Karangasem, Bali Kini – Di tengah meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM), sejumlah anak muda yang tergabung dalam yayasan Get Plastic Indonesia memperkenalkan sebuah inovasi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak dalam kegiatan Sunset Berkebun Sunrise Melantun di Museum Pustaka Lontar, Desa Dukuh Penaban, Karangasem.
Teknologi ini menggunakan mesin pirolisis yang mampu mengubah sampah plastik menjadi solar, bensin, dan minyak tanah. Menariknya, berdasarkan hasil uji laboratorium, bensin yang dihasilkan memiliki nilai Research Octane Number (RON) 92,3, sedikit di atas standar Pertamax yang memiliki RON 92.
Koordinator acara, Raissa Kanaya, menjelaskan bahwa teknologi pirolisis bekerja dengan memanaskan sampah plastik pada suhu tinggi sehingga rantai molekul plastik terurai menjadi senyawa hidrokarbon yang kemudian dikondensasikan menjadi bahan bakar.
“Semua jenis plastik bisa diolah menjadi bahan bakar minyak kecuali PVC. Hasilnya berupa solar, bensin, maupun minyak tanah,” ujarnya.
Menurutnya, inovasi ini tidak hanya menawarkan solusi terhadap persoalan sampah plastik, tetapi juga berpotensi menjadi sumber energi alternatif di tengah fluktuasi harga BBM. Dari sekitar 5 kilogram sampah plastik, dapat dihasilkan sekitar 10 liter solar dengan kebutuhan 1,5 kilogram gas LPG sebagai energi awal proses pengolahan.
Secara rata-rata, satu kilogram sampah plastik mampu menghasilkan sekitar satu liter bahan bakar. Seperti solar, hasil solar tersebut dapat diproses kembali untuk menghasilkan bensin.
Raissa mengungkapkan bahwa kualitas bahan bakar yang dihasilkan telah diuji di laboratorium. Selain bensin dengan RON 92,3, solar yang dihasilkan juga disebut memiliki kualitas yang nendekati Pertamina Dex berdasarkan nilai indeks cetane.
Bahan bakar hasil pengolahan tersebut telah digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari memasak hingga mengoperasikan genset. Dalam kegiatan tersebut, genset yang digunakan untuk mendukung konser musik pada sore hari juga memanfaatkan BBM hasil olahan sampah plastik. Dimana, pada konser musik tersebut diisi dengan penampilan dari Ipanghore-hore, Nonaria dan Nosstress.
Teknologi ini menggunakan mesin pirolisis dengan sistem reaktor. Pada pengembangan terbaru, mesin telah dilengkapi dua reaktor yang memungkinkan pemisahan fraksi bensin dan solar secara langsung dalam satu proses, sehingga pengolahan menjadi lebih efisien.
Meski demikian, Raissa menegaskan bahwa teknologi ini lebih tepat diterapkan oleh kelompok masyarakat, komunitas, desa, atau perusahaan karena membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, mulai dari pengumpulan hingga pengoperasian fasilitas.
“Kami memiliki program kemitraan yang diawali dengan asesmen jumlah sampah yang tersedia. Setelah itu kami memberikan pendampingan agar fasilitas dapat berjalan optimal,” katanya.
Ia berharap teknologi pirolisis dapat menjadi salah satu solusi bagi desa-desa dalam mengatasi persoalan sampah plastik sekaligus menciptakan sumber energi alternatif yang bernilai ekonomis.
“Kalau setiap desa memiliki fasilitas seperti ini, sampah bisa selesai di sumbernya dan sekaligus menghasilkan energi yang bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya, Sabtu (20/6/2026). (Ami)
FOLLOW THE BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram