-->

Jumat, 29 Mei 2026

Bangli Sabet Penghargaan Penggerak Infrastruktur, Pelayanan, dan Pariwisata di Bali Tribun Awards 2026. Bu

DENPASAR ,BALI KINI  – Pemerintah Kabupaten Bangli kembali menorehkan prestasi gemilang di tingkat provinsi. Kabupaten yang dikenal dengan keindahan alam Kintamani ini sukses menyabet penghargaan sebagai Penggerak Pembangunan Infrastruktur, Pelayanan, dan Pariwisata dalam ajang bergengsi Bali Tribun Awards 2026.

Acara penganugerahan yang berlangsung meriah ini digelar pada Jumat (29/5/2026) bertempat di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Kota Denpasar. Penghargaan bergengsi tersebut diterima langsung oleh Wakil Bupati Bangli, I Wayan Diar, yang hadir mewakili segenap jajaran pemerintah dan masyarakat Kabupaten Bangli.

Penghargaan ini menjadi bukti nyata atas komitmen dan kerja keras Pemerintah Kabupaten Bangli dalam melakukan akselerasi pembangunan di berbagai sektor vital. Dalam beberapa tahun terakhir, Bangli dinilai sangat progresif, khususnya dalam hal, Pembangunan Infrastruktur, Pemerataan akses jalan dan penyediaan fasilitas publik yang semakin memadai.

Sektor Pariwisata yakni Penataan kawasan wisata khususnya Kintamani yang kini tampil semakin estetik, tertib, dan mendunia.

Nilai Budaya yakni Peningkatan pelayanan publik dan pengembangan pariwisata yang tetap menjaga keseimbangan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat sesuai filosofi Tri Hita Karana.

"Penghargaan ini adalah hasil kerja keras seluruh jajaran OPD di Pemkab Bangli serta dukungan penuh dari masyarakat. Ini bukan akhir, melainkan motivasi untuk terus berinovasi dan memberikan yang terbaik bagi kemajuan Bangli," ujar Wayan Diar di sela-sela acara.

Acara Bali Tribun Awards 2026 dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, kepala daerah, serta pelaku industri se-Bali yang dinilai memberikan kontribusi besar bagi kemajuan Pulau Dewata.

Tampak hadir dalam acara tersebut Gubernur Bali Wayan Koster, Deputi Kementerian UMKM, pejabat BUMN dan BUMD, serta CEO Tribun Network, Dahlan Dahi.

Selain itu, sejumlah pimpinan daerah se-Bali juga turut hadir langsung, di antaranya Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, Wakil Bupati Badung, Bagus Alit Sucipta, Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, Wakil Wali Kota Denpasar, Kadek Agus Arya Wibawa, Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna

Dengan diraihnya penghargaan ini, Kabupaten Bangli sukses membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan halangan untuk tampil di depan dalam hal inovasi pelayanan dan pembangunan daerah.

Di akhir sesi, Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar kembali menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya. “Kami mengucapkan terima kasih atas award yang diberikan kepada kami. Ini akan menjadi motivasi untuk terus bergerak mempercepat pembangunan di Kabupaten Bangli,” pungkasnya.

Denpasar Fashion Street Siap Digelar Pada 6 Juni Mendatang,

Angkat Kreativitas Desainer Hasilkan Kreasi Busana Berbahan Kain Perca. 

DENPASAR, BALI KINI - Dalam rangka memeriahkan Bulan Bung Karno 2026 dan memberikan ruang kreativitas bagi desainer, Dekranasda Kota Denpasar bersama Disperindag Kota Denpasar kembali menggelar Denpasar Fashion Street (DFS). Ajang fashion tahunan yang memasuki penyelenggaraan kali ketiga ini akan dilaksanakan pada 6 Juni 2026 mendatang di Kawasan Patung Dewi Melanting, Pelataran Pasar Badung, Denpasar. 

Sebagai bagian dari persiapan, Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara bersama Wakil Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa mengumpulkan para desainer yang terlibat untuk melihat langsung hasil rancangan busana di Gedung Graha Sewaka Dharma Lumintang, Jumat (29/5).

Pada penyelenggaraan tahun ini, DFS melibatkan 10 desainer lokal dengan masing-masing menampilkan 10 rancangan busana terbaik mereka. Beragam karya yang ditampilkan mengusung kreativitas tinggi dengan sentuhan inovatif berbahan kain perca yang dikreasikan menjadi busana, tas, aksesori hingga berbagai ornamen fashion lainnya.

Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara mengatakan bahwa hasil karya para desainer muda Denpasar sangat luar biasa dan menunjukkan perkembangan industri fashion kreatif yang semakin menjanjikan.

“Hasil karya para desainer sangat luar biasa. Kreativitas yang ditampilkan mampu mengolah kain perca menjadi busana yang elegan, unik dan bernilai tinggi. Ini membuktikan bahwa desainer Kota Denpasar memiliki potensi besar dan mampu bersaing dengan tetap mengedepankan inovasi serta kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Sagung Antari.

Lebih lanjut dikatakannya, Denpasar Fashion Street menjadi ruang strategis bagi para desainer lokal untuk menampilkan karya terbaik sekaligus memperkuat Denpasar sebagai kota kreatif berbasis industri fashion.

“Kami berharap kegiatan ini mampu membuka peluang lebih luas bagi para desainer muda untuk menunjukkan hasil karya mereka kepada masyarakat. Dengan begitu, produk fashion lokal dapat semakin dikenal dan digunakan dalam berbagai kegiatan maupun event,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Disperindag Kota Denpasar, Ni Nyoman Sri Utari menjelaskan bahwa sebelum ditampilkan pada ajang DFS, seluruh rancangan para desainer telah melalui beberapa kali proses pembahasan dan kurasi bersama desainer senior.

“Sebelum ditampilkan, kami sudah beberapa kali melaksanakan rapat bersama para desainer senior untuk memberikan arahan terkait busana yang akan dipresentasikan. Yang spesifik pada DFS kali ini adalah mengkolaborasikan desain busana dengan pemanfaatan kain perca,” ujarnya.

Menurut Sri Utari, konsep tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendukung pengurangan sampah tekstil melalui pemanfaatan kembali sisa-sisa kain menjadi produk fashion bernilai ekonomis.

“Sekarang kita menghadapi persoalan sampah, sehingga tema yang kami angkat adalah bagaimana memanfaatkan kain perca agar tidak ada material yang terbuang sia-sia. Kain perca diolah menjadi tas, aksesori hingga busana dengan desain unik sehingga tidak terlihat sebagai bahan sisa,” jelasnya.

Ia menambahkan, seluruh karya yang akan ditampilkan merupakan hasil kurasi dan pembinaan tim kurator desainer sehingga menghasilkan rancangan yang siap dipamerkan kepada publik.

“Ini menjadi salah satu upaya kami mempromosikan produk-produk fashion hasil karya desainer Kota Denpasar sekaligus menegaskan Denpasar sebagai salah satu industri unggulan di bidang fashion,” pungkasnya. (Ayu)

Kapolres Karangasem Cup 2026 Meriah, Junjung Sportivitas

Laporan reporter: Gusti Ayu Purnamiasih 

KARANGASEM, Bali Kini - – Suasana semarak memenuhi GOR Bimantara Sport Center saat pembukaan Kejuaraan Bulutangkis Kapolres Karangasem Cup 2026 resmi digelar pada Kamis (28/5/2026). Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Bhayangkara ke-80 itu berlangsung meriah dan penuh semangat kebersamaan.

Sebanyak 32 tim bulutangkis dari berbagai kalangan ikut ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Tidak hanya pertandingan olahraga, kegiatan ini juga menghadirkan hiburan dan kekompakan melalui yel-yel masing-masing team yang juga ikut dilombakan. Suasana meriah terlihat sepanjang acara berlangsung.

Turnamen diawali dengan pertandingan exhibition antara Kapolres Karangasem AKBP I Made Santika melawan Ketua DPRD Karangasem, I Wayan Suastika yang sukses menarik perhatian penonton.

Selain pertandingan bulutangkis, panitia juga mengadakan lomba yel-yel antar peserta. Kreativitas dan semangat dukungan dari masing-masing tim menjadi hiburan tersendiri bagi penonton. Yel-yel terbaik bahkan mendapatkan hadiah sebagai bentuk apresiasi atas semangat dan sportivitas yang ditunjukkan selama kegiatan.

Kapolres Karangasem AKBP I Made Santika mengatakan kegiatan olahraga seperti ini menjadi salah satu cara mengajak masyarakat hidup sehat, tetap sportif dan punya daya saing. Juga agar mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat.

“Kita mengajak masyarakat untuk peduli Dengan masyarakat juga agar tidak melakukan hal-hal yang merugikan atau merusak dirinya sendiri. Selain itu juga menjaga kebersamaan, membangun disiplin, dan menjunjung tinggi sportivitas,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia AKP I Gusti Agung Putu Maha Putra menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadi ajang positif bagi masyarakat serta memperkuat rasa persaudaraan antar peserta.

Dengan antusiasme yang tinggi dari seluruh tim, Kapolres Karangasem Cup 2026 diharapkan dapat terus menjadi agenda olahraga yang mampu menyatukan masyarakat melalui semangat sehat dan sportif. (Ami)

Kamis, 28 Mei 2026

Walikota Jaya Negara Hadiri Karya Tawur di Pura Kahyangan dan Mrajapati Desa Adat Sumerta

Ket. Foto : Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dalam kesempatan menghadiri rangkaian Karya Tawur dan melaksanakan penandatanganan prasasti pada Kamis (28/5) di 
Pura Kahyangan dan Pura Mrajapati Desa Adat Sumerta, Denpasar Timur.


Denpasar , Bali Kini -  Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri pelaksanaan Karya Tawur dalam rangkaian Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung dan Tawur Balik Sumpah Utama di Pura Kahyangan dan Pura Mrajapati Desa Adat Sumerta, Denpasar Timur, Kamis (28/5).

Suasana khidmat dan penuh kebersamaan tampak mewarnai jalannya karya tawur tersebut. Krama adat bergotong royong mengikuti setiap rangkaian upacara sebagai wujud sradha bhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Turut hadir dalam kesempatan tersebut Anggota DPD RI Perwakilan Bali, Dr. Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, Anggota DPRD Kota Denpasar, I Made Mudra, serta tokoh masyarakat setempat.

Upacara dipuput sejumlah sulinggih, yakni Ida Pandita Empu Padma Ananda Griya Sumerta, Ida Rsi Bujangga Waisnawa Tembau Griya Batur Tembau, Ida Pandita Empu Siwa Ananda Griya Kroya, Ida Rsi BW Putra Sara Shri Satya Joti Griya Buana Santhi Sesetan, Ida Pedanda Putra Bajing Griva Tegal Jingga, Ida Rsi Agung Wayabya Karang Griya Buda Buduk, Ida Rsi BW Kertha Bhuana Griya Glogor, Ida Pedanda Gede Made Putraka Timbul Griya Timbul Kesiman, serta Ida Pedanda Gede Putra Keniten Griya Tainsiat.

Rangkaian karya juga dimeriahkan dengan sajian Gong Lelambatan dan Gambelan Wali, Wayang, serta pementasan Baris Gede oleh Paiketan Jero Bendesa Adat Kota Denpasar yang semakin menambah kekhidmatan suasana upacara. Di sela kegiatan, Walikota Jaya Negara juga tampak ngayah menarikan Topeng Wali bersama krama adat setempat dan diakhiri dengan penandatanganan prasasti serta penyerahan punia.

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara mengapresiasi semangat gotong royong dan kebersamaan krama Desa Adat Sumerta dalam menjaga serta melestarikan adat, tradisi, dan budaya Bali. Menurutnya, pelaksanaan karya yadnya tidak hanya menjadi sarana meningkatkan sradha dan bhakti umat, namun juga memperkuat nilai menyama braya di tengah masyarakat.

“Pelaksanaan karya seperti ini merupakan wujud nyata pelestarian adat, tradisi dan budaya Bali yang diwariskan secara turun-temurun. Semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat tentu menjadi kekuatan penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan,” ujar Jaya Negara.

Sementara itu, Jro Bendesa Adat Sumerta, I Made Ariawan Payuse menjelaskan bahwa rangkaian karya telah dimulai sejak 16 April 2026 yang diawali dengan prosesi nyukat genah dan berbagai tahapan upacara lainnya. Sebelum puncak karya, pihaknya juga telah melaksanakan prosesi melasti sebagai bagian dari penyucian sarana dan prasarana upacara.
Ia mengatakan, puncak karya akan dilaksanakan pada 31 Mei 2026 yang bertepatan dengan Purnama Sadha. Adapun upacara tersebut merupakan Karya Utama Mamungkah, Ngenteg Linggih, dan Tawur Agung Balik Sumpah Utama.

“Upacara Mamungkah dan Ngenteg Linggih di pura ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan setelah puluhan tahun, bahkan sebelumnya belum pernah dilaksanakan sama sekali. Tentu ini menjadi tonggak sejarah penting bagi Desa Adat Sumerta,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, skala upacara tergolong besar atau tingkatan utama, setara dengan pelaksanaan karya di Pura Dalem maupun pura-pura Kahyangan Desa lainnya. Pelaksanaan karya juga melibatkan kerja sama erat antara wilayah Sumerta, Tanjung Bungkak dan Pagan.
Menurutnya, secara historis wilayah Sumerta Gede dahulu mencakup sekitar 21 Banjar Adat. Karena itu, dalam pelaksanaan karya besar seperti ini, semangat saling membantu antarkrama adat tetap dijaga dan diwariskan hingga kini.

“Dalam pelaksanaan upacara ini kami dibantu penuh oleh warga Tanjung Bungkak dan Pagan, termasuk melibatkan seluruh pemangku di Pura Kahyangan Desa setempat untuk menyelesaikan seluruh rangkaian upakara,” jelasnya.

Ia menambahkan, berdasarkan sastra dan tradisi yang diwariskan, upacara besar seperti Ngenteg Linggih idealnya dilaksanakan setiap 30 tahun sekali. Namun karena upacara ini baru pertama kali dilaksanakan di pura tersebut, pihak desa adat belum dapat memastikan kapan pelaksanaan serupa akan kembali digelar.

Pada kesempatan itu, pihaknya juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Walikota Denpasar beserta jajaran Pemerintah Kota Denpasar yang telah hadir dan memberikan dukungan terhadap pelaksanaan karya tersebut. (Pur/humasdps)

Wali Kota Jaya Negara “Ngayah” Nyangging di Pura Dalem Pengaotan, Rangkaian Karya Pedudusan Agung Desa Adat Bekul

Ket foto: Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara saat  “ngayah” nyangging dalam rangkaian Karya Memungkah Ngenteg Linggih, Tawur Balik Sumpah Utama Pedudusan Agung di Pura Dalem Pengaotan, Desa Adat Bekul, Penatih Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur Kamis (28/5).

Denpasar, Bali Kini - Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara turut “ngayah” nyangging dalam rangkaian Karya Memungkah Ngenteg Linggih, Tawur Balik Sumpah Utama Pedudusan Agung di Pura Dalem Pengaotan, Desa Adat Bekul, Penatih Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur Kamis (28/5). 


Kehadiran Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama krama adat menjadi bentuk dukungan Pemerintah Kota Denpasar terhadap pelestarian adat, budaya, dan tradisi spiritual masyarakat Bali.


Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Jaya Negara tampak membaur bersama masyarakat melaksanakan prosesi nyangging sebagai bagian dari semangat ngayah dan gotong royong dalam menyukseskan yadnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan meninjau pelinggih yang ada di Pura Dalem Pengaotan


Wali Kota Jaya Negara mengatakan bahwa pelaksanaan karya besar seperti Pedudusan Agung bukan hanya sebagai wujud sradha bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, namun juga menjadi momentum mempererat persatuan dan kebersamaan masyarakat adat.

“Karya seperti ini merupakan warisan luhur yang harus terus dijaga bersama. Semangat ngayah yang ditunjukkan krama adat menjadi kekuatan utama dalam menjaga adat, budaya, dan nilai kebersamaan masyarakat Bali. Pemerintah Kota Denpasar tentu memberikan dukungan agar tradisi dan kearifan lokal tetap lestari,” ujar Jaya Negara.


Sementara itu, Bendesa Adat Bekul, Made Yuliarta mengatakan, karya tersebut merupakan rangkaian dari Upacara Memungkah Ngenteg Linggih Tawur Balik Sumpah Utama Pedudusan Agung yang turut melengkapi pelaksanaan Panca Yadnya.

Ia menjelaskan, sebelumnya Upacara Pitra Yadnya telah dilaksanakan sekitar 10 hari lalu. Sedangkan pada Kamis (28/5) ini digelar Upacara Manusa Yadnya berupa metatah dengan jumlah peserta sebanyak 60 orang serta Upacara Menek Kelih yang diikuti 8 peserta, sehingga total keseluruhan mencapai 68 orang.

“Selain itu juga dilaksanakan Sri Yadnya berupa pewintenan Jro Mangku dan Sri Pujangga. Saat panyineban karya nantinya akan dilaksanakan Pedudusan Agung, Tawur Balik Sumpah Agung Merawa Ratna,” ujarnya.


Tidak hanya itu, rangkaian karya juga melaksanakan upacara pekelem di Ulun Danu Batur dan Puncak Gunung Agung sebagai bagian dari rentetan upacara yadnya.

Made Yuliarta menambahkan, Pura Dalem Pengaotan diempon oleh sekitar 250 kepala keluarga dari empat banjar, yakni Banjar Gunung, Banjar Buaji, Banjar Bekul sebagai banjar pengarep atau inti, serta Banjar Pala Giri sebagai banjar pendatang.


Menurutnya, Pedudusan Agung merupakan karya besar yang wajib dilaksanakan secara turun-temurun oleh generasi masyarakat adat dalam rentang waktu sekitar 50 hingga 70 tahun sekali, disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan kemampuan pendanaan.

“Kalau karya rutin dilaksanakan setiap 15 tahun berupa Pedudusan Alit. Sedangkan Pedudusan Agung ini merupakan tingkatan karya yang lebih utama dan wajib dilaksanakan masyarakat apabila situasi dan kondisi sudah memungkinkan,” jelasnya.

Untuk pelaksanaan karya kali ini, pihak desa adat menganggarkan dana sekitar Rp3,5 miliar yang bersumber dari swadaya masyarakat sebesar Rp3,5 miliar serta dukungan bantuan Pemerintah Kota Denpasar. Anggaran tersebut juga digunakan untuk rangkaian karya di empat pura, termasuk pelaksanaan Pedudusan Alit di Pura Taman Beji dan Pura Puseh Desa.


Ia berharap, pelaksanaan karya tersebut mampu memberikan kerahayuan secara sekala dan niskala bagi masyarakat.
“Harapan kami tentunya masyarakat selalu mendapat lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, diberikan kesehatan dan kerahayuan. Dari sisi sekala, yadnya ini juga menjadi momentum memperkuat persatuan, gotong royong, dan rasa kebersamaan seluruh krama adat,” pungkasnya.(ayu)

Walikota Jaya Negara Hadiri Upacara Ngeratep dan Pasupati Pelawatan di Pura Dalem Ulun Suan.

Ket foto : Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Upacara Ngeratep dan Pasupati Pelawatan Ratu Ayu di Pura Dalem Ulun Suan, Desa Pemecutan Kelod bertepatan dengan Rahina Wraspati Kliwon Wuku Waregadean, Kamis (28/5).

Denpasar, Bali Kini - Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Upacara Ngeratep dan Pasupati Pelawatan Ratu Ayu di Pura Dalem Ulun Suan, Desa Pemecutan Kelod bertepatan dengan Rahina Wraspati Kliwon Wuku Waregadean, Kamis (28/5). Upacara tersebut dilaksanakan setelah pelaksanaan ngodak pelawatan tuntas dilaksanakan. 

Hadir dalam kesempatan tersebut Anggota DPRD Kota Denpasar, AA Putu Gede Wibawa, I Wayan Duaja dan AA Putu Gede Anugraha Mertha, Camat Denpasar Barat, I Wayan Yusswara, Bendesa Adat Denpasar, AA Ngurah Alit Wirakesuma, serta undangan lainya. Diiringi suara gambelan dan kidung, rangkaian berlangsung khidmat yang diakhiri dengan persembahyangan bersama. 

Panitia Karya, AA Ketut Adi Artha mengatakan bahwa Upacara Ngeratep dan Pasupati Pelawatan Ratu Ayu di Pura Dalem Ulun Suan ini dilaksanakan setelah proses ngodakin tuntas dilaksanakan.  

Lebih lanjut dijelaskan, rangkaian upacara diawali pada 16 April lalu dengan prosesi munggel pelawatan yang dilanjutkan dengan ngodakin. Setelah proses ngodakin tuntas dilaksanakan, rangkaian dilanjutkan dengan Upacara Ngeratep dan Pasupati. Setelahnya, akan dilaksanakan proses Mesuci pada malam harinya. Sedangkan sesolahan Calonarang akan dilaksanakan pada 27 Agustus mendatang. 

Dikatakannya, upakara ini merupakan wujud sradha dan bhakti krama pengempon Pura Dalem Ulun Suan kepada Ida Bhatara Sesuhunan. Hal ini tentunya diharapkan dapat memberikan anugerah kesejahteraan, kesehatan serta kemakmuran bagi seluruh krama pengempon. 

"Semoga melalui upacara ini krama pengempon selalu dalam lindungan tuhan, dan diberikan anugrah kemakmuran serta kerahayuan," ujarnya. 

Walikota Denpasar,  I Gusti Ngurah Jaya Negara dalam kesempatan tersebut mengatakan, Upacara Ngeratep dan Pasupati Pelawatan Ratu Ayu di Pura Dalem Ulun Suan, Desa Pemecutan Kelod ini merupakan momentum bagi seluruh masyarakat untuk selalu eling dan meningkatkan srada bhakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Sehingga menjadi sebuah momentum untuk menjaga keharmonisan antara parahyangan, palemahan, dan pawongan sebagai impelementasi dari Tri Hita Karana.

“Dengan pelaksanaan upakara ini mari kita tingkatkan rasa sradha bhakti kita sebagai upaya menjaga harmonisasi antara parahyangan, pawongan, dan palemahan sebagai impelementasi Tri Hita Karana,” ujar Jaya Negara. (Ags).

Kebun Raya Bali Berkolaborasi pada Program Penanaman 1.000 Pohon di Nuanu Creative City



TABANAN, , BALI KINI -  Kebun Raya Eka Karya Bali berkolaborasi pada program
“Penanaman 1000 Pohon” yang diselenggarakan oleh Nuanu Creative City, Selasa, 26 Mei 2026. Dalam kegiatan ini, Kebun Raya Eka Karya Bali memberikan kontribusi nyata
melalui penyumbangan sebanyak 100 tanaman sebagai bentuk dukungan terhadap
pelestarian lingkungan dan penghijauan kawasan Bali.
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah kolaboratif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem, memperbaiki kualitas lingkungan,
serta menciptakan ruang hijau yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Hadhiyyah N. Cahyono selaku East Deputy of Horticulture Kebun Raya mengatakan upaya
pelestarian lingkungan tidak dapat dilakukan secara individu, melainkan membutuhkan
kolaborasi dari berbagai pihak sehingga program penanaman pohon ini diharapkan
mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk semakin peduli terhadap
keberlangsungan alam dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
“Melalui kontribusi 100 tanaman pada kegiatan ini, Kebun Raya Eka Karya Bali berharap
dapat mendukung terciptanya lingkungan yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan,”
ujarnya.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi
antara institusi konservasi, sektor swasta, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan
perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Sebagai lembaga konservasi tumbuhan di
Bali, Kebun Raya Eka Karya Bali terus berkomitmen menjalankan perannya melalui lima
pilar utama, yaitu konservasi, edukasi, penelitian, wisata alam, dan jasa lingkungan.
Branch Manager Kebun Raya Eka Karya Bali, I Dewa Putu Pasnadi Putra dalam
sambutannya mengatakan partisipasi dalam kegiatan ini merupakan implementasi nyata
dari pilar konservasi dan jasa lingkungan yang selama ini menjadi fokus pengembangan
Kebun Raya Eka Karya Bali.
“Dalam kegiatan penanaman 1000 pohon, Kebun Raya Eka Karya Bali menyumbangkan
tiga jenis tanaman yaitu tanaman Dysoxylum densiflorum (Majegau), Antidesma bunius
(Buni) dan Magnolia champaca (Cempaka) ,” ungkapnya.
Ia menambahkan Majegau merupakan tumbuhan dari famili Meliaceae yang tersebar
dari bagian Selatan Cina, Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaysia, Sumatra, Jawa, Bali
dan Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi dan Filipina. Di Bali tanaman Majegau memiliki
peran penting sebagai sarana Upacara Agama Hindu dan digunakan sebagai obat
tradisional.
Secara manfaat medis, tumbuhan majegau memiliki kandungan antibakteri dan
sitotoksik. Antidesma bunius (Buni) tergolong dalam famili Phyllanthaceae yang berasal
dari kawasan beriklim tropis dan subtropis. Tanaman ini dimanfaatkan untuk beberapa
penyakit dan kondisi medis, meliputi rematik, pneumonia, gangguan pencernaan dan
metabolisme, serta membasmi cacing gelang dan cacing kremi. Daun Buni memiliki
kandungan flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid yang dapat membantu aktivitas
antiinflamasi, antioksidan, antimikroba, dan dapat membantu sintesis kolagen.
Magnolia champaca atau dikenal sebagai cempaka kuning merupakan tumbuhan yang
termasuk ke dalam famili Magnoliaceae yang berasal dari India dan terdistribusi luas di
seluruh Indo-Cina, Malaysia, Sumatra, Jawa dan Cina barat daya. Tumbuhan cempaka
kuning ini banyak digunakan oleh masyarakat sebagai pengobatan tradisional karena
mengandung antioksidan, antibakteri, antimalaria dan pengobatan berbagai macam
penyakit. Sedangkan di Bali sendiri bunga cempaka dimanfaatkan sebagai sarana
persembahyangan dan upacara adat.
“Melalui kegiatan penanaman 1.000 pohon tentunya Nuanu dan Kebun Raya Eka Karya
Bali berharap inisiatif ini dapat menjadi warisan ekologis yang memberikan manfaat
nyata dan berkelanjutan bagi keseimbangan alam di Nuanu Creative City,” ujarnya.
Penanaman Majegau , Buni, dan Cempaka di kawasan ini diyakini tidak hanya akan
memperkuat upaya konservasi keanekaragaman hayati, tetapi juga turut menjaga
kelestarian nilai luhur budaya dan tradisi masyarakat Bali secara jangka panjang.
Kolaborasi ini juga tentunya diharapkan mampu menginspirasi berbagai pihak untuk
terus peduli terhadap lingkungan, sekaligus membuktikan bahwa pesatnya
pembangunan pariwisata dan sektor kreatif dapat selalu berjalan selaras dengan komitmen pelestarian alam.(*)



 

Rabu, 27 Mei 2026

Semangat Toleransi, Kapolres Karangasem yang Beragama Hindu Salurkan Hewan Kurban di Hari Idul Adha

Laporan reporter: Gusti Ayu Purnamiasih 

Karangasem, Bali Kini — Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Kabupaten Karangasem menjadi gambaran nyata indahnya toleransi antarumat beragama. Kapolres Karangasem AKBP Made Santika yang beragama Hindu turut menunjukkan kepedulian dengan melaksanakan penyaluran hewan kurban di Masjid Marhaban milik Polres Karangasem, Jumat (27/5/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Polres Karangasem menyerahkan satu ekor sapi berbobot 300 kg dan 4 ekor kambing untuk kurban yang nantinya dibagikan kepada sekitar 70 kepala keluarga (KK) jemaah Masjid Marhaban, khususnya masyarakat kurang mampu.

Kapolres Karangasem menyampaikan bahwa Idul Adha bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga nilai kemanusiaan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama tanpa memandang perbedaan agama.

“Idul Adha adalah tentang pengorbanan, keikhlasan, dan cinta kasih kepada sesama. Semoga apa yang diberikan dapat membantu masyarakat dan mempererat rasa persaudaraan antarumat beragama,” ujarnya.

Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari pengurus masjid dan warga sekitar karena dinilai menjadi contoh nyata harmoninya kehidupan beragama di Karangasem. Di tengah keberagaman masyarakat Bali, aksi sosial yang dilakukan Kapolres Karangasem menunjukkan bahwa toleransi tidak hanya sekadar slogan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata.

Melalui penyaluran hewan kurban ini, Polres Karangasem berharap hubungan baik antara kepolisian dan masyarakat terus terjalin, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dan gotong royong di tengah perbedaan keyakinan. (Ami)

Selasa, 26 Mei 2026

Petani Rosela Hadapi Tantangan Berlapis dari Masalah Inovasi hingga Strategi Pasar


TABANAN, BALI KINI — Pengembangan budidaya tanaman rosela di tingkat petani masih membentur tembok tebal. Masalah kerentanan terhadap cuaca ekstrem, minimnya teknologi pemupukan, hingga keterbatasan akses pasar global menjadi potret buram yang harus segera diurai dari hulu ke hilir.

Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Wijaya Kusuma, Baturiti, Tabanan, Ni Luh Gede Santi Dewi, mengungkapkan bahwa petani rosela saat ini dihadapkan pada situasi yang tidak menentu. Komoditas ini sejatinya memiliki potensi ekonomi tinggi, namun risiko kegagalan panen akibat anomali cuaca masih sangat membayangi.

"Kami sangat membutuhkan inovasi dalam budidaya rosela. Salah satu yang sempat kami coba dan berhasil adalah sistem tumpangsari rosela dengan tanaman sayur seperti bayam dan sayur hijau lainnya. Permasalahan pelik muncul ketika cuaca mulai tidak bersahabat," ujar Santi Dewi di sela-sela kegiatan pelatihan serangkaian International Community Service di Tabanan, Selasa (26/5/2026).

Program pengabdian masyarakat internasional tersebut merupakan hasil kerja sama strategis antara Program Studi Agroteknologi Universitas Warmadewa (Unwar) Bali dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia.

Santi Dewi menjelaskan, tanaman rosela menjadi sangat rentan terhadap serangan penyakit dan penurunan kualitas hasil panen saat iklim tidak menentu. Kehadiran para akademisi dan peneliti, khususnya dari Prodi Agroteknologi Unwar, sangat dinantikan untuk membawa formula baru yang aplikatif di lapangan.

Keterbatasan pengetahuan teknis mengenai pemeliharaan tanaman juga menjadi ganjalan serius di luar masalah adaptasi cuaca. Petani di pedesaan masih kerap meraba-raba terkait efisiensi pemupukan yang ideal.

"Permasalahan kami lainnya adalah inovasi dalam melakukan pemupukan, serta bagaimana teknik membuat kompos dengan cepat dan mudah menggunakan bahan baku lokal yang ada di sekitar kami," imbuhnya.

Tantangan bagi KWT Mekar Wijaya Kusuma tidak berhenti pada urusan dapur produksi di kebun. Tantangan baru yang tidak kalah rumit sudah menghadang di depan mata saat panen berhasil melimpah, yakni kepastian serapan pasar.

Santi Dewi mengakui, tata niaga rosela selama ini masih bersifat konvensional dan terbatas. Petani kerap menjadi pihak yang paling dirugikan saat harga tidak stabil akibat ketiadaan jaringan distribusi yang mandiri.

"Memang pada sisi lain, kami juga sangat membutuhkan strategi pemasaran yang modern. Inovasi budidaya saja tidak akan cukup kalau kami tidak tahu harus menjual produk olahan rosela ini ke mana dengan harga yang adil," tutur Santi Dewi.

Para petani di Baturiti berharap ada peta jalan (roadmap) yang konkret melalui kolaborasi lintas negara antara Universitas Warmadewa dan Universiti Teknologi MARA ini. Transfer teknologi dan ilmu pengetahuan dari meja perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi pemutus rantai persoalan berlapis yang selama ini mengikat produktivitas petani rosela di Bali.

Keluhan dan harapan para petani tersebut mendapat respons positif dari pihak akademisi. Ketua Program Studi Agroteknologi Universitas Warmadewa, Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana, M.Si., menyatakan bahwa seluruh persoalan yang dihadapi oleh KWT Mekar Wijaya Kusuma menjadi fokus utama dalam program kemitraan ini.

"Kami di Prodi Agroteknologi Unwar sangat memahami kecemasan petani, terutama terkait fluktuasi cuaca yang mengganggu sistem tumpangsari rosela. Kami sedang menyiapkan formula teknologi adaptif, termasuk introduksi mikroorganisme pengurai untuk pembuatan kompos kilat agar petani bisa mandiri dalam menyediakan nutrisi tanaman yang tangguh," kata I Gusti Bagus Udayana.

Pihaknya menambahkan, kerja sama internasional dengan Universiti Teknologi MARA Malaysia ini sengaja dirancang untuk mempercepat transfer teknologi tersebut. Penanganan dari sisi hulu saja tidak akan menyelesaikan masalah tanpa adanya perbaikan di sisi hilir.

Gayung bersambut, perwakilan Fakulti Sains Gunaan Universiti Teknologi MARA, Siti Khairiyah Mohd Hatta, memberikan paparan ilmiah yang memperkuat langkah para petani. Menurutnya, kombinasi antara rosela dan bayam brazil merupakan strategi pertanian yang sangat menjanjikan karena menggabungkan keberlanjutan lingkungan, efisiensi lahan, dan manfaat ekonomi. 

"Kombinasi rosela dan bayam brazil ini sangat sesuai karena kedua tanaman memiliki struktur pertumbuhan dan kebutuhan sumber daya yang berbeda. Rosela tumbuh secara vertikal ke atas, sedangkan bayam brazil tumbuh secara horizontal sebagai penutup tanah sehingga penggunaan ruang menjadi jauh lebih efisien ," papar Siti Khairiyah. 

Siti Khairiyah juga memaparkan solusi konkret atas kekhawatiran petani mengenai persaingan nutrisi dan air akibat cuaca yang tidak menentu. Ketika rosela yang berakar dalam dan bayam brazil yang berakar dangkal berada di satu lahan, tantangan perebutan nutrisi bisa diatasi dengan penambahan kompos organik serta pengaturan jarak tanam yang ideal. 

"Mengenai perbedaan kebutuhan air, di mana rosela lebih tahan kering sedangkan bayam brazil memerlukan air yang kerap, petani bisa menerapkan sistem penyiraman tetes (water drip) serta penggunaan sungkupan untuk menjaga kelembapan tanah. Langkah ini sekaligus meminimalkan risiko kegagalan tanaman saat cuaca buruk ," tambahnya

FPST Unwar, UiTM Malaysia, dan Pampanga Filipina Rancang Pemberdayaan Berbasis Rosella

TABANAN, BALI KINI  – Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa (FPST Unwar) Bali, bersama Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia dan Pampanga State Agricultural University Filipina, resmi merancang program pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi komoditas rosella. Langkah strategis lintas negara ini diwujudkan melalui pembukaan kegiatan International Community Service atau Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional yang digelar di Kabupaten Tabanan, Selasa (26/5/2026).
Program kolaborasi internasional ini mengusung tema “Community Empowerment through Cultivation and Rosella Product Innovation: Collaboration with Local Communities for Sustainable Development”. Fokus utamanya adalah menghulu-hilirkan potensi tanaman rosella agar memberikan dampak ekonomi langsung bagi kemandirian komunitas lokal.

Dekan FPST Universitas Warmadewa, Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, M.Si., menegaskan bahwa tantangan pembangunan berkelanjutan saat ini memerlukan penguatan kapasitas masyarakat yang tumbuh dari aktivitas nyata, produktif, dan bernilai ekonomi tinggi. Melalui kultivasi yang terarah serta hilirisasi inovasi produk berbasis rosella, luaran akademis diharapkan tidak sekadar menjadi dokumen di atas meja.
"Kita semua memahami bahwa pemberdayaan masyarakat memerlukan kolaborasi lintas pihak: kampus sebagai sumber ilmu dan teknologi, pemerintah sebagai fasilitator kebijakan, dunia usaha sebagai penggerak rantai nilai, serta masyarakat sebagai pelaku utama," ujar Luh Suriati saat membuka acara.

Suriati menambahkan, tanaman rosella dipilih karena sifatnya yang adaptif, memiliki peluang pasar yang luas, dan dapat dikembangkan secara bertahap oleh kelompok tani. Inovasi produk turunannya—seperti minuman fungsional dan olahan pangan—akan mendorong terciptanya nilai tambah yang berujung pada peningkatan pendapatan masyarakat.
"Di sinilah pemberdayaan menjadi nyata: ilmu bertransformasi menjadi usaha, dan usaha bertransformasi menjadi kesejahteraan," tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan akademisi dari Pampanga State Agricultural University Filipina, Princes B. Torres, MSc., RAgr., mengungkapkan bahwa pengabdian masyarakat berskala internasional merupakan kerja kolektif yang menuntut komitmen besar lintas sektor. Kolaborasi ini memastikan bahwa tanggung jawab sosial universitas benar-benar berjalan secara menyeluruh sebagai jembatan pengetahuan bagi petani.

Menurut Torres, salah satu langkah konkret dalam program pendampingan ini adalah dengan menekan tingginya penggunaan pupuk kimia melalui introduksi pertanian organik yang lebih ramah lingkungan.
"Para petani diberi dukungan nyata berupa *starter kit* yang berisi panduan pengomposan, pemilihan pupuk, serta teknik pengendalian hama. Kami membawa hasil riset universitas ke lapangan, seperti penggunaan agen pengendali hayati dan formula komposisi pengomposan yang lebih efektif untuk langsung diaplikasikan oleh petani di lahan mereka," papar Torres.

Torres juga menguraikan bahwa pemberdayaan ini dirancang secara integratif dari hulu hingga hilir. Kampus tidak hanya melakukan transfer teknologi budidaya dan pengolahan untuk menciptakan nilai tambah produk—seperti mengolah komoditas lokal menjadi produk siap jual—tetapi juga mengawal aspek hilirisasinya.

"Kami juga membantu mempromosikan produk hasil komunitas ini melalui pemanfaatan media digital, YouTube, televisi, hingga radio demi memastikan akses pasar yang nyata. Tujuannya agar masyarakat mampu mengadaptasi teknologi baru secara mandiri dan memperoleh manfaat ekonomi jangka panjang," tambahnya.

Langkah sinergis lintas negara ini mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kabupaten Tabanan. Kepala Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Tabanan, Irina Rosmala Dewi, menyatakan bahwa sektor pertanian saat ini tidak bisa lagi dikelola secara konvensional di tengah ancaman perubahan iklim ekstrem, penyusutan lahan produktif, dan lonjakan populasi.

Menurut Irina, kerja fisik yang berat di sektor pertanian kini membutuhkan sentuhan inovasi sains dan teknologi sebagai sebuah kebutuhan mutlak untuk menjaga ketahanan pangan global.

"Kita butuh semangat modernisasi pertanian (precision farming), mulai dari penggunaan sensor tanah berbasis kecerdasan buatan (AI), penyemprotan presisi, hingga sistem manajemen rantai pasok yang terintegrasi. Inilah yang akan mengubah wajah pertanian kita menjadi efisien dan berkelanjutan," kata Irina.

Ia mengingatkan agar kolaborasi riset antara akademisi Indonesia, Malaysia, dan Filipina ini memberikan solusi nyata di lapangan demi memastikan ketersediaan pangan bagi generasi masa depan. Pihaknya berharap forum internasional ini melahirkan implementasi konkret yang langsung menyentuh tanah hilir.

"Saya sangat bangga melihat antusiasme yang luar biasa ini. Ini bukti kepedulian terhadap masa depan pertanian masih sangat menyala. Namun, jangan biarkan apa yang sudah baik ini hanya berhenti di atas kertas atau menjadi pajangan. Bawa ilmu ini ke sawah, ke ladang, dan ke perkebunan agar manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat," pungkas Irina.
© Copyright 2021 BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA | All Right Reserved