-->

Kamis, 19 Februari 2026

Bupati Tabanan Resmikan Tower Beji Abianlalang, Wanasari, Tabanan


Tabanan , Bali Kini 
– Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, menghadiri undangan Upacara Pemelaspasan Tower Air Bersih sekaligus meresmikan dan membuka secara simbolis kran pertama Toya Beji Abianlalang yang berlokasi di Banjar Abianlalang, Desa Wanasari, Tabanan, Selasa (17/2).  Kegiatan ini turut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Tabanan, Sekda dan Pimpinan Perangkat Daerah terkait, Perbekel dan Bendesa Adat Wanasari, serta tokoh dan masyarakat setempat.


Pembukaan tower ini disambut penuh antusias oleh masyarakat. Meski diguyur hujan, prosesi peresmian tetap berlangsung khidmat dan semarak. Turunnya hujan dimaknai sebagai pertanda alam berupa berkah atas pelaksanaan upacara pemelaspasan sumber air suci yang diharapkan membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Diharapkan pula keberadaan tower ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan, memperkuat pelayanan serta mendukung kebutuhan masyarakat ke depan.


“Dulu salah satu aspirasi masyarakat di sini adalah pengadaan air, karena beberapa warga belum teraliri air karena tower nya kurang tinggi dan tidak cukup dalam pengadaan air. Apalagi, beji di belakang atau di bawah niki sangat curam, sehingga secara gravitasi menaikkan air sangat susah. Maka dari itu, solusi yang terbaik adalah tower, sehingga tower mengaliri air kepada krama masyarakat dalam rangka untuk kehidupan masyarakat sehari-hari.” jelas Bupati Sanjaya seraya mengucap syukur tower ini terwujud.


Menjawab kebutuhan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Tabanan bersama jajaran terkait mengalokasikan bantuan melalui APBD sebesar Rp.350.000.000,- untuk pembangunan tower dan pengelolaan sumber air sebagai wujud komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Untuk itu, diharapkan seluruh masyarakat dapat bersama-sama menjaga dan memanfaatkan fasilitas ini dengan penuh tanggung jawab. 


“Inilah bagian dari kontribusi pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat,” imbuh Sanjaya. Sekaligus menegaskan bahwa dukungan masyarakat menjadi motivasi bagi pemerintah daerah untuk terus merealisasikan program pembangunan infrastruktur dan pelayanan dasar dalam lima tahun ke depan. Begitupun, pemerintah berkomitmen untuk senantiasa mendengar aspirasi masyarakat serta memastikan setiap program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan riil di lapangan.


Sementara itu, Ida Bagus Yudhi Surya Wiarsa selaku Ketua Panitia Acara menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran Bupati beserta jajaran serta bantuan yang telah diberikan dalam pembangunan Beji Abianlalang. Fasilitas air bersih ini direncanakan melayani 75 Kepala Keluarga, namun sebelumnya baru sekitar 60 KK yang dapat menikmati manfaat air bersih karena masyarakat di sisi barat jalan utama belum terjangkau distribusi air. 


Kini, dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Tabanan melalui peninggian tower tandon, seluruh masyarakat dapat merasakan akses air bersih secara merata. Peresmian ini menjadi tonggak penting dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat sekaligus memperkuat semangat gotong royong dalam pembangunan desa.  Pihaknya juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, baik dari unsur pemerintah desa, tokoh masyarakat, maupun warga yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam proses pembangunan. 

BPBD Karangasem Lakukan Asesmen Kerusakan Bangunan di Lima Desa, Rekomendasi Teknis Segera Diterbitkan

Laporan reporter: Gusti Ayu Purnamiasih 
Karangasem, Bali Kini – BPBD Kabupaten Karangasem melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops PB) melaksanakan asesmen atau penilaian kerusakan bangunan akibat dampak bencana di sejumlah wilayah Kabupaten Karangasem, Rabu (18/2/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WITA ini menyasar lima desa, yakni Desa Selumbung, Desa Duda Timur, Desa Telagatawang, Desa Duda Utara, dan Desa Bebandem. Tim terdiri dari dua orang Tim Teknis Jitupasna Dinas PUPRKIM Karangasem, empat orang Tim Teknis Jitupasna BPBD Karangasem, kawil setempat, serta masyarakat terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Karangasem, Ida Bagus Ketut Arimbawa, mengatakan asesmen dilakukan untuk memastikan tingkat kerusakan secara riil di lapangan sebelum diterbitkan rekomendasi teknis.

“Kami turun langsung ke lokasi untuk melakukan verifikasi dan penilaian kerusakan bangunan terdampak bencana. Data ini menjadi dasar penerbitan rekomendasi teknis sebagai syarat pengajuan bantuan oleh masyarakat,” ujarnya.

Di Desa Selumbung, Kecamatan Manggis, bencana pohon tumbang yang terjadi pada 10 Februari 2026 mengakibatkan kerusakan pada tempat suci milik I Nyoman Sujastana di Banjar Dinas Kelodan. Kerusakan meliputi Pelinggih Gedong Sari, Pelinggih Taksu, serta penyengker dengan ukuran sekitar 1 meter x 1 meter.

Sementara di Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, tanah longsor yang terjadi pada 5 Februari 2026 berdampak pada dua lokasi. Tempat suci milik I Made Suryawan di Banjar Dinas Batu Gede hanya mengalami pergeseran pelinggih tanpa kerusakan struktur. Sedangkan rumah milik I Komang Sudarmika tidak mengalami kerusakan bangunan, namun tanah di sekitar rumah mengalami longsor.

Kondisi serupa juga ditemukan di Desa Telagatawang, Kecamatan Sidemen. Rumah milik I Gede Budiarta di Banjar Dinas Kebung Kauh terdampak longsor, namun sejak awal tidak terdapat konstruksi bangunan di lokasi tersebut, sehingga kerusakan hanya terjadi pada tanah.

Berbeda halnya di Desa Bebandem. Banjir yang terjadi pada 9 Februari 2026 menyebabkan kerusakan senderan rumah milik I Nyoman Yasa di Banjar Dinas Jungsri dengan ukuran sekitar 4,5 meter x 12 meter.

Selain rumah dan tempat ibadah, dampak bencana juga menyasar sarana prasarana perekonomian. Di Desa Duda Utara, Kecamatan Selat, pohon tumbang pada 8 Februari 2026 merusak atap tempat usaha kerajinan kayu milik I Ketut Mudayasa di Banjar Dinas Geriana Kangin dengan ukuran sekitar 10 meter x 6 meter.

Ida Bagus Ketut Arimbawa menegaskan, hasil asesmen akan segera ditindaklanjuti dengan penerbitan rekomendasi teknis.

“Setelah rekomendasi keluar, masyarakat yang terdampak dapat mengajukan proposal bantuan sesuai dengan nilai yang direkomendasikan. Kami pastikan prosesnya sesuai ketentuan dan berbasis data lapangan,” tegasnya.

BPBD Karangasem mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana, terutama di musim hujan, serta segera melapor jika terjadi kejadian serupa agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan terukur. (Ami)

Rabu, 18 Februari 2026

Kemenham RI Kunjungi Klungkung, Perkuat Sinergi Program "Kampung Redam" dan "Desa Sadar HAM"

Klungkung , Bali Kini - Pemerintah Kabupaten Klungkung menerima kunjungan dari Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham) Republik Indonesia pada Rabu (18/2). Kunjungan ini bertujuan untuk mensosialisasikan sekaligus memperkuat implementasi dua program prioritas nasional, yakni pembentukan 2.000 Kampung Redam (Rekonsiliasi dan Perdamaian) serta pengembangan 2000 Desa Sadar HAM.

Delegasi Kemenham RI diwakili oleh Staf Khusus Kementerian HAM, Thomas Harming Suwarta, didampingi oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian HAM Bali, Anak Agung Ngurah Dalem. Kehadiran rombongan disambut langsung oleh Wakil Bupati Klungkung, Tjokorda Gde Surya Putra (Tjok Surya), di ruang rapat Bupati.

Dalam pertemuan tersebut, Wakil Bupati Tjok Surya menyampaikan apresiasi mendalam atas kunjungan dari Kemenham. Ia berharap program ini menjadi jembatan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah.

​"Kami sangat mengapresiasi kehadiran perwakilan Kemenham. Harapannya, program 2.000 Kampung Redam dan Desa Sadar HAM ini dapat bersinergi penuh dengan visi pembangunan di Kabupaten Klungkung," ujar Wabup Tjok Surya.

​Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa khusus untuk program Kampung Redam, Pemkab Klungkung selama ini telah membangun pondasi yang kuat melalui kolaborasi lintas sektor. Kunci keberhasilan menjaga kondusivitas wilayah selama ini adalah harmonisasi antara lembaga dinas dan lembaga adat.

​"Pemkab Klungkung selalu bersinergi dengan lembaga dinas maupun adat. Hal ini krusial untuk mewujudkan situasi yang kondusif demi menuju Klungkung yang Mahottama—Maju, Harmonis, Tentram, dan Makmur," tambahnya.

Sekda Eddy Mulya Buka Sosialisasi dan Rakor Pengawasan 2026Tekankan Penguatan Pengawasan Demi Tata Kelola Pemerintahan yang Bersih

Ket. Foto : Sekda I Gusti Ngurah Eddy Mulya dalam kesempatan membuka Sosialisasi dan Rakor Pengawasan Kota Denpasar Tahun 2026, Rabu (18/2), bertempat di Graha Sewakadarma Lumintang.


Denpasar, Bali Kini - Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, secara resmi membuka Sosialisasi dan Rapat Koordinasi (Rakor) Pengawasan Kota Denpasar Tahun 2026, Rabu (18/2), bertempat di Graha Sewakadarma Lumintang.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring dan luring ini turut melibatkan Inspektur Provinsi Bali serta diikuti jajaran pimpinan perangkat daerah, camat, lurah, perbekel, pimpinan Perusahaan Daerah Kota Denpasar, hingga kepala sekolah SD dan SMP se-Kota Denpasar. Rakor ini menjadi ruang bersama untuk menyatukan persepsi dan memperkuat sinergi dalam mengawal penyelenggaraan pemerintahan daerah agar semakin akuntabel dan berintegritas.

Walikota Denpasar dalam sambutannya yang dibacakan Sekda Eddy Mulya, menegaskan bahwa pengawasan merupakan fondasi utama dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih, dan melayani. Pengawasan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik, mencegah praktik korupsi, sekaligus menjadi sistem peringatan dini (early warning system) terhadap potensi persoalan hukum.

“Inspektorat bersama Aparat Pengawasan Intern Pemerintah atau APIP bukan hadir untuk mencari kesalahan, melainkan memberikan pendampingan dan pembinaan agar penyelenggaraan pemerintahan berjalan semakin baik dan akuntabel,” ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan, tantangan pengelolaan pemerintahan pada tahun 2026 akan semakin kompleks seiring perkembangan teknologi, dinamika regulasi, serta meningkatnya ekspektasi masyarakat. Karena itu, fokus pembinaan dan pengawasan diarahkan pada kegiatan reviu, monitoring dan evaluasi, pemeriksaan ketaatan dan kinerja, pengawasan tata kelola desa, peningkatan kapabilitas Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP), serta bentuk pengawasan lainnya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pihaknya juga mengajak seluruh perangkat daerah untuk terus memperkuat komitmen kolaborasi dan pengembangan kapasitas diri. Berbagai regulasi dari kementerian dan lembaga, menurutnya, harus dimaknai sebagai pedoman untuk berbenah secara berkelanjutan.

“Kita tentu menyadari masih ada keterbatasan. Namun saya berharap semangat melayani tetap menjadi prioritas utama, sehingga pelayanan paripurna kepada masyarakat dapat terus kita hadirkan,” tambah Sekda Eddy Mulya.

Pada kesempatan tersebut, Sekda Eddy Mulya juga menekankan pentingnya peran APIP sebagai mitra konsultatif bagi perangkat daerah, terutama di tengah pengawasan eksternal yang kini semakin ketat dan detail. Dengan pendekatan pendampingan, potensi kesalahan maupun penyimpangan diharapkan dapat dicegah sejak dini.

Sementara itu, Inspektur Daerah Kota Denpasar, Ni Ketut Dewi Ratih Purnamasari, menyampaikan bahwa sosialisasi dan rakor ini diikuti oleh seluruh kepala OPD, camat, lurah, perbekel, pimpinan perusahaan daerah, hingga kepala sekolah SD dan SMP se-Kota Denpasar.

Ia menjelaskan bahwa Inspektorat memiliki posisi strategis sekaligus tantangan besar dalam mengawal tata kelola pemerintahan agar bebas dari penyimpangan, korupsi, dan indikasi fraud. Oleh karena itu, penyamaan pemahaman terkait penugasan pengawasan tahun 2026 menjadi sangat penting agar seluruh perangkat daerah dapat mendukung pelaksanaan pengawasan secara optimal.

"Sosialisasi dan Rakor Pengawasan ini diharapkan menjadi momentum penguatan sinergi lintas sektor, sekaligus langkah konkret menuju terwujudnya pemerintahan Kota Denpasar yang transparan, profesional, dan berintegritas," ujarnya. (Pur)

Jembrana makin tertata, pemkab sukses relokasi PKL, kini Tempati Kawasan "Beten Ancak"



JEMBRANA , BALI KINI – Kawasan trotoar di sekitar Lapangan Dauh Waru kini kembali tertib dan terlihat lebih asri setelah para pedagang kaki lima (PKL) direlokasi ke tempat yang telah disiapkan pemerintah daerah. Penataan ini dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jembrana sebagai upaya menjaga ketertiban umum sekaligus mempercantik wajah kota.

Para PKL yang sebelumnya berjualan di trotoar dan pinggir jalan sekitar lapangan dipindahkan ke lokasi baru di seberang jalan, yang diberi nama kawasan Kaki Lima Beten Ancak. Area tersebut menggunakan lahan pinjam pakai dari Kementerian Keuangan dan Pemerintah Provinsi Bali.

Lokasi relokasi dirancang mampu menampung hingga 56 PKL. Saat ini, sebanyak 46 pedagang telah menempati tempat baru tersebut. Pemerintah daerah memastikan fasilitas yang disediakan tetap strategis sehingga aktivitas ekonomi para pedagang dapat terus berjalan dengan baik.

Wakil Bupati Jembrana, I Gede Ngurah Patriana Krisna, rabu ( 18/2), mengatakan bahwa relokasi ini bertujuan menciptakan ketertiban dan keamanan di kawasan trotoar tanpa memutus mata pencaharian para PKL.

“Relokasi ini bukan untuk membatasi ruang usaha pedagang, tetapi justru memberikan tempat yang lebih tertata dan nyaman sehingga kawasan lapangan tetap indah dan ekonomi masyarakat tetap bergerak,” ujarnya.

Dengan penataan ini, pemerintah berharap kawasan Lapangan Dauh Waru dapat menjadi ruang publik yang lebih nyaman bagi masyarakat, sekaligus tetap menjadi pusat aktivitas ekonomi warga.

masyarakat kini dapat menikmati fasilitas sosial di Lapangan Dauh Waru dengan lebih nyaman. Trotoar yang sebelumnya tertutup lapak kini kembali bersih, sementara para pengunjung tetap bisa berbelanja kuliner tepat disebrang lapangan Dauh Waru atau Kawasan Beten Ancak yang lokasinya sangat terjangkau. (* )

Miliki Warung yang Layak, Jadi Harapan Baru Bagi Dadong Luh Sandat di Usia Senja

Jembrana , Bali Kini  - Senyum sumringah tak lepas dari wajah Ni Luh Sandat (65)  saat menyentuh dinding tembok baru warung miliknya. 

Selama beberapa tahun kebelakang, warung kecil miliknya (red) yang terletak di Desa Tegalbadeng Barat itu hanya beratapkan asbes dan berlantaikan tanah kerap bocor saat hujan tiba sehingga menyebabkan becek. Namun hari ini, segalanya berubah.


Melalui program "Bedah Warung", hasil kolaborasi apik antara Pemerintah Daerah dan Bumdesma LKD Kecamatan Negara, warung Dadong Luh Sandat kini bertransformasi menjadi tempat usaha yang lebih baik,  layak, dan tentunya bersih.


"Saya mengapresiasi kolaborasi Bumdesma LKD Kecamatan Negara turut mensukseskan program bedah warung yang menjadi program di Jembrana. Harapan kita semua sama, kita ingin mendorong UMKM-UMKM kecil yang ada didesa itu bisa bertumbuh lebih baik kedepannya," kata Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan usai peresmian program bedah warung dan bedah rumah, Rabu (18/2).


Hal yang sama juga disampaikan Bupati Kembang saat peresmian program bedah warung milik I Komang Mudiarsana di desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo yang juga merupakan hasil kolaborasi pemerintah dengan Bumdesma Cahaya Eksa Mandiri LKD Kecamatan Mendoyo.


Kembali lagi, Pihaknya berharap, adanya program bedah warung ini agar warung-warung tradisional mampu bersaing dengan toko-toko modern yang makin menjamur.


"Tentu harapan kami program Bedah Warung ini bisa menjadi penopang ekonomi rakyat. Warung-warung kecil di Jembrana harus tetap eksis dan mampu bersaing," kata Bupati Kembang yang didampingi Ny. drg. Ani Setiawarini.

Bupati Kembang juga menambahkan program Bedah Warung tidak hanya memberikan bantuan fisik. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana ke depan juga akan memberikan pembinaan dan pendampingan kepada para pemilik warung.

Pembinaan dan pendampingan bakal diberikan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT). 

"Pendampingan tersebut meliputi penataan produk, pencahayaan, penanganan produk kedaluwarsa, pemilihan distributor yang tepat hingga membantu akses permodalan melalui perbankan," tutupnya (*)

Selasa, 17 Februari 2026

Genjot PAD, Pemkab Jembrana Ujicobakan Digitalisasi Retribusi Terminal Gilimanuk Lewat Sistem Tolgate

Jembrana, Bali Kini - Pemerintah Kabupaten Jembrana resmi menguji coba sistem tolgate digital (retribusi digital )  untuk retribusi parkir manuver dan Terminal Gilimanuk pada Selasa (17/2/2026). 
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata untuk mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sistem pembayaran nontunai yang transparan dan bebas dari potensi kebocoran.

Sebagai pintu masuk utama logistik dan penumpang ke Pulau Bali, Terminal Gilimanuk memiliki potensi penerimaan daerah yang sangat besar. Dengan menggandeng PT Bank BPD Bali, Pemkab Jembrana kini beralih dari pemungutan manual ke sistem digital guna memastikan setiap rupiah retribusi tercatat secara real-time dan masuk langsung ke kas daerah.



 

Sistem tolgate otomatis meminimalkan interaksi tunai antara petugas dan pengguna jasa, sehingga menutup celah pungutan liar atau kesalahan pencatatan.
 

Sementara data transaksi yang masuk terpantau secara langsung oleh pemerintah, memungkinkan proyeksi dan pengawasan anggaran yang lebih akurat.


 

Sekretaris Daerah Kabupaten Jembrana, I Made Budiasa, menegaskan bahwa fokus utama dari transformasi ini adalah penguatan fiskal daerah melalui tata kelola yang bersih.

" Tujuan utama digitalisasi ini adalah mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta menciptakan sistem pengelolaan retribusi yang lebih tertib dan terintegrasi. Dengan sistem yang akuntabel, kita bisa memastikan seluruh potensi pendapatan daerah terserap maksimal untuk kepentingan masyarakat Jembrana," tegas I Made Budiasa.




Program ini juga merupakan implementasi dari Program Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD). Ke depan, keberhasilan di Terminal Gilimanuk akan menjadi blueprint atau percontohan bagi digitalisasi titik-titik retribusi lain di seluruh wilayah Kabupaten Jembrana.

Melalui komitmen ini, Kata Budiasa Jembrana optimis dapat meningkatkan kemandirian fiskal daerah sekaligus memberikan layanan publik yang lebih modern, efisien, dan terpercaya di era digital.

" Digitalisasi memangkas birokrasi pemungutan, sehingga biaya operasional dapat ditekan dan dialihkan untuk pembangunan infrastruktur publik lainnya, " pungkasnya. ( * )

Wali Kota Jaya Negara Hadiri Pemelaspasan Candi Bentar dan Penyengker Setra Desa Adat Penatih.

Denpasar, Bali Kini - Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri upacara Pemelaspasan Candi Bentar, Penyengker Setra, dan Jembatan Ring Pura Kahyangan Dalem Desa Adat Penatih, Selasa (17/2). Kegiatan ini menjadi momentum sakral dalam rangka penyucian sekaligus peneguhan fungsi kawasan setra sebagai ruang suci bagi masyarakat adat.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Anggota DPRD Provinsi Bali 
I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Anggota DPRD Kota Denpasar, I Ketut Budha, Kepala Dinas Perumahan Kota Denpasar I Gede Cipta Sudewa Atmaja, Camat Denpasar Timur Ketut Sri Karyawati dan Lurah Penatih  I Wayan Murda. Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Jaya Negara melaksanakan prosesi mendem Panca Datu di kawasan setra, menandatangani prasasti, serta meninjau langsung penyengker yang telah diupacarai melaspas.

Wali Kota Jaya Negara memberikan apresiasi kepada warga Desa Adat Penatih atas semangat gotong royong dalam membangun Candi Bentar dan tembok penyengker setra. Meski dengan keterbatasan anggaran bantuan dari Pemerintah Kota Denpasar, krama desa tetap mampu bersinergi dan bergotong royong hingga pembangunan dapat terwujud dengan baik.

"Dengan telah dilaksanakannya upacara melaspas tersebut, saya berharap Candi Bentar dan penyengker setra dapat dimanfaatkan secara optimal dalam pelaksanaan swadarma pelayanan masyarakat, khususnya dalam prosesi upacara kematian serta kegiatan adat lainnya yang berkaitan dengan setra," ujar Jaya Negara.

Sementara itu, Jro Bendesa Desa Adat Penatih, I Wayan Eka Yana, mengucapkan rasa syukur karena seluruh warga dapat berkumpul dan melaksanakan upacara pemelaspasan dengan lancar dan penuh makna. Sebelum pelaksanaan upacara, pihak desa bersama warga telah melaksanakan pekeling untuk memastikan batas ruang suci dan kawasan setra. Prosesi juga disertai pengeruakan serta menghaturkan Banten Guru Piduka sebagai bentuk pakeling kepada Ida Betara, sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan terencana dan terorganisir dengan baik, baik secara sekala maupun niskala.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Denpasar atas bantuan dan dukungan yang diberikan. Menurutnya, bantuan tersebut bukan hanya bernilai material, tetapi juga menjadi wujud nyata komitmen dalam menjaga serta melestarikan adat, tradisi, dan budaya sebagai warisan luhur bersama.

“Kami juga menghaturkan rasa syukur dan terima kasih kepada alam semesta, kepada bumi dan lingkungan sekitar yang telah memberikan keberkahan sehingga seluruh rangkaian upacara dapat terlaksana dengan baik, tertib, dan penuh khidmat,” ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari partisipasi aktif seluruh krama desa, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Setiap peran telah dipersiapkan secara rinci sehingga semangat gotong royong dapat terwujud secara maksimal dan menciptakan situasi yang harmonis seperti saat ini.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut turut dilaksanakan mupuk panca datu serta penanaman pohon dadap wong, kepah, pole, celagi, timbul, dan biyu akah. Penanaman pohon ini bukan sekadar simbol penghijauan, melainkan menjadi landasan dan cerminan kehidupan beragama.

Menurutnya, pohon-pohon tersebut melambangkan keseimbangan, perlindungan, kesucian, dan keberlanjutan hidup, sejalan dengan ajaran untuk menjaga harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam lingkungan (manut sekadi taru premana).

“Kami berharap apa yang telah dilaksanakan hari ini membawa kerahayuan, keharmonisan, dan kesejahteraan bagi masyarakat, serta menjadi penguat semangat bersama untuk terus menjaga kelestarian budaya dan kesucian tempat-tempat suci yang kita miliki,” pungkasnya. (Ayu).

Hindu Tionghoa Berbaur Rayakan Imlek

Laporan Reporter : Jero Ari 

Denpasar , Bali Kini  -  Ratusan umat datang silih berganti melaksanakan persembahyangan di Griya Kongco Dwipayana, Jalan Tanah Kilap, Desa Pemogan, Denpasar. Mereka melakukan persembahyangan dalam rangka Tahun Baru Imlek 2577, Selasa, (17/2).
Keberagaman umat Hindu dan etnis Tionghoa sangat kental terlihat disejumlah Kongco. 
Busana, sarana upakara, cara mereka berdoa pun beragam sesuai keyakinan dengan didominasi warna merah. Ada yang menggunakan pakaian adat Bali, ada pula yang terlihat menggunakan pakaian serba merah. 
Ada yang membawa banten maupun canang sebagaimana yang dibawa ke Pura, dan ada yang membawa dupa. Cara mereka sembahyang pun beragam, ada yang melakukan tata cara berdoa secara Hindu dengan bunga, ada pula yang menggunakan hio atau dupa. Usai sembahyang mereka diperciki tirta oleh pemangku di sana dan mendapat bija beras berwarna kuning.

Pemangku di Kongco Dwipayana, Ida Bagus Adnyana mengatakan persembahyangan bersama telah dilakukan pada pukul 00.00 Wita untuk melepas tahun yang sebelumnya dan membuka tahun yang baru. Persembahyangan ini usai pukul 02.00 Wita yang kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan sendiri-sendiri. Ia menyebut ada 31 titik persembahyangan di Kongco ini. 
"Tahun Baru Imlek ini kita membuka lembaran baru. Persembahyangan ini berlangsung hingga tengah malam nanti. Umat yang datang dari segala penjuru," katanya.
Di tahun kuda api, berharap semua orang memanfaatkan peluang yang ada, jika mampu memanfaatkan peluang maka akan jadi sukses. "Berpacu dengan waktu. Namun kalau salah, bisa membuat hancur, harus hati-hati juga," Pesannya.
Berharap tahun ini akan lebih baik dari tahun sebelumnya, nuansa merah pun sangat kental pada Kongco ini. Merah itu lambang kecerahan. "Kecerahan merupakan simbol sejahtera dan bahagia karena sejahtera memberikan kebahagiaan. Omong kosong jika tanpa kesejahteraan akan bahagia," katanya.
Selain persembahyangan, juga digelar hiburan kesenian di tempat ini mulai dari Barongsai hingga kesenian Bali. "Tadi malam hampir seimbang antara etnis Tionghoa dan Bali, di Bali kan kepercayaannya Siwa Budha. Jadi antara pura dengan klenteng ada kemiripan, kebersamaan," katanya.

Gebyar Bulan Bahasa Bali di Puri Agung Karangasem: Agung Kosalya Gaspol Satukan Krama Desa Adat

Laporan reporter: Gusti Ayu Purnamiasih 

Karangasem, Bali Kini – Desa Adat Karangasem menggelar peringatan Bulan Bahasa Bali pada 17 Februari 2026 di Puri Agung Karangasem. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kelihan Adat Desa Adat Karangasem, Anak Agung Made Kosalya, sebagai bentuk komitmen melestarikan adat, budaya, dan aksara Bali sesuai dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali.

Beragam lomba digelar dalam kegiatan tersebut. Untuk tingkat anak-anak, lomba menulis aksara Bali diikuti oleh siswa SD dari seluruh desa adat di Karangasem. Selain itu, lomba mesatua Bali diikuti oleh para serati Desa Adat Karangasem. Tidak hanya itu, suasana semakin semarak dengan lomba karaoke pop Bali yang melibatkan para penglingsir banjar, utusan krama banjar, serta pecalang Desa Adat Karangasem.

Kelihan Adat Desa Adat Karangasem, Anak Agung Made Kosalya, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bagian dari upaya mempererat kebersamaan krama desa adat, khususnya di awal masa kepemimpinannya.

“Kami ingin menjadikan Bulan Bahasa ini sebagai gebyar kebersamaan di awal kepemimpinan kelian desa adat yang baru. Harapannya, ikatan krama Desa Adat Karangasem semakin erat dan intens ke depannya,” ujar Anak Agung Made Kosalya.

Ia juga menambahkan bahwa dipilihnya Puri Agung Karangasem sebagai lokasi kegiatan memiliki makna historis dan kultural yang kuat.

“Desa adat dan puri memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Puri yang membangun dan menjadi pusat sastra serta budaya di Karangasem. Jadi sangat tepat jika peringatan Bulan Bahasa yang bertujuan melestarikan tradisi dan adat budaya dilaksanakan di Puri Agung Karangasem,” tegasnya.

Untuk memotivasi peserta, panitia menyiapkan berbagai hadiah. Juara I lomba karaoke pop Bali mendapatkan hadiah Rp1.000.000, Juara II Rp800.000, dan Juara III Rp600.000. Selain itu, panitia juga menyediakan hadiah Harapan I, II, dan III dengan nominal ratusan ribu rupiah.

Seluruh peserta yang terdaftar juga menerima bingkisan sebagai bentuk apresiasi. Siswa SD mendapatkan paket buku dan alat tulis, para serati menerima kain, serta peserta lomba karaoke turut disiapkan hadiah pendukung lainnya.

Anak Agung Made Kosalya menekankan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari sinergitas antara desa adat, puri, dan pemerintah.

“Kami selalu mengedepankan sinergi antara desa adat, puri, dan pemerintah. Pelestarian bahasa dan budaya Bali tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Harus bersama,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, Desa Adat Karangasem berharap Bulan Bahasa Bali tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi benar-benar menjadi ruang hidup bagi bahasa, aksara, dan sastra Bali untuk terus diwariskan kepada generasi penerus. (Ami)
© Copyright 2021 BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA | All Right Reserved