Optimalkan Desa Adat, PC KMHDI Denpasar Gelar Ngopi

Header Menu

BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA
Cari Berita

Advertisement


Optimalkan Desa Adat, PC KMHDI Denpasar Gelar Ngopi

Bali Kini
Kamis, 27 Februari 2020

Denpasar,BaliKini.Net - Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PC KMHDI) Denpasar menggelar Ngobrol Pintar (Ngopi) dengan tema “Bagaimana Mengoptimalkan Desa Adat ?” pada Sabtu (25/02). Dilaksanakan di ruang kelas gedung Dharma Negara Alaya, kegiatan tersebut dihadiri oleh sekiranya 15 peserta yang terdiri dari kader aktif PC KMHDI Denpasar.  

Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan  PC KMHDI Denpasar, I Wayan Agus Pebriana mengatakan bahwa acara Ngobrol Pintar pada kali ini  sengaja mengambil tema tentang desa adat karena strategisnya peran desa adat dalam sistem pembangunan Bali. “Terbitnya Perda No. 4 Tahun 2019 tentang desa adat di Bali memberikan ruang bagi desa adat untuk berperan lebih jauh dalam pembangunan Bali. Peran-peran seperti peningkatan kualitas krama desa, pemberdayaan ekonomi krama desa, serta sebagai tempat untuk melestarikan seni dan budaya Bali merupakan peran yang bisa diakomodir oleh desa adat.  Oleh sebabnya hal ini penting untuk didiskusikan” jelasnya.

Ditemui pada kesempatan yang sama, Putu Asrinidevy selaku ketua PC KMHDI Denpasar juga mengatakan bahwa desa adat mempunyai posisi yang strategis dalam menyelesaikan persoalan yang dialami Bali. “Pendekatan melalui adat adalah salah satu alternatif yang sangat efektif untuk mengatasi berbagai problematika yang dihadapi Bali. salah satunya terkait penyelesaian permasalahan lingkungan yang dihadapi Bali, khususnya sampah plastik” ungkap Asrinidevy saat memberikan argument.

Kegiatan yang berlangsung selama kurang dari 2 jam ini mengundang berbagai macam argumentasi. Salah satunya saudara I Gede Brata yang menyatakan bahwa desa adat bisa menjadi instrumen untuk menjaga dan melestarikan seni dan budaya Bali, terlebih hari ini Bali menerima dampak buruk dari adanya globalisasi dan modernisasi yang menggerus kebudayaan Bali secara perlahan. 

Sementara itu I Gede Sulastrawan menekankan pada bagaimana desa Adat membentuk usaha bersama/krama untuk kepentingan desa adat. Hal ini didasari karena desa adat memiliki berbagai macam kegiatan adat seperti rahina/pujawali di Pura Kahyangan Tiga yang biayanya tidak sedikit. Oleh sebab itu alangkah baiknya desa adat memiliki pendanaan tersendiri yang dikelola oleh desa adat untuk desa adat.

Pada akhir diskusi, sepakat PC KMHDI Denpasar akan senang hati terus berkomitmen menjadi mitra kritis bagi desa adat. Karena pembangunan dari desa akan berdampak kepada pembangunan nasional.[*]