-->

Sabtu, 21 Maret 2026

114 Warga Binaan Lapas Karangasem Dapat Remisi Idul Fitri, 4 Langsung Bebas

Laporan reporter: Gusti Ayu Purnamiasih 

Karangasem, Bali Kini – Sebanyak 114 warga binaan di Lapas Kelas IIB Karangasem mendapat remisi khusus dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 2026, Sabtu (21/3/2026). Dari jumlah tersebut, 4 orang langsung bebas setelah memperoleh Remisi Khusus II (RK II).

Rinciannya, Remisi Khusus I (RK I) diberikan kepada 105 orang dengan besaran bervariasi, yakni 24 orang mendapat pengurangan masa pidana 15 hari, 65 orang 1 bulan, dan 16 orang 1 bulan 15 hari. Sementara itu, RK II atau remisi yang langsung mengakhiri masa pidana diberikan kepada 4 orang, masing-masing 2 orang mendapat remisi 15 hari dan 2 orang 1 bulan.

Berdasarkan jenis perkara, penerima remisi Idul Fitri didominasi kasus narkotika sebanyak 43 orang, disusul pencurian 41 orang, perlindungan anak 9 orang, penggelapan 6 orang, pembunuhan 4 orang, serta masing-masing 3 orang untuk penganiayaan dan penipuan. Selain itu, terdapat 2 orang kasus ITE, 2 orang lalu lintas, dan 1 orang kasus kesusilaan.

Selain Idul Fitri, Lapas Kelas IIB Karangasem juga mengusulkan remisi khusus Hari Raya Nyepi bagi 83 warga binaan. Seluruhnya merupakan RK I, dengan rincian 21 orang mendapat remisi 15 hari, 54 orang 1 bulan, dan 8 orang 1 bulan 15 hari.

Untuk kasus penerima remisi Nyepi, tercatat didominasi perkara narkotika sebanyak 35 orang, pencurian 23 orang, serta perlindungan anak 18 orang. Sisanya terdiri dari pembunuhan 3 orang, penggelapan 2 orang, dan penganiayaan 2 orang.

Sementara itu, di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), remisi Nyepi diberikan kepada 9 anak binaan (RK I), tanpa ada yang langsung bebas. Sedangkan pada Idul Fitri, sebanyak 5 anak binaan menerima RK I, juga tanpa penerima RK II.

Kepala Lapas Kelas IIB Karangasem, I Wayan Bondan Wahyu Kusuma Dusak, mengatakan pemberian remisi merupakan hak warga binaan yang telah memenuhi syarat administratif dan substantif.

“Sebanyak 114 orang warga binaan mendapat remisi khusus Idul Fitri, dengan 4 orang langsung bebas. Untuk Nyepi, ada 84 orang yang mendapat remisi. Kriteria penerima remisi adalah berkelakuan baik minimal selama 6 bulan terakhir. Besaran remisi yang diberikan bisa paling lama 2 bulan bahkan bisa juga dapat hingga 3 bulan,” ujarnya. (Ami)

Jumat, 20 Maret 2026

Ogoh-Ogoh “Sang Kala Musika” Diklaim Terbesar se-Karangasem, Usung Filosofi Ngaben Tikus

Laporan Reporter: Gusti Ayu Purnamiasih 

Karangasem, Bali Kini – Ogoh-ogoh karya STT Semeton Alit-Alit Ababi Dimel Kangin, Desa Ababi, Karangasem, mencuri perhatian karena diklaim sebagai salah satu ogoh-ogoh terbesar se-Karangasem yang ikut memeriahkan Nyepi tahun Saka 1948 dengan tinggi mencapai hampir 7 meter.

Ogoh-ogoh bertajuk Sang Kala Musika ini memiliki lebar 3 x 2 meter dan berat sekitar 500 kilogram, sehingga membutuhkan sedikitnya 20 orang dewasa untuk mengangkatnya.

Keunikan tidak hanya terletak pada ukuran, tetapi juga pada bahan yang digunakan. Ogoh-ogoh ini didominasi oleh ijuk, yang biasa digunakan sebagai bahan atap tradisional, dipadukan dengan dekorasi somi atau padi. Selain itu, digunakan pula bambu (ulat-ulatan), rangka besi, serta kertas koran dalam proses pembuatannya.

Pembina sekaa, Ketut Suka Ariawan, menyebutkan bahwa proses pengerjaan ogoh-ogoh ini memakan waktu sekitar dua bulan. Meski demikian, tidak ada kendala berarti selama proses berlangsung.
“Kesulitan kami hampir tidak ada, hanya terkendala waktu karena sebagian besar anggota juga bekerja,” ujarnya.

Berbeda dari ogoh-ogoh pada umumnya yang mengangkat tokoh pewayangan, karya ini mengusung filosofi tradisi lokal Desa Ababi, yakni upakara Nangluk Merana berupa Ngaben Tikus. Dalam kepercayaan setempat, tikus dikenal sebagai Jero Ketut.

Melalui ogoh-ogoh ini, digambarkan sosok ibu tikus yang datang untuk mengucapkan terima kasih atas pelaksanaan upacara tersebut, sekaligus mengajak anak-anak tikus lain untuk turut serta mengendalikan hama tikus di Desa Ababi.

Ogoh-ogoh ini merupakan hasil kolaborasi dengan maestro De Arta dan arsitek Fajar Jaran, serta mendapat dukungan dari sponsor Pulle dan Bigwork.

Karya ini tidak hanya menjadi simbol kreativitas pemuda setempat, tetapi juga menjadi media pelestarian nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal Desa Ababi. (Ami)

NYEPI SAKA 1948 DI BUNGAYA LANCAR, TAKBIRAN TANPA PENGERAS SUARA

Laporan reporter: Gusti Ayu Purnamiasih 
Karangasem, Bali Kini - Perayaan Nyepi Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026 di Bali berlangsung lancar tanpa hambatan, meski bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri dan malam takbiran umat Islam.

Di Desa Bungaya, Kecamatan Bebandem, Karangasem, situasi terpantau aman dan kondusif. Umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian dengan tertib, meliputi amati geni (tidak menyalakan api atau cahaya), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan).

Pengamanan selama Nyepi dilakukan secara maksimal oleh pecalang di masing-masing banjar adat. Mereka disiagakan untuk menjaga ketertiban dan memastikan seluruh warga mematuhi aturan yang berlaku.

Keliang Banjar Adat Tengah, Wayan Gede Purnawan, mengatakan seluruh pecalang telah menjalankan tugas sesuai arahan desa adat.

“Kami yang ditugaskan, termasuk saya sebagai Keliang Banjar Adat Tengah bersama personel pecalang dari masing-masing banjar, tentu atas perintah desa adat dalam hal ini prajuru dan penyarikan desa, kami menjalankan tugas untuk mengamankan situasi lingkungan di Desa Adat Bungaya,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengamanan dilakukan di masing-masing wilayah banjar, serta menjalin koordinasi dengan pihak terkait jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Kami sebagai kelian adat mengamankan wilayah di masing-masing banjar adat. Apabila ada hal-hal yang tidak diinginkan, kami berkoordinasi dengan desa dinas maupun desa adat,” tegasnya.

Selain itu, pihak desa adat juga menyiapkan mekanisme untuk kondisi darurat, khususnya bagi warga yang membutuhkan penanganan medis.

“Dari desa adat akan memberikan surat pengantar jika ada situasi darurat, misalnya warga sakit, sehingga yang bersangkutan bisa diantar ke rumah sakit,” imbuhnya.

Di sisi lain, toleransi antarumat beragama juga terlihat di wilayah Bungaya yang berdampingan dengan umat Muslim di Lingkungan Lebah Sari. Umat Muslim tetap melaksanakan takbiran dan salat Idul Fitri secara terbatas tanpa menggunakan pengeras suara.

“Kami sudah berkoordinasi dengan tokoh masyarakat di Kampung Lebah Sari, jika takbiran tetap dilakukan di masjid ataupun di tempat masing-masing tanpa pengeras suara,” jelasnya.

Sementara itu, pecalang terus melakukan pemantauan selama Nyepi berlangsung. Jika ditemukan pelanggaran, akan diberikan teguran secara humanis.

Dengan sinergi antara pecalang, desa adat, serta tingginya toleransi antarumat beragama, perayaan Nyepi yang bertepatan dengan Lebaran di Desa Bungaya tahun ini berjalan aman, tertib, dan penuh keharmonisan. (Ami)

Pawai Ogoh-Ogoh Desa Adat Kota Tabanan Gaungkan Nyepi Damai dan Tabanan Bersih


Tabanan , Bali Kini  – Menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Çaka 1948, Pemerintah Kabupaten Tabanan menggelar persembahyangan Tawur Agung Kesanga di Catus Pata Kota Singasana, Rabu (18/3). Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan Pawai Ogoh-Ogoh se-Desa Adat Kota Tabanan yang berlangsung meriah di depan jaba Pura Dalem Prajapati Desa Adat Kota Tabanan. Dua rangkaian kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Tabanan Dr.  Komang Gede Sanjaya, SE, M.M, bersama Istri Ny. Rai Wahyuni Sanjaya. 

Kegiatan Tawur Agung Kesanga ini merupakan bagian penting dalam rangkaian Hari Raya Nyepi yang bertujuan untuk menyucikan alam semesta beserta isinya serta menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Sementara itu, Pawai Ogoh-Ogoh menjadi wujud kreativitas sekaligus pelestarian seni budaya masyarakat. Berbagai ogoh-ogoh yang ditampilkan mencerminkan nilai-nilai filosofis serta kritik sosial yang dikemas secara artistik, sehingga mampu menarik perhatian masyarakat yang turut memadati lokasi kegiatan.

Sebanyak 25 ogoh-ogoh dari para yowana 24 Banjar Adat yang ada di Desa Adat Kota Tabanan tampil dalam parade. Turut hadir saat itu, Wakil Bupati I Made Dirga beserta istri, Ny. Budiasih Dirga, Ketua DPRD Kabupaten Tabanan dan beberapa anggota, jajaran Forkopimda Tabanan atau yang mewakili, Sekda, para Asisten dan Kepala Perangkat Daerah, Instansi Vertikal, hingga Perbekel, Bendesa Adat serta unsur dan jajaran Desa Adat setempat.

“Kita di Kota ini dari tahun 2000 sudah 26 tahun yang lalu, kita selalu melepas ogoh-ogoh yang diselenggarakan oleh Desa Adat Kota, sungguh tidak terasa. Tiap tahun sudah mengikuti bagaimana perkembangan yowana membuat proses ogoh-ogoh yang ada di Desa Adat Kota, dari yang sederhana, sekarang sudah sangat canggih dengan teknologinya. Ini salah satu kemajuan besar, dan kemarin pun kita di pemkab Tabanan membuat festival ogoh-ogoh yang diikuti 64 ogoh-ogoh, dan astungkara berjalan dengan baik,” ujar Sanjaya dalam sambutannya saat membuka acara. 

Lebih lanjut, Orang nomor satu di Tabanan itu menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung kreativitas generasi muda. Dalam rangka mewujudkan Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul dan Madani, pihaknya selalu berusaha hadir di tengah-tengah yowana, tatkala mendorong kreatifitas anak-anak muda. Apalagi saat ini dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi, sehingga momentum ini dimanfaatkan sebagai wadah untuk menumbuhkan semangat berkarya, melestarikan seni budaya, serta mempererat kebersamaan di kalangan generasi muda. 

"Saya atas nama pribadi dan atas nama Pemerintah Kabupaten Tabanan, mengucapkan selamat Hari Raya Nyepi. Dalam rangka mengikuti catur brata penyucian, semoga masyarakat Tabanan, mangda rahayu sareng sami dan juga umat Muslim yang ada di Tabanan, selamat menunaikan ibadah puasa, dan selamat Hari Raya Idul Fitri, semoga damai semuanya. Kita bersama-sama mendoakan semoga di dalam melaksanakan keagamaannya berjalan khidmat damai," pungkas Sanjaya. 

Selain itu, Bupati Sanjaya sangat mengapresiasi kekompakan dari seluruh yowana dan krama Desa Adat Kota Tabanan dalam kegiatan ini. Apalagi kali ini menggaungkan pesan pentingnya menjaga kebersihan alam dan lingkungan. Ia juga berpesan agar masyarakat senantiasa selalu menjaga kebersihan, khususnya pada malam pengerupukan ini. Dikatakannya kebersihan merupakan isu nasional yang harus dijaga bersama sebagai bentuk tanggungjawab seluruh lapisan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman.

Dalam kesempatan yang sama, I Made Suwardika selaku Bendesa Adat Kota Tabanan, menyampaikan 25 ogoh-ogoh yang hadir dari 24 banjar, termasuk dua ogoh-ogoh yang ditampilkan oleh ST. Manusmrrti Dauh Pala dan Manusmrrti Pengabetan. Pihaknya mengucapkan terima kasih atas bantuan yang senantiasa diberikan oleh Bapak Bupati dan jajaran serta dukungan dari masyarakat dan seluruh pihak. Ia juga menambahkan, bahwa setiap ogoh-ogoh diiringi yowana yang membawa plastik (plybag) untuk mengumpulkan sampah yang berserakan, sehingga bisa meminimalisir sampah, terutama sampah plastik. (*)

Selasa, 17 Maret 2026

Walikota Jaya Negara dan Wawali Arya Wibawa Ucapkan Selamat Hari Suci Nyepi Caka 1948 dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

Ket foto : Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa. 

Denpasar,  Umat Hindu akan segera memperingati Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1948 Tahun 2026, seluruh rangkaian akan dimulai dari Pemelastian, Tawur Agung Kesanga, Nyepi dan Ngembak Geni yang sarat akan makna. Hari Suci Nyepi yang diperingati setiap tahun sekali, pada tahun ini jatuh pada 19 Maret mendatang. Beriringan dengan Hari Suci Nyepi, umat muslim juga akan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1448 Hijriah pada 21 dan 22 Maret mendatang. 

Upacara Pemelastian atau Melasti dilaksanakan sebagai bentuk penyucian bhuana alit dan bhuana agung. Usai Melasti, dilanjutkan dengan pelaksanaan Tawur Agung Kesanga bertepatan dengan Tilem Sasih Kesanga yang serentak dilaksanakan di Catus Pata Desa, Catus Pata Kabupaten/Kota. Sesuai maknanya, hal ini dimaksudkan sebagai upaya menetralisir aura negatif yang berada pada palemahan serta nyomya bhuta kala. Sementara, dalam rangkaian Hari Raya Idul Fitri, umat muslim telah menjalani ibadah puasa 1 bulan penuh. 

Pada Malam Pangerupukan identik dengan Nyomya Bhuta Kala dengan media Ogoh-ogoh. Kreatifitas di bidang ogoh-ogoh sendiri telah diwadahi melalui pelaksanaan Lomba Ogoh-ogoh serta eevent Kesanga Festival. Sedangkan keesokan harinya merupakan pelaksanaan Hari Suci Nyepi (sipeng) mengawali Tahun caka 1948 dilaksanakan Catur Brata Penyepian yakni, Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan dan Amati Lelanguan yang semuanya bermakna sebagai ajang penyucian diri dengan mulatsarira serta meningkatkan sradha dan bhakti. Pelaksanaan Catur Berata Penyepian ini diakhiri dengan Ngembak Geni yang bermakna penyucian lingkungan sosial melalui Dharma Shanti.

Beranjak dari makna Hari Suci Nyepi, Walikota Denpasar  I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, disela tugas kedinasan pada Senin (16/3) mengajak segenap umat Hindu dan masyarakat Kota Denpasar untuk melaksanakan seluruh rangkaian Hari Suci Nyepi sebagai suatu Yadnya Suci meningkatkan sradha bhakti dalam melaksanakan Dharma Agama dan Dharma Negara.

Dalam pelaksanaan rangkaian Hari Suci Nyepi ini Walikota Jaya Negara menghimbau segenap komponen masyarakat untuk memanfaatkan momen ini sebagai kesempatan untuk introspeksi diri atau mulat sarira untuk saling menghormati, mengembangkan rasa toleransi berdasarkan konsep Catur Paramitha dan Tri Hita Karana hidup berdampingan menghormati keragaman budaya dengan sepirit Vasudhaiva Khutumbakam. Terlebih, Hari Suci Nyepi tahun ini, beriringan dengan Hari Raya Idul Fitri. 

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaknai Nyepi dan Idul Fitri sebagai kontrol diri dan mulat sarira, serta bentuk pengucian alam semesta dengan spirit Vasudhaiva Kutumbakam menuju Denpasar Maju,” ujarnya

Sementara Wakil Walikota Denpasar, Kadek Agus Arya Wibawa turut berpesan agar senantiasa bersama-sama dalam meningkatkan kewaspadaan dan mawas diri sebagai ajang mulat sarira. Sehingga seluruh umat manusia dapat terbebas dari mara bahaya serta mampu meningkatkan kesejahteraan hidup. Pihaknya juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan semangat menyama braya, saling mambantu, saling memiliki dan saling asah, asih asuh. 

"Selamat melaksanakan rangkaian upacara Hari Suci Nyepi Icaka Warsa 1948 Tahun 2026 kepada segenap umat se-Dharma dan masyarakat yang melaksanakannya. Serta Selamat Hari Raya Idul Fitri kepada umat muslim dimanapun berada. Semoga Hari Suci yang beriiringan tahun ini dapat menjadi ajang introspeksi diri dan mulat sarira untuk meningkatkan sradha bakti sesuai dengan swadarma kita masing-masing untuk mewujudkan Denpasar sebagai Kota Kreatif Berbasis Budaya Menuju Denpasar Maju, dengan sepirit Vasudhaiva Kutumbakam menuju Denpasar Maju," ujar Walikota Jaya Negara yang didampingi Wawali Arya Wibawa. (Ags/HumasDps).

Pererat Silaturahmi, Bupati Bangli Serahkan Paket Sembako Lintas Agama di Halaman Kantor Bupati

BANGLI , Bali Kini – Dalam rangka menyambut rangkaian hari besar keagamaan—Hari Raya Nyepi, Idul Fitri, dan Paskah—Pemerintah Kabupaten Bangli menggelar aksi sosial dengan menyerahkan paket sembako kepada masyarakat. Kegiatan ini dipusatkan di halaman Padmasana Kantor Bupati Bangli pada Senin (16/03), dengan suasana penuh kekeluargaan dan toleransi.

Acara tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar, Sekda,  jajaran Forkopimda, pimpinan OPD, serta tokoh-tokoh lintas agama dari PHDI, MUI, dan perwakilan gereja.

Dalam sambutannya, Bupati Sedana Arta menekankan bahwa perbedaan agama dan adat istiadat di Kabupaten Bangli bukanlah hal baru, melainkan warisan luhur yang wajib dijaga oleh generasi penerus. Beliau mencontohkan sejarah akulturasi budaya melalui Pura Dalem Balingkang dan keberadaan Pura Langgar di Desa Bunutin sebagai bukti nyata keharmonisan yang telah mengakar.

"Perbedaan di Bangli adalah warisan leluhur. Kita punya tanggung jawab sejarah untuk menjaganya. Jangan mudah terpancing isu provokatif yang bisa merusak kondusifitas daerah," ujar Bupati Bangli di hadapan para undangan.

Paket sembako yang diserahkan merupakan hasil kolaborasi dan sumbangan dari para donatur, termasuk pihak Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) dan BUMD. Langkah ini diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu.

Bupati juga menyinggung terkait perputaran ekonomi yang besar setiap hari raya, termasuk antrean mudik yang mulai terlihat. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk saling bahu-membahu.

"Di antara kita tidak ada yang sempurna, tetapi kalau kita saling menjaga, maka kesempurnaan itu akan mendekat kepada kita," tambahnya.

Menutup arahannya, Bupati berharap agar seluruh rangkaian perayaan keagamaan di Bangli, baik Nyepi maupun Idul Fitri, dapat berjalan dengan khusyuk dan khidmat. Ia juga menginformasikan bahwa Dharma Santi Nasional direncanakan akan dipusatkan di Bali (Art Center) dan diharapkan dapat dihadiri oleh Bapak Presiden.

Dengan semangat gotong royong ini, Kabupaten Bangli optimis dapat terus menjadi barometer kerukunan umat beragama di Kabupaten Bangli.

Wakil Bupati Bangli Hadiri Mepepada Agung Wewalungan Jelang Hari Raya Nyepi

​Bangli , Bali Kini – Dalam rangka menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Caka 1948, Pemerintah Kabupaten Bangli menggelar upacara Bhakti Mepepada Agung Wewalungan yang dipusatkan di Catus Pata (Perempatan Agung) Kabupaten Bangli pada Selasa, 17 Maret 2026.

​Acara ini dihadiri oleh Wakil Bupati Bangli, I Wayan Diar, didampingi oleh Asisten I Setda Kabupaten Bangli, seluruh jajaran Kepala Perangkat Daerah (OPD), Bendesa Madya Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Bangli, serta Ketua PHDI dan WHDI Kabupaten Bangli.
​Upacara Mepepada Agung merupakan ritual penyucian terhadap hewan-hewan (wewalungan) yang akan dipergunakan sebagai sarana upakara Tawur Agung Kesanga. Tujuannya adalah agar roh hewan tersebut disucikan sehingga dalam penjelmaan berikutnya meningkat derajatnya.
​Puncak prosesi Mepepada Agung kali ini dipuput oleh Ida Pedanda Gede Manuaba Tajung dari Griya Bukit Bangli. Seluruh jenis hewan kurban diarak mengelilingi Catus Pata sebagai simbol harmonisasi alam semesta.
​Berbagai jenis satwa disiapkan dalam ritual ini untuk melengkapi sarana yadnya, di antaranya : Kebo (kerbau), godel (anak sapi), kambing, kucit butuan (anak babi), dan asu bang bungkem (anjing merah), Angsa, banyak, bebek blang kalung, cemaning, bulu gule, bulu sikep, bebek putih, bebek selem, hingga ayam (siap) manca sange.

​Wakil Bupati I Wayan Diar menyampaikan bahwa partisipasi seluruh elemen pimpinan daerah dan tokoh agama dalam kegiatan ini merupakan wujud gotong royong serta komitmen menjaga tradisi dresta demi kesejahteraan masyarakat Bangli secara lahir dan batin (*).

Kickboxing Karangasem Cetak Prestasi, Atlet Bawa Pulang 2 Emas, 4 Perak dan 1 Perunggu

Laporan reporter: Gusti Ayu Purnamiasih 

Karangasem, Bali Kini - Atlet pelajar asal Karangasem berhasil menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Kickboxing Walikota Cup 2026 yang digelar pada 9–11 Maret 2026 di GOR Kompyang Sujana. Dalam kejuaraan tersebut, para atlet berhasil meraih 2 medali emas, 4 medali perak, dan 1 medali perunggu.

Pertandingan berlangsung pada kategori Point Fighting khususnya kelas tatami serta Kick Light, yang diikuti oleh atlet dari berbagai daerah. Capaian ini menunjukkan potensi atlet muda Karangasem yang mulai berkembang di cabang olahraga kickboxing.

Adapun atlet yang berhasil meraih medali emas yaitu I Gede Dito Mawan Pratama dari SMA Negeri 1 Amlapura pada kategori Kick Light +63 kg dan Ni Luh Nana Tri Jayani dari SMP Negeri 2 Amlapura pada kategori Point Fighting +43 kg.

Sementara itu, medali perak diraih oleh I Putu Ryan Dede Ardiyansah dari SMA Negeri 3 Amlapura pada kategori Point Fighting +53 kg, I Putu Eno Sanjaya dari SMA Negeri 3 Amlapura pada kategori Point Fighting +60 kg, I Nyoman Hellent Pramudia dari SMP Negeri 3 Amlapura pada kategori Kick Light 63 kg, serta Ni Putu Kirania Candani Devi dari SMP Negeri 3 Amlapura pada kategori Kick Light +43 kg.

Sedangkan medali perunggu diraih oleh I Kadek Juliana dari SMA Negeri 3 Amlapura pada kategori Point Fighting 42 kg.

Pembinaan atlet dilakukan melalui kelas khusus yang didampingi oleh I Made Sweta, I Kadek Ariawan, dan Ni Kadek Pradnyantari.

Salah satu pembina, I Kadek Ariawan, mengatakan capaian tersebut menjadi motivasi bagi para atlet untuk terus meningkatkan kemampuan dan pengalaman bertanding.

“Prestasi ini tentu menjadi penyemangat bagi anak-anak untuk terus berlatih. Kami berharap ke depan atlet-atlet dari Karangasem bisa lebih sering mengikuti kejuaraan resmi sehingga pengalaman dan mental bertanding mereka semakin kuat,” ujarnya, Senin (16/3/2026).

Ia menambahkan, pembinaan atlet kickboxing di Karangasem diharapkan dapat terus berkembang sehingga mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi yang dapat bersaing di berbagai kejuaraan yang diselenggarakan oleh Kick Boxing Indonesia.

Melalui kegiatan ini, para pengurus olahraga berharap cabang olahraga kickboxing maupun muaythai semakin dikenal dan diterima oleh masyarakat. Pembinaan atlet sejak tingkat SMP dan SMA juga diharapkan mampu mencetak atlet potensial yang nantinya dapat bersaing pada ajang seperti Pekan Olahraga Kabupaten maupun kompetisi yang lebih tinggi. (Ami)
© Copyright 2021 BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA | All Right Reserved