-->

Iklan

Sulinggih Parum

BaliKini.Net
Kamis, 17 Desember 2015, 19.06 WIB Last Updated 2015-12-17T12:06:38Z

Bakikini.Net - Dalam rangka menyatukan visi dan persepsi serta pemahanan terhadap cara pandang masyarakat tentang nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Agama Hindu. Khususnya yang menyangkut tentang tatacara pelaksanaan upakara dan upacara sesuai tingkatan agung alit di Pura Kahyangan Tiga Kahyangan Desa wawengkon Desa Pakraman. Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Kebudayaan bekerjasama dengan para pakar dan para Sulinggih/Pandita, menggelar “Paruman Sulinggih”. Paruman dibuka langsung Pj. Walikota Denpasar A.A. Grya ditandai dengan penyerahan punia dan buku kepada para sulinggih, Kamis (17/12) di Wantilan Pura Agung Lokanatha Lumintang Denpasar. Turut hadir seluruh jajaran dan steak holder yang terkait dengan keagamaan.

Menurut Ida Pedanda Ngurah selaku Narawakya, paruman yang diikuti puluhan Sulinggih di Kota Denpasar disamping bertujuan membahas berbagai persoalaan yang dihadapi umat khususnya terkait dengan parahyangan. Paruman kali ini juga sebagai ajang tatap muka dan silaturahmi antar para sulinggih dan para umat dan baktanya. Dipilihnya topik "Agung Alit Upacara Piodalan di Pura Kahyangan Tiga dan Kahyangan Desa". Mengingat dalam pelaksanaannya tata dan cara umat masih banyak yang berbeda bahkan keliru yang cenderung beraroma mula keto. Untuk itu dalam kaitan ini dipandang perlu adanya pembahasan dan penyamaan visi dan persepsi. Yang kemudian dibahas lalu disepakati bersama untuk dijadikan pedoman dalam pelaksanaan upacara Yadnya. Menurut Ida Pedanda Ngurah bahwa ukuran agung alit dimaksudkan adalah ukuran besar kecilnya sebuah upacara yang disesuaikan dengan kemampuan atau lasim disebut tingkatan nista, madya dan utama. Dikatakan pula bahwa upacara piodalan merupakan pelaksanaan upacara Dewa Yadnya yang rutin digelar disuatu pura, sanggah atau merajan. Hari Piodalan ini juga sering disebut sebagai hari pujawali, patirtan atau patoyan. Karena seringnya pelaksanaan upacara ini dilaksanakan maka perlu ada pedoman agar tak melenceng dari sumber yang ada seperti sastra agama, terangnya. Dari paruman tersebut para sulinggih juga berharap agar kegiatan paruman sulinggih ini bisa dilaksanakan rutin setiap tahun.

Sementara Ketua Sabha Upadesa Kota Denpasar Ir. I Wy. Meganada berharap agar apa yang dirumuskan para sulinggih bisa dijadikan pedoman dalam pelaksanaan tatanan upacara. Sekaligus sebagai sarana umat dalam meningkat srada dan bhaktinya kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa. Ditambahkan pula bahwa kegiatan paruman sulinggih kali ini merupakan kelanjutan dari paruman sulinggih sebelumnya yang dilaksanakan pada 29 Juni lalu di Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya Desa Sidakarya Densel. (Sdn.)



Komentar

Tampilkan

BERITA TERBARU