Laporan reporter: Gusti Ayu Purnamiasih
Karangasem, Bali Kini - Perayaan Nyepi Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026 di Bali berlangsung lancar tanpa hambatan, meski bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri dan malam takbiran umat Islam.
Di Desa Bungaya, Kecamatan Bebandem, Karangasem, situasi terpantau aman dan kondusif. Umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian dengan tertib, meliputi amati geni (tidak menyalakan api atau cahaya), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan).
Pengamanan selama Nyepi dilakukan secara maksimal oleh pecalang di masing-masing banjar adat. Mereka disiagakan untuk menjaga ketertiban dan memastikan seluruh warga mematuhi aturan yang berlaku.
Keliang Banjar Adat Tengah, Wayan Gede Purnawan, mengatakan seluruh pecalang telah menjalankan tugas sesuai arahan desa adat.
“Kami yang ditugaskan, termasuk saya sebagai Keliang Banjar Adat Tengah bersama personel pecalang dari masing-masing banjar, tentu atas perintah desa adat dalam hal ini prajuru dan penyarikan desa, kami menjalankan tugas untuk mengamankan situasi lingkungan di Desa Adat Bungaya,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengamanan dilakukan di masing-masing wilayah banjar, serta menjalin koordinasi dengan pihak terkait jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kami sebagai kelian adat mengamankan wilayah di masing-masing banjar adat. Apabila ada hal-hal yang tidak diinginkan, kami berkoordinasi dengan desa dinas maupun desa adat,” tegasnya.
Selain itu, pihak desa adat juga menyiapkan mekanisme untuk kondisi darurat, khususnya bagi warga yang membutuhkan penanganan medis.
“Dari desa adat akan memberikan surat pengantar jika ada situasi darurat, misalnya warga sakit, sehingga yang bersangkutan bisa diantar ke rumah sakit,” imbuhnya.
Di sisi lain, toleransi antarumat beragama juga terlihat di wilayah Bungaya yang berdampingan dengan umat Muslim di Lingkungan Lebah Sari. Umat Muslim tetap melaksanakan takbiran dan salat Idul Fitri secara terbatas tanpa menggunakan pengeras suara.
“Kami sudah berkoordinasi dengan tokoh masyarakat di Kampung Lebah Sari, jika takbiran tetap dilakukan di masjid ataupun di tempat masing-masing tanpa pengeras suara,” jelasnya.
Sementara itu, pecalang terus melakukan pemantauan selama Nyepi berlangsung. Jika ditemukan pelanggaran, akan diberikan teguran secara humanis.
Dengan sinergi antara pecalang, desa adat, serta tingginya toleransi antarumat beragama, perayaan Nyepi yang bertepatan dengan Lebaran di Desa Bungaya tahun ini berjalan aman, tertib, dan penuh keharmonisan. (Ami)
FOLLOW THE BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram