Laporan reporter: Gusti Ayu Purnamiasih
Karangasem, Bali Kini — Persoalan kualitas sumber daya manusia (SDM) masih menjadi pekerjaan besar bagi Kabupaten Karangasem. Di tengah penurunan angka kemiskinan, Karangasem masih tercatat sebagai kabupaten dengan persentase penduduk miskin tertinggi di Bali. Sementara dari sisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Karangasem masih berada di peringkat kedelapan dari sembilan kabupaten/kota di Bali.
Kondisi tersebut menjadi sorotan dalam diskusi panel yang digelar Yayasan Agung Jaya Mandiri di kawasan Tirta Gangga, Karangasem, Sabtu (8/8). Forum yang dihadiri hampir 200 peserta dari berbagai kalangan itu mendorong pembangunan SDM tidak hanya berorientasi pada peningkatan daya saing, tetapi juga penguatan karakter dan budaya lokal.
Data BPS Karangasem 2025 mencatat jumlah penduduk miskin mencapai 27,32 ribu jiwa atau 6,40 persen dari total penduduk. Angka tersebut memang turun dibandingkan 2024 yang mencapai 27,76 ribu jiwa atau 6,52 persen. Namun, persentase tersebut masih menjadi yang tertinggi di Bali.
Di sisi lain, IPM Karangasem pada 2025 meningkat menjadi 71,89 dari 70,91 pada 2024. Meski mengalami peningkatan, posisi Karangasem masih berada di urutan kedelapan dari sembilan kabupaten/kota di Bali.
Kondisi itu menunjukkan peningkatan pembangunan manusia masih membutuhkan perhatian serius, terutama pada aspek pendidikan, kesehatan dan kemampuan ekonomi masyarakat.
Rektor Universitas Ngurah Rai Prof. Dr. Ni Putu Tirka Widanti, S.S., M.M., M.Hum, yang menjadi pembicara utama dalam diskusi tersebut, menyebut pendidikan dan kesehatan sebagai dua fondasi utama dalam membangun SDM unggul.
Menurutnya, SDM unggul bukan sekadar memiliki kemampuan dan pengetahuan, tetapi juga harus memiliki daya saing. Sementara karakter tercermin dari integritas, etika serta kemampuan kepemimpinan. Di sisi lain, pembangunan SDM juga harus tetap berpijak pada budaya lokal.
“Unggul artinya memiliki daya saing. Berkarakter berkaitan dengan integritas, etika dan prinsip-prinsip kepemimpinan. Sedangkan berbudaya berkaitan dengan kemampuan menjaga identitas budaya,” demikian pokok pemikirannya dalam diskusi tersebut.
Prof. Ni Putu Tirka menilai Karangasem sebenarnya memiliki modal yang kuat untuk membangun SDM sekaligus mempertahankan identitas budaya Bali. Potensi lokal yang dimiliki Karangasem dinilai dapat menjadi kekuatan menghadapi modernisasi.
Hal senada disampaikan Rektor Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si. Menurutnya, akses masyarakat terhadap pendidikan perlu diperluas. Salah satu langkah yang dapat didorong adalah penyediaan bantuan biaya pendidikan bagi lebih banyak warga Karangasem.
Sementara Prof. Dr. Dr. I Ketut Rai Sudiarditha, M.Si menekankan pentingnya membangun SDM yang mampu bersaing di berbagai sektor. Namun peningkatan daya saing tersebut tidak boleh mengorbankan identitas dan potensi lokal.
Menurut dia, budaya semestinya tidak hanya ditempatkan sebagai identitas yang dipertahankan, tetapi juga dapat menjadi penopang kesiapan masyarakat Karangasem menghadapi persaingan dan modernisasi.
Ketua Pembina Yayasan Agung Jaya Mandiri, Laksamana Pertama TNI Purn. Dr. I Wayan Warka, M.M., mengatakan persoalan SDM harus menjadi salah satu agenda prioritas pembangunan Karangasem. Menurutnya, kualitas SDM akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan daerah dalam jangka panjang.
“Yayasan meyakini bahwa hanya dengan menyiapkan SDM unggul yang berkarakter dan berbudaya, Karangasem khususnya dan Bali pada umumnya dapat membangun masyarakat berdaulat yang mandiri dan dapat berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan peradaban dunia,” tegasnya.
Warka mengatakan, pihaknya optimistis persoalan pembangunan SDM dapat ditangani melalui kolaborasi berbagai pihak. Karena itu, diskusi tersebut diharapkan tidak berhenti pada gagasan, tetapi menghasilkan rekomendasi mengenai persoalan konkret yang dihadapi masyarakat serta solusi yang dapat diterapkan.
Yayasan Agung Jaya Mandiri menyatakan fokus pemberdayaan SDM menjadi salah satu alasan kegiatan tersebut digelar. Yayasan yang didirikan pada 24 Juli 2024 itu bergerak di bidang sosial, kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat, dengan fokus awal di Karangasem.
Program yang disiapkan mencakup pendidikan, pelatihan, penguatan kapasitas, pembukaan akses pengembangan diri, kewirausahaan sosial hingga kemandirian ekonomi.
Sebelum menggelar diskusi, yayasan juga melaksanakan sejumlah kegiatan sosial dalam rangka HUT ke-2. Di antaranya Safari Kesehatan dan pembagian sembako di Desa Tianyar serta Baturinggit, Kecamatan Kubu, pada 1 Agustus 2026. Kemudian aksi bersih-bersih Pantai Melasti, Amed, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, pada 2 Agustus 2026, serta Tirta Yatra ke sejumlah parahyangan di Karangasem.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya yayasan memperkuat program pemberdayaan masyarakat. Namun, tantangan yang lebih besar tetap berada pada bagaimana peningkatan akses pendidikan, kesehatan dan ekonomi tersebut dapat berkontribusi terhadap perbaikan kualitas SDM Karangasem secara berkelanjutan. (Ami)
FOLLOW THE BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram