Laporan: Gusti Ayu Purnamiasih
Karangasem, Bali Kini – Setiap 14 Februari, masyarakat di berbagai belahan dunia merayakan Hari Valentine sebagai momentum kasih sayang. Cokelat dan bunga kerap menjadi simbol cinta kepada pasangan maupun sahabat.
Namun bagi Ni Ketut Suarni, S.Pd., M.M., makna Valentine jauh melampaui seremoni sehari. Baginya, cinta dan kasih sayang adalah napas kehidupan yang harus dijalankan setiap hari, sepanjang hayat.
Perempuan kelahiran Desa Pesangkan, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem itu telah mengabdikan diri sebagai guru Pegawai Negeri Sipil sejak 1986 hingga resmi purnatugas pada 5 Februari 2026. Dalam perjalanan empat dekade pengabdiannya, Suarni menjadikan profesi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan kemanusiaan.
Puncak pengabdiannya terlihat saat ia menjabat sebagai Kepala Sekolah di SD Negeri 3 Karangasem, Amlapura. Di sekolah tersebut, ia memberi perhatian khusus kepada siswa-siswi dari keluarga kurang mampu yang terancam putus sekolah.
“Saya selalu berusaha memperlakukan anak didik seperti anak sendiri. Dirangkul, didengarkan, diberi motivasi. Mereka butuh perhatian, bukan hanya pelajaran,” ungkap Suarni saat diwawancarai belum lama ini.
Bersama rekan sejawat, ia kerap blusukan ke rumah siswa di pelosok kampung. Tak jarang ia menemui kondisi memprihatinkan—rumah tak layak huni, orang tua bercerai, anak terlantar, hingga siswa berkebutuhan khusus yang kurang mendapatkan perhatian.
“Kadang saya tidak sadar air mata menetes saat mendengar cerita mereka. Hati ini tergerak untuk membantu semampunya,” tuturnya.
Beberapa kisah tersebut ia unggah melalui media sosial pribadinya. Respons publik pun mengalir. Banyak pihak tergerak menitipkan bantuan untuk kebutuhan sekolah para siswa.
Salah satu yang menjadi perhatian seriusnya adalah I Wayan Agus Saputra, siswa kelas VI dari keluarga sangat kurang mampu. Berbagai kendala dihadapi anak tersebut, mulai dari ekonomi hingga kondisi keluarga. Namun Suarni tak menyerah.
“Jangan menunggu kaya untuk berbagi,” tegasnya.
Selain dikenal sebagai pendidik berdedikasi, Suarni juga pernah menjadi atlet bola voli Kabupaten Karangasem dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi Bali. Semangat sportivitas dan daya juang itu pula yang ia terapkan dalam dunia pendidikan.
Pengabdiannya membuahkan prestasi. Pada 2017, ia dinobatkan sebagai Kepala Sekolah Berprestasi tingkat Kabupaten Karangasem. Berkat capaian tersebut, ia beberapa kali mendapat undangan dari pemerintah pusat untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan di Jakarta maupun daerah lainnya.
Di sela kesibukannya, alumnus IKIP PGRI Denpasar dan STIE Mahardika Surabaya ini juga aktif menulis. Ia telah menerbitkan buku “Menantang Fajar di Pantai Seraya” (2018), “Menuju Guru Profesional” (2019), serta sebuah buku kumpulan puisi.
Kini, meski telah purnatugas, Suarni tetap aktif sebagai relawan. Ia dipercaya menerima dan menyalurkan donasi kepada masyarakat serta mantan anak didiknya yang membutuhkan.
“Sebenarnya Valentine itu kita lakukan setiap hari. Dalam ritual ngejot nasi, maturan canang, bekerja dengan tulus, bersilaturahmi, menyama braya, dan cinta seorang ibu kepada anaknya. Yang utama adalah kasih Tuhan tanpa syarat kepada kita,” tutupnya.
Bagi Ni Ketut Suarni, Valentine bukan tentang cokelat dan bunga. Ia adalah tentang ketulusan, pengabdian, dan keberanian untuk hadir bagi sesama—setiap hari. (Ami)
FOLLOW THE BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram