Wibisono.

Bagi Jeffrey, hal yang paling berkesan adalah ketika merasakan Nyepi pertama di Bali. Nyepi bersama satu keluarga yang seluruh anggota keluarganya beragama Hindu. “saya bisa berbaur dan malah mendapat pengetahuan tentang Nyepi dari keluarga tersebut” kenang Jeffrey.

Jeffrey berharap semangat menyama braya tetap mampu dipertahankan oleh masyarakat Bali secara terus menerus. Semangat menyama braya menjadi ciri masyarakat Bali menjaga keseimbangan alam, salah satunya menjaga hubungan antar manusia. Menjaga kekerabatan dengan saling menghargai sehingga terwujud kerukunan dalam bermasyarakat.

Budayawan Bali Made Nurbawa menyampaikan bahwa konsep menyama braya yang dilaksanakan oleh masyarakat Bali pada intinya adalah memanusiakan manusia. Hal ini sejalan dengan konsep “Tat Twam Asi” (aku adalah kamu) yang memiliki makna bahwa pada hakekatnya manusia adalah satu. “Artinya tatanan budaya Bali sangat menghargai kesamaan derajat manusia sebagai mahluk ciptaan tuhan” tegas Nurbawa.

Nurbawa menjelaskan bahwa konsep menyama braya merupakan implementasi dari nilai-nilai Pancasila. Dalam pandangan masyarakat Bali setara dengan Panca Sradha yang berarti lima keyakinan yang dimiliki oleh umat Hindu di Bali. Kelima keyakinan tersebut meliputi percaya terhadap adanya Brahman (Tuhan), percaya terhadap adanya Atman (kehidupan), percaya terhadap adanya hukum Karmaphala (hukum sebab-akibat), percaya terhadap adanya Punarbhawa (kelahiran kembali) dan percaya terhadap adanya Moksa (kebebasan dari ikatan duniawi).

Dalam perkembanganya semangat menyama braya mengalami penurunan dengan semakin berkembangnya sektor pariwisata di Bali. Dampaknya sebagian besar masyarakat Bali yang bekerja di sektor pariwisata memiliki waktu yang terbatas untuk bermasyarakat. Kondisi yang hampir sama juga dialami masyarakat Bali yang bekerja di sektor lain. “pandangan yang menyatakan waktu bermasyarakat berkurang karena bekerja harus diluruskan, bekerja bukan hanya untuk memperoleh pendapatan, tetapi ketika bekerja yang tujuanya membantu orang juga bagian dari menyama braya” kata Nurbawa.

Nurbawa memaparkan pandangan menyama braya selama ini hanya diartikan sebatas saling membantu dalam komunitas sosial yang sempit seperti dalam satu lingkungan desa. Sedangkan menyama braya dalam arti umum cukup luas. Menyama memiliki makna memandang setiap orang sebagai saudara dan braya lebih pada pemaknaan ikatan kebersamaan yang melahirkan keharmonisan dalam bermasyarakat.

Jalinan kerukunan dan toleransi dalam semangat menyama braya di Bali telah ada sejak lama. Berbagai bukti peninggalan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Bali mampu hidup rukun walaupun terdapat perbedaan agama. Sebagai contoh adanya Pelinggih (bangunan) Ratu Dalem Mekah di Pura Gambur Anglayang Desa Kubu Tambahan, Buleleng dan adanya bangunan Klenteng di Pura Ulun Danu Batur Bangli. (Muliarta/balikini).

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA | All Right Reserved