-->

Senin, 08 Desember 2025

Ada Kabel Bawah Tanah Hambat Pengerjaan Trotoar di Denpasar

Ada Kabel Bawah Tanah Hambat Pengerjaan Trotoar di Denpasar

 

Laporan Reporter : Jero Ari 

Denpasar , Bali Kini - Kemungkinan Pengerjaan trotoar di Denpasar bakal tersendat, bajkan bisa saja terjadi bongkar ulang. Hal ini terkendala akses SJUT masih tertinggal akibat risiko kabel bawah tanah.
Progres pembangunan Sistem Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) di kawasan Jalan Danau Tamblingan, Sanur, Denpasar menunjukkan adanya ketertinggalan signifikan pada pengerjaan jalur akses. Capaian pekerjaan jalur akses baru mencapai 45,59 persen, tertinggal jauh dari target yang harus diselesaikan dalam 18 hari menuju batas waktu 13 Desember 2025.
Walikota Denpasar Jaya Negara, mengatakan terkendalanya pengerjaan drainase, trotoar, lampu serta penurunan kabel. Jadi tidak bisa finishing langsung, ada dibeberapa titik dalam jarak 50 meter pasti ada yang terbongkar. 
Kata Jayanegara, masih menunggu pemasangan lampu dan turun kabelnya. Kalau pengerjaan itu ditutup sekarang maka akan dibongkar akan ada masalah baru lagi. 
Dengan kesan agar tak bongkar pasang, makanya target nya kita lihat sampai 20 Desember 2025 ini. Terkait dengan pemasangan batu andesit yang tak rapi, dirinya mengatakan bahwa penataannya memang tidak tinggi karena disana jalan pariwisata. 
"Harapan kita dikawasan tersebut tak ada orang parkir, sebab akan dimanfaat guna orang lari maupun jalan tak terlalu tinggi dengan konteks sebagai kawasan pariwisata," kata Jayanegara.
Sementara tenaga pendamping pembangunan SJUT, I Made Ardana, menjelaskan bahwa keterlambatan terjadi akibat berbagai kendala teknis di lapangan, terutama terkait keberadaan jaringan utilitas bawah tanah milik PLN, PDAM, Telkom, dan DSDP yang tidak sesuai dengan standar kedalaman.
Menurut Ardana, temuan di lapangan menunjukkan sejumlah utilitas dipasang tidak pada kedalaman yang sesuai aturan. PDAM dan Telkom seharusnya berada di kedalaman minimal 1,5 meter, tapi kenyataannya hanya sekitar 1 meter. 
"PLN juga tidak berani menjamin jalur aman karena pendeteksi mengindikasikan kabel bertegangan berada di bawah titik pengeboran,” ujarnya.
Ditegaskan bahwa kondisi tersebut sangat berbahaya bagi pekerja, ketika bor menyentuh kabel bertegangan 20 volt saja, bisa terjadi blackout dan petugas berisiko kesetrum.
"Karena itu pengeboran dilakukan manual. Mesin tidak bisa digunakan karena hambatan kabel listrik,” tambahnya.
Dimana struktur tanah di sejumlah titik, terutama di jalur dekat Hotel Hyatt adalah pasir putih yang mudah menutup kembali apabila kabel tidak segera ditarik. Kondisi ini membuat proses penggalian harus dilakukan berulang ulang.
Di sisi lain, pengerjaan jalur backbone justru menunjukkan progres lebih cepat dari jadwal. Dari target 3,81 persen per hari, capaian rata-rata harian mencapai 4,50 persen sehingga diperkirakan rampung dalam 16 hari, lebih cepat dua hari dari target.
Sebagai upaya percepatan, pihak kontraktor sudah menambah jumlah tenaga kerja dua kali lipat per 26 November 2025. Bahkan saat ini juga sudah menggunakan 54 tenaga kerja. 
"Keterlambatan ini terjadi bukan karena pekerjaan tidak berjalan, tetapi karena faktor keselamatan dan kepastian jalur aman, yang kami pastikan terlebih dahulu. Koordinasi dengan PLN, PDAM, Telkom, dan DSDP terus kami lakukan,” tegasnya.
Pengerjaan jalur akses masih memerlukan progres harian 3,02 persen untuk dapat mengejar target. Sementara pencapaian harian rata-rata baru berada di angka 1,55 persen.

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2021 BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA | All Right Reserved