-->

Iklan

Menu Bawah

11 Narasumber Kupas Ramayana

BaliKini.Net
Minggu, 18 Agustus 2019, 01.43 WIB Last Updated 2019-08-17T18:43:13Z
Peringatan 36 Tahun Rembug Sastra Purnama Badrawada

DENPASAR,BaliKini.Net  - Bertepatan pada purnama Sasih Karo, Kamis (15/8), Rembug Sastra Purnama Badrawada merayakan ulang tahun ke-36. Perayaan pun digelar tak biasa, 11 narasumber dihadirkan menguliti Ramayana, epos yang menjadi inspirasi gelaran diskusi budaya yang digelar rutin setiap purnama.

Sebelas narasumber yang dihadirkan berasal dari lintas usia, fokus keilmuan, bahkan lintas negara. Mereka adalah Ida Bagus Gede Agastia (budayawan dan penggagas Rembug Sastra Purnama Badrawada), Thomas M. Hunter (dosen The University oh British Columbia), I Dewa Gede Windhu Sancaya (dosen FIB Universitas Udayana), I Dewa Ketut Wicaksana (dosen ISI Denpasar), Ida Bagus Putu Suamba (dosen Politeknik Negeri Bali), I Wayan Westa (jurnalis, penulis), Putu Eka Guna Yasa (dosen FIB Universitas Udayana), I Gede Agus Darma Putra (dosen IHDN Denpasar), I Ketut Eriadi Ariana (jurnalis), Luh Yesi Candrika (Penyuluh Bahasa Bali, dosen IKIP PGRI Bali), dan I Putu Gede Dharma Wibawa Aryana (mahasiswa Sastra Jawa Kuno Universitas Udayana).

Sebagaimana tema yang diangkat, mereka mengetengahkan materi yang berakar dari karya besar Ramayana, khususnya Kakawin Ramayana atau Ramayana Jawa Kuna. IBG Agastia menghadirkan makalah berjudul "Burung-burung dalam Kakawin Ramayana”. Kehadirannya pun menjadi pemantik tersendiri bagi peserta yang hadir dari berbagai kalangan, sebab budayawan yang suntuk membaca dan menafsirkan karya-karya klasik ini mempresentasikan makalah dalam kondisi sakit sehingga duduk di atas kursi roda.

Sementara itu, peneliti sastra Jawa Kuna internasional, Thomas M. Hunter menyajikan makalah berjudil "Tutur dalam Kakawin Ramayana”, sedangkan Windhu Sancaya membawakan tulisan berjudul “Membandingkan Dua Terjemahan Kakawin Ramayana: R Ng Poerbatjaraka dan I Gusti Bagus Sugriwa”. Dalam lingkup Asia Tenggara, kepopuleran Ramayana diungkap oleh tulisan IBP Suamba berjudul "Ramakien: Ramayana Tradisi Thailand".

Dari sudut pandang seni pedalangan, Wicaksana, akademisi sekaligus praktisi pedalangan mempresentasikan tulisan “Kakawin Ramayana sebagai Sumber Lakon Wayang Kulit Bali”. Pandangan Wicaksana terkait pengaruh Ramayana dalam seni rupa dilengkapi dengan tulisan "Ramayana dan Seni Lukis Kamasan” oleh Wayan Westa.

Dalam ranah politik, Guna Yasa, mengupas Kakawin Ramayana dalam tulisan berjudul “Rekonsiliasi Politik dalam Kakawin Ramayana”. Kajian yang menjurus pada tokoh dan episode Kakawin Ramayana dihadirkan Darma Putra dalam “Sronca: Tokoh dan Sifatnya dalam Kakawin Ramayana”, serta Yesi Candrika pada tulisan “Surat Sita untuk Sang Rama”.

Mencoba menjawab permasalahan ekologi saat ini, Eriadi Ariana, menafsirkan Kakawin Ramayana dalam aspek konservasi alam dalam tulisan berjudul “Tentang Hutan, Pertanian, dan Laut: Konservasi Ekologi dalam Kakawin Ramayana”. Sementara, dari sisi teknologi, Dharma Wibawa Aryana mencoba menjejak keberadaan alat transportasi era Ramayana dalam makalah berjudul “Wilmāna: Teknologi Transportasi yang Hilang dari Kakawin Ramayana”.

Thomas Hunter mengungkapkan apresiasinya pada rembug yang konsisten mengungkap bagian terdalam kebudayaan Bali ini. Ia berharap ke depan diskusi dapat terus berlanjut. "Dengan gerakan literasi semacam ini kita bisa membangkitkan masyarakat yang lebih dalam pengertiannya pada kebudayaan dan sejarah kebudayaan. Ini penting, jangan sampai diabaikan. (Sebab) kita menghadapi zaman sekarang yang ada masukan baru, seprrti elektronik dan teknologi. Kebudayaan Bali sebagai sumber pengetahuan jangan sampai diabaikan, apalagi ada angkatan muda yang berbakat dalam kebudayaan ini," katanya.

Pandangan tak jauh berbeda diungkapkan Windhu Sancaya. Menurutnya, studi Jawa Kuno perlu digalakkan kembali untuk mengimbangi kemajuan zaman. Pihaknya percaya apa yang terkurung dalam sastra Jawa Kuno dapat dikembangkan menunjang kemajuan bangsa. "Saat ini Israel belajar Jawa Kuno. Mengapa?
Poerbatjaraka mengimbau kita untuk kembali ke (sastra) Jawa Kuno. Untuk studi hal pertama yang harus digarap adalah mengetahui bahasa, kemudian memberikan interpretasi yang paling tepat," ucapnya.

Lahirnya beragam interpretasi atas uraian sastra tersebut harus didiskusikan. Upaya pencapaian interpretasi tepat dan terbaik harus melalui proses dialektika , tidak bisa monolog. "Harus dibicarakan secara terus menerus. Karema keberanaran itu masih koma, harus dibicarakan harus ada kalabilitas, harus ada guna," tutupnya.
Komentar

Tampilkan

BERITA TERBARU

Kabar Internasional

+