-->

Rabu, 24 November 2021

Bawa 20,57 gram Sabu, Kurir area Denpasar ini Dihukum 12 Tahun Penjara


Denpasar ,Bali Kini  -
Barang bukti sabu berat 20,57 gram membuat Rindi Subarno (38), pasrah menerima hukuman dari Majelis Hakim di PN Denpasar selama 10 tahun penjara.


Setidaknya hukuman itu lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Made Neotroni Lumisensi yang mengajukan hukuman selama 12 tahun penjara.


Dalam sidang yang dijalani terdakwa secara online, Hakim menyatakan perbuatan terdakwa telah terbukti secara sah melawan hukum sebagaimana tertuang dalam Pasal 114 ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. 


"Menjatuhkan hukuman pidana penjara terhadap terdakwa selama 10 tahun dan denda Rp 1,5 miliar subsider 10 bulan penjara," putus hakim I Putu Suyoga.


Berdasarkan dakwaan JPU,  terdakwa asal Banyuwangi, Jawa Timur ini ditangkap di kamar kosnya di Jalan Tukad Pancoran, Desa Panjer, Denpasar selatan, pada  Senin, 5 Juli 2021 sekitar pukul 19.00 WITA. 


Dari drama penggrebekan itu, polisi dari Satnarkoba Polda Bali berhasil menemukan barang bukti 7 paket plastik berisi sabu yang berat keseluruhannya 20,57 gram netto. 


Terdakwa melakoni pekerjaan ini sejak awal tahun, dari upah selama menjadi kurir diakuinya terkumpul dalam bentuk materi sebanyak Rp.3 juta. Sedangkan sisanya digunakan untuk mengkonsumsi sabu sendiri.[ar/5]

Kejari Tetapkan 7 Orang Tersangka Korupsi Pengadaan Masker Scuba Di Kabupaten Karangasem


Karangasem, Bali Kini -
Tim Penyidik dari Kejaksaan Negeri Amlapura, tetapkan tujuh orang tersangka korupsi pengadaan masker scuba yang diadakan dalam rangka penanganan Covid-19. Penyidikan sudah dilakukan sejak 10 Mei 2021 lalu. Dimana penyidikan melibatkan 60 orang saksi untuk dimintai keterangan. 


Ketujuh tersangka berinisial IGB, GS, IWB ,INR, IKSA, NKS dan IGPY. 1 tersangka merupakan pegawai yang sudah tidak berdinas di Dinas Sosial Kabupaten Karangasem dan 6 lainnya merupakan pegawai aktif. Ketujuhnya memiliki peran dari pengusulan hingga proses pengadaan masker.


Kepala Kejaksaan Negeri Karangasem Aji Kalbu Pribadi melalui Kasi Intel Kejari Karangasem I Dewa Gede Semara Putra, Rabu (24/11/2021) menjelaskan jika ketujuh tersangka ini berhubungan mulai sebelum proses saat dan setelah proses pengadaan masker di Dinas Sosial Karangasem. 


"Mereka semua yang menandatangani administrasi semuanya," ujar Semara Putra.


Mereka disimpulkan penyidik menjadi tersangka setelah memenuhi 2 alat bukti berupa dokumen serta keterangan saksi-saksi. 


Kerugian negara sementara masih di hitung oleh BPKP, namun dari perhitungan oleh penyidik didapati kerugian sebesar 2,9 Miliyar. "Kerugiannya BPKP masih menghitung tetapi kita dari Penyidik sudah melakukan penghitungan tersendiri diperkirakan lebih dari 2 miliyar," lanjut Dewa Semara Putra.


 Sementara itu, untuk ketujuh tersangka ini langsung dilakukan penahanan selama 20 hari. Dimana 3 orang tersangka dititipkan di Polsek Kota, 3 orang di Poksek Bebandem sementara 1 sisanya di Polsek Abang. (Ami)

Selasa, 23 November 2021

Lepas Bui, Pria asal Lombok ini Kembali Dituntut 15 Tahun Penjara


Denpasar , Bali Kini  -
Muhammad Abdullah Zemi (38) seakan tidak pernah jera merasakan hidup di bui. Setelah sebelumnya dihukum lantaran jadi pengguna, kini pria asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dituntut sebagai pengedar.


JPU Kejati Bali menilai perbuatan terdakwa sebagaimana tertuang dalam Pasal 114 ayat (2) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotik. Ia dituntut hukuman selama 15 tahun penjara.


"Memohon agar terdakwa dihukum pidana penjara selama 15 tahun dan denda sebesar Rp. 1,5 miliar dengan ketentuan bila tidak sanggup membayar dapat digantikan dengan penjara selama 1 tahun," tuntut Jaksa Eddy Arta Wijaya,SH. 


Sebelum menjabarkan amar tuntutannya, JPU membeberkan secara virtual bahwa residivis ini diamankan berikut barang bukti berupa 20 paket sabu dengan berat 124,86 gram brutto. 


Terdakwa ditangkap anggota Direktorat Narkoba Polda Bali di seputaran Jalam By Pass I Gusti Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar empat bulan lalu. [ar/5]

Senin, 22 November 2021

Beli Sabu 0,62 gram, Gadis Asal Rusia Divonis 4 Tahun


Denpasar ,Bali Kini  -
Wanita kewarganegaraan Rusia, Anastasiia Savidskaia (28), divonis 4 tahun  penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. Gadis blonde ini dinyatakan bersalah terbukti menguasai Narkotika jenis sabu seberat 0,62 gram. 


Majelis hakim ketua I Wayan Sukradana menyatakan perbuatan terdakwa telah terbukti secara sah dan menyakinkan melanggar Pasal 112 ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. 


"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 4 tahun dan denda Rp.800 juta subsider 3 bulan penjara," tegas hakim Sukradana dalam sidang virtual tersebut. 


Menanggapi itu, penasihat hukum terdakwa, Ivonne Purba dan terdakwa sendiri menyatakan pikir-pikir. Keputusan serupa juga diambil JPU. Sebelumnya, JPU meminta majelis hakim supaya menjatuhkan pidana terhdap terdakwa dengan penjara selama 5 tahun penjara. 


Berdasarkan dakwaan Jaksa Sutarta,  kasus ini bermula ketika terdakwa tergiur dengan sabu yang ditawarkan sesama orang Rusia bernama Ivan (DPO). Setelah melakukan transaksi terdakwa kemudian mendapat alamat disertai foto tempat sabu tersebut di tempel yang dikirim ke ponsel terdakwa. 


Terdakwa mengambil alamat tempelan sabu di dekat tempat tinggalnya di Vila Lotus, Jalan Raya Babagan, Canggu, Kuta Utara, Badung. Setelah itu, terdakwa balik ke vila. 


Di hari esoknya,  22 Maret 2021 pukul 12.30 WITA, beberapa orang pria berpakaian sipil mendatangi tempat tinggal terdakwa dan mengaku sebagai Polda Bali sambil menjukkan identitas keanggotaan.


"Polisi menemukan satu klip sabu di atas lemari es di dalam Villa tersebut. Setelah ditimbang berat sabu tersebut 0,62 gram netto," singkat JPU dalam dakwaan.[ar/r5]

Minggu, 21 November 2021

PT Denpasar Kuatkan Perjuangan Korban Skimming di BNI


Denpasar , Bali Kini - 
Pengadilan Tinggi Denpasar menguatkan putusan PN Denpasar terkait kasus skimming pada Bank Negara Indonesia (BNI). Dimana korban, Agus Wandira (28) dikabulkan gugatannya.


Sebagaimana diberitakan, pria asal Medan ini oleh PN Denpasar dalam putusan sidang, Rabu (25/8) oleh hakim Angeliki Handajani Day, SH.MH., memutuskan untuk menerima dan mengabulkan sebagian dari gugutan. 


"Menghukum mewajibkan secara sah dan cukup bukti agar pihak tergugat dalam hal ini Bank Negara Indonesia untuk membayar kerugian yang ditimbulkan pihak penggugat sebesar Rp.76.082.526," putus Hakim di PN Denpasar.


Sebagaimana disampaikan bahwa korban Agus Wandira menggugat pihak Bank ke PN Denpasar, guna menuntut pihak BNI memberikan ganti rugi uang yang hilang di rekening korban sebesar Rp 76 juta lebih.


Sementara itu, Kuasa hukum korban, I Komang Mahardika Yana dan I Gusti Putu Putra Yudhi Sanjaya, mengatakan soal tuntutan agar pihak Bank juga mengganti kerugian immaterial lainnya senilai Rp 500 juta, ditolak oleh hakim.


"Hanya kerugian dari klien kami saja yang dikabulkan oleh pengadilan," Aku IGST Putu Yudi, melalui pesan singkatnya.


Dijelaskan, perkara ini berawal saat Agus menarik uang bersama pacaranya di ATM BNI di Jalan Kunti, Seminyak, Kuta tepat di depan La Belle Villa pada Minggu (20/10) lalu. Saat itu Agus menarik uang Rp 500 ribu dari total uang direkeningnya sejumlah Rp 76.082.526. 


Setelah uang dan tanda bukti transaksi keluar, kartu ATM nyangkut di mesin dan tidak bisa keluar. “Karena kartu ATM tidak bisa keluar, Agus langsung menelpon call centre BNI di nomor 1500046. Namun beberapa kali dihubungi tidak ada jawaban dari call centre BNI,” lanjut Yudhi.


Karena tidak ada jawaban, Agus meninggalkan ATM. Kemudian, keesokan harinya, Senin (21/10) Agus mendatangi kantor BNI KCP Legian untuk melaporkan kejadian ini. Dari hasil laporan tersebut, customer service BNI memberikan print out buku tabungan. Dimana dalam print out tersebut sudah ada beberapa kali penarikan dalam jumlah besar yang dilakukan orang lain.


Agus lalu meminta customer service membekukan tabungan agar tidak terjadi lagi penarikan diluar sepengetahuannya. Namun customer service BNI tersebut mengatakan tidak bisa melakukan hal tersebut tanpa alasan yang jelas. 


“Saat itu customer service BNI mengatakan jika kliennya menjadi korban skimming. Dia juga menjanjikan uang di rekening kliennya akan kembali,” beber pengacara yang berkantor di Toya Law Firm di Jalan HOS Cokroaminoto, Denpasar ini.


Setelah beberapa kali pertemuan, pihak BNI akhirnya menyatakan jika masalah ini bukan skimming melainkan card trapping yang merupakan tanggung jawab nasabah.


Selanjutnya dari putusan ini, pihak BNI melakukan banding ke tingkat PT Denpasar. Hasilnya, Hakim ketua Dewa Made Alit Dharma dengan dua hakim anggota masing-masing, Sunardi,SH.MH dan Soesilo Atmoko,SH.MH, memutuskan menguatkan putusan PN Denpasar.[ar/5]

Jumat, 19 November 2021

Pasien Disuruh Minum Air Jampi-jampi Berisi Sianida, 2 Orang Tewas Diracun Dukun


BALI KINI ■ Polres Magelang berhasil ungkap kasus tindak pidana pembunuhan dengan berencana yang dilakukan oleh seorang yang dikenal sebagai dukun pengganda uang. 

Tersangka IS, (57) warga Dusun Karangtengah, Desa  Sutopati, Kecamatan Kajoran Magelang diduga membunuh 2 orang korbanya dengan racun sianida.

Sementara korban adalah Lasma, (31) dan Wasdiyanto, (38),  kedua korban tersebut merupakan saudara ipar warga Dusun Marongan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Magelang yang keseharianya sebagai pedagang sayur.

Kedua koban ditemukan meninggal di dalam mobil akibat minum air putih yang sudah dicampur dengan Potas dan mengandung sianida yang sebelumnya diberikan oleh tersangka sebagai syarat penggadaan uang. 

Kapolres Magelang AKBP Mochammad Sajarod Zakun melalui Waka Polres Kompol Aron Sebastian mengatakan terungkapnya kasus tersebut berawal adanya penemuan orang meninggal di dalam mobil yang berhenti di pinggir jalan Dusun Sukoyoso, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, pada Rabu (10/11/2021) pukul 20.30 WIB, dimana korban adalah Lasman dan Wasdiyanto yang merupakan saudara ipar warga Kajoran.

“Saat ditemukan korban Lasman berada di kursi supir dengan kaca mobil terbuka sudah tergeletak ke arah kiri, lalu korban Wasdiyanto tergeletak di luar mobil sebelah kiri depan. Saksi yang menemukan kemudian melaporkan kejadian ke pemilik rental yang dipakai korban, kemudian pemilik rental melaporkan kepada keluarga dan perangkat desa, kemudian perangkat desa melaporkan kejadian ke Polsek Kajoran,” ungkapnya di Mapolres Magelang, pada Jumat (19/11/2021). 

Mendapat laporan tersebut, Tim Polsek Kajoran dan Satreskrim Polres Magelang melakukan olah TKP, kemudian dari hasil olah TKP tim menemukan bungkusan plastik bening berisi sisa cairan yang berbau mencurigakan. 

“Lalu 2 korban dilakukan autopsi oleh Tim Biddokkes Polda Jateng di RSUD Muntilan dengan hasil bahwa kedua korban terdapat tanda mati lemas karena keracunan. Kemudian, Tim berkoordinasi dengan Bidlabfor Polda Jateng untuk menguji temuan plastik bening dalam mobil, sampel cairan dalam mulut korban, urine, darah dan lambung korban dengan hasil bahwa semuanya terdapat kandungan sianida,” jelas Aron.

Dari hasil penyelidikan dan keterangan beberapa saksi bahwa, pada hari Rabu, 10 November 2021 sekitar Pukul 15.30 WIB korban Lasman pamit dari rumah menyampaikan ingin ke rumah Tersangka bersama korban Wasdiyanto dengan menggunakan mobil rentalan Daihatsu Xenia warna hitam, untuk menggandakan uang sebesar Rp 25.000.000,- yang didapat dari hasil menggadaikan mobil Suzuki Carry miliknya. 

“Sekitar Pkl 16.00 WIB, kedua korban tiba di rumah Tersangka, kemudian korban memberikan 1 buah botol air mineral yang sebelumnya sudah diisi dengan air dari mata air Sijago kepada Tersangka, selain itu korban juga menyerahkan uang 25.000.000,- yang menurut pengakuan Tersangka diminta untuk didoakan,” urainya.

“Kemudian Tersangka memasukkan air dalam botol air mineral yang dibawa korban ke dalam gelas, dan memasukkan potas kemudian mengadukkannya, lalu air yang sudah dicampur potas tersebut dimasukkan ke dalam kantong plastik bening dan diberikan kepada kedua  korban sambil menyampaikan bahwa air tersebut harus diminum oleh korban sebelum sampai di rumah dan tidak boleh dilihat oleh orang lain,” terang Aron.

Sementara itu, Kasatreskrim Akp M. Alfan Armin, menjelaskan setelah dilakukan penggeledahan di rumah tersangka Polisi menemukan barang bukti seperti beberapa buah plastik bening belum terpakai yang identik dengan plastik bening yang ditemukan di dalam mobil dan uang Rp 25.000.000,- milik korban, dan beberapa barang bukti lainya.

“Kemudian dari hasil pemeriksaan terhadap Tersangka, yang bersangkutan mengakui telah membunuh korban dengan memasukkan potas ke dalam air minuman syarat kepada kedua  korban yang dibeli dari toko pertanian,” jelasnya.

“Tersangka akan dijerat pasal 340 KUHPidana tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup,” tegas Alfan.

■ Roni/red

Kamis, 18 November 2021

Hakim Tolak Permintaan PH Zaenal Tayeb Bacakan Pledoi Pekan Depan


Denpasar ,Bali Kini  -
Penasehat Hukum (PH) Zaenal Tayeb, menyampaik belum siap membacakan pengajuan pembelaan secara tertulis terkait tuntutan JPU terhadap kasus dugaan memberikan keterangan palsu dalam akta outentik dan penipuan. 


Seyogyanya agenda sidang yang menjerat terdakwa mantan Promotor Tinju Dunia Cris Jhon, Kamis (18/11) adalah membacakan nota pembelaan. Namun Mila Tayeb, selaku kuasa hukum terdakwa menyatakan belum siap. 


"Mohon ijin yang mulia. Kami belum siap, jika diperkenankan akan kami bacakan nota pembelaan kami pada Kamis depan," mohon Mila melalui telekonfrens. 


Namun permohonan dari PH Zaenal Tayeb ditolak jaksa. Dan memastikan agar Selasa (23/11) sudah siap. "Biar tidak terlalu lama. Agar mempercepat proses, sesuai agenda Selasa, 23 November 2021, sudah harus siap," tagas Hakim Wayan Yasa, dan diiyakan oleh tim PH Zaenal Tayeb. "Siap yang mulia,".


Sebagaimana diketahui, bahwa pihak JPU dari Kejari Badung setidaknya punya waktu menyusun berkas tuntutan selama 21 hari dengan sempat menunda sekali dan baru dibacakan pada Selasa (16/11) lalu. Selanjutnya hanya berselang satu hari dari kubu Zaenal Tayeb diminta untuk sudah siap mengajukan pembelaan.


Sebelumnya Tim jaksa penuntut umum (JPU) Imam Ramdhoni dkk,  menyatakan Zainal Tayeb terbukti bersalah melakukan tindak pidana memasukkan keterangan palsu pada akta autentik sebagaimana dibeberkan dalam  dakwaan kesatu. 


JPU meyakinkan perbuatan terdakwa bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana pada Pasal 266 ayat (1) KUHP dan mengajukan tuntutan hukuman selama 3 tahun penjara.


Masih dalam lingkaran kasus yang sama, Mahkmah Agung (MA) pada 3 November 2021 telah memutus menolak kasasi jaksa atas putusan bebas PN Denpasar pada terdakwa Yuri Pranatomo. 


Yuri yang perupakan karyawan dari pelapor sebelumnya dilaporkan oleh bosnya sendiri, Hedar Giacomo Boy Syam dengan tuduha  memasukkan keterangan palsu dalam akta 33, terkait kerjasama antara Zainal Tayeb dengan Hedar dalam pengelolaan dan penjualan perumahan di Cemagi, Badung. Oleh jaksa Agung Teja dari Kejari Badung, Yuri dituntut 2 tahun penjara. 


Majelis hakim PN Denpasar yang diketuai Hari Supriyanto tidak sependapat dengan jaksa dan memutus bebas murni. Atas putusan ini, jaksa ajukan kasasi namun kembali ditolak oleh majelis hakim MA yakni Hidayat Manau, Brigjen TNI Sugeng Sutrisno dan Burhan Dahlan.[ar/5]

Bebas Dari Bui, Pria asal Buleleng ini Kembali Mendekam Selama 8 Tahun


Denpasar, Bali Kini  -
Hukuman yang menjerat Nyoman Esa Udyanatha Aryasa (26) terkait kasus narkotika di Lapas Buleleng, tidak membuatnya jera. Ia justru kembali menjali bisnis yang pernah membuatnya masuk bui. 


Sabu sebanyak 104,34 Gram Netto, menjadi kekuatan Majelis Hakim PN Denpasar untuk menjatuhkan hukuman selama 8 tahun penjara. Putusan itu dibacakan hakim ketua Angeliky Handjani Dai,SH.MH menjelang masa akhir pemindahan tugasnya. 


Majelis Hakim menyatakan perbuatan pria asal Desa Banjar Jawa, Buleleng ini terbukti bersalah sebagaimana tertuang dalam Pasal 114 ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, karena berperan sebagai perantara jual beli narkotika jenis sabu yang beratnya mencapai 104,34 Gram Netto. 


"Menghukum kepada terdakwa pidana penjara selama 8 tahun dan denda Rp 2 miliar subsider 4 bulan penjara. Atas putusan itu, terdakwa menyatakan menerima," ketuk palu hakim secara virtual.


Terdakwa yang didampingi Pusat Bantuan Hukum (PBH) Peradi Denpasar tidak berniat melakukan upaya banding. Begitu juga dengan JPU Dewa Gede Anom Rai,SH yang sebelumnya menuntut hukuman 9 tahun penjara.


Tertangkapnya terdakwa, pada 2 Juli  2021 pukul 19.30 WITA, di depan Indomaret, Jl. Majapahit, Banjar Denbantas, Tabanan. Petugas dari Polresta Denpasar yang sudah menjadikan terdakwa DPO baru berhasil diamankan di Tabanan.


Saat itu polisi menemukan, 9 paket sabu dari dalam tas selempang milik terdakwa, dan 41 paket sabu dari dalam jok sepeda motor yang dikendarai terdakwa. 


Pengembangan di kamar kos terdakwa di Panjer, Denpasar Selatan kembali ditemukan 1 paket klip plastik berisi sabu. "Jadi total ada 51 klip pelastik paket sabu yang berat keseluruhannya 104,34 Gram Netto," Sebut Jaksa dari Kejati Bali, tertulis dalam dakwaan.[ar/5]

Selasa, 16 November 2021

MA Putus Yuri Bebas, JPU Tuntut Zaenal Tayeb 3 Tahun


Denpasar , Bali Kini -
Di tengah putusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak kasasai dari JPU Kejari Badung terhadap kasus yang menjerat Yuri Pranatomo. Namun kasus yang terkait pula dengan terdakwa Zaenal Tayeb, pihak JPU Kejari Badung ngotot mengajukan tuntutan selama tiga tahun penjara.


Sebelumnya, Hedar Giacomo Boy Syam (Pelapor) yang merupakan keponakan dari Zaenal Tayeb, melaporkan terkait penjualan tanah 13.700 meter persegi di Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. 


Dalam laporan Hedar, bahwa luas tanah dalan sertifikat hanya 8.700 meter persegi sehingga ada kekurangan. Dimana Zaenal Tayeb dalam hal ini selaku pemilik tanah, sedangkan drapnya dibuat oleh Yuri Pranatomo yang justru saat itu sebagai di PT Mirah Property milik Header. 


Namun pemilik sasana tinju Mirah Boxing Camp ini menjelaskan, bahwa tanah miliknya seluas 17.302 m2. Dari luas itu, yang dikerjasamakan hanya seluas 13.700 M2 dan dua kavling (1.700 M2) tidak dijual. Dimana tanah 137 are itu sudah dibayar dengan cara dicicil sampai lunas. 


Menurutnya ada dua kavlingan yang terjual. Sedangkan Yuri dalam kesaksiannya, menyebut penyusunan drap akta tanah 33 atas perintah dan kesepakatan dari Hedar dan Zaenal Tayeb.


Saat terjadi selisih ukuran yang tidak sesuai, Yuri sempat menyampaikan agar kembali dihitung ulang bersama dihadapan notaris. Namun, selanjutnya Yuri tidak tau apakah dilaksanakan atau tidak. 


Saat itu, Hedar yang merasa ditipu tidak hanya mempolisikan mantan Promotor tinju ini, tetapi juga Yuri Pranatomo yang diepercaya mengurus perusahaan miliknya di PT Mirah Property. 


Yuri Pranatomo, yang lebih awal didudukkan di kursi pesakitan PN Denpasar justru oleh Hakim, Heri Priyanto,SH.,MH.,selaku pimpinan sidang dinyatakan bebas dan tidak terbukti bersalah sebagaimana yang didakwakan oleh JPU dari Kejari Badung.


Ditegaskan hakim dalam amar putusannya bahwa kesalahan yang didakwakan terhadap terdakwa Yuri sama sekali tidak terbukti. "Semua alat bukti yang diajukan penuntut umum sama sekali tidak dapat membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa,  yaitu memasukkan keterangan palsu ke dalam akta," putus hakim kala itu. 


Menimbang, bahwa oleh karena unsur ini merupakan unsur pokok atau inti delik, dan karena unsur tersebut tidak terbukti, maka unsur selanjutnya yang merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan dari unsur sebelumnya.


Atas putusan ini, JPU langsung mengajukan Kasasi ke MA. Dan hasilnya, MA menolah pengajuan Kasasi dari JPU yang artinya putusan PN Denpasar terhadap Yuri sudha inkracht. 


Namun utk Zaenal Tayeb, JPU dikomandoi Jaksa Dewa Lanang Raharja,SH ngotot menegaskan bahwa sebagaimana dalam persidangan menilai terdakwa tidak jujur dan tidak koperatif dalam memberikan keterangan. 


'Memohon agar majelis hakim memberikan hukuman kepada terdakwa Zaenal Tayeb dengan pidana penjara selama 3 tahun, dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan," tuntut jaksa dari Kejari Badung secara online.


Sidang virtual yang dipimpin Wayan Yasa di PN Denpasar, memberikan kesempatan kepada pihak Penasehat Hukum terdakwa untuk mengajukan pembelaan yang akan disampaikan pada sidang pekan depan.


Milla Tayeb mewakili tim PH Zaenal Tayeb menegaskan bahwa pada intinya, kerjasama dan kesepakatan ini sudah dari para keduabelah pihak. "Jadi, klien kami tidak pernah merasa menyuruh ataupun memberikan keterangan palsu," singkatnya.


Lanjutnya, bahwa Riil tanah di Ombak luxury Cemagi adalah sesuai luasan yang disepakati, penjualan telah dilakukan sejak 2013 namun baru dibayarkan sejak 2017-2019 setelah ada perjanjian kerjasama di tanda tangani.[ar/4]

Senin, 15 November 2021

Perkara Kasus Korupsi Aset Tanah Kejari Tabanan Dilimpahkan


Denpasar ,Bali Kini -
Senin, 15 November 2021 penyidik Kejaksaan Tinggi Bali menyerahkan tersangka dan barang bukti perkara tindak pidana korupsi terhadap aset negara berupa tanah Kantor Kejari Tabanan kepada Penuntut Umum Kejaksaan Tinggi Bali. 


Adapun berkas perkara ini dibagi menjadi 2 berkas perkara dimana tersangka IWA, IYM, INS dalam 1 berkas perkara sedangkan tersangka IKG, PM, KD dalam 1 berkas perkara tersendiri. 


Ke-6 tersangka disangka melakukan perbuatan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1) UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU No 31 Tahun 1999 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 atau Pasal 15 jo. Pasal 2 ayat 1 UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU No 31 Tahun 1999 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1. 


Ke-6 Tersangka telah menempati/mempergunakan/menguasai tanah aset Pemerintahan cq Kejaksaan Agung yang digunakan untuk Kantor Kejari Tabanan dengan membangun warung, rumah tinggal serta kos-kosan sehingga merugikan keuangan negara sebesar Rp. 14.394.600.000,- berdasarkan Penilaian Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN). 


Berkas perkara atas nama tersangka IWA dkk dan Berkas Perkara atas nama tersangka IKG dkk telah dinyatakan lengkap oleh Penuntut Umum pada tanggal 8 Nopember 2021 kemudian dengan mengacu kepada pasal 8 ayat 3 UU No 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, penyidik menyerahkan tanggung jawab tersangka dan barang bukti kepada Penuntut Umum. 


Tersangka IWA, IYM, INS, IKG, PM, KD tiba di Ruang Tindak Pidana Khusus Kejati Bali dilakukan pemeriksaan dari pukul 10.00-16.30 Wita. Hasilnya langsung dilakukan Penahanan Rutan oleh Jaksa Penuntut Umum di Lapas Kerobokan. 


"Adapun barang bukti yang diserahkan ke Jaksa Penuntut Umum yaitu sejumlah lebih dari 90 barang bukti yang didominasi barang bukti dokumen. Para tersangka telah melewati hasil tes Covid-19 dengan hasil negatif," jelas A.Luga Harlianto,SH.,M.Hum selaki Kasi Penerarangan Hukum Kejati Bali.[ar/r5]

Penipuan Via Online Business Bodong Dihukum 2 Tahun Penjara


Denpasar ,Bali Kini -
Dwi Puryanto (38) yang melakukan manipulasi data online untuk bisnis bodong, oleh Pengadilan Negeri Denpasar dijatuhi hukuman selama 2 tahun penjara.


Majelis hakim memutuskan Puryanto terbukti melakukan tindak pidana karena membuat akun google business bondong mengunakan nama perusahaan bekas tempatnya bekerja, untuk menipu para korbannya.


Perbuatan terdakwa dinyatakan terbukti bersalah sebagaimana tertuang dalam Pasal 51 Ayat (1) Jo Pasal 35 Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. 


"Menghukum terdakwa pidana penjara selama 2 tahun dan pidana denda sebesar Rp500 juta dengan ketentuan apabila tidak dibayar maka diganti penjara 2 bulan," ketuk palu hakim Kony Hartanto,SH.,MH.


Putusan yang dibacakan secara online itu, sebagaimana tertuang dalam dakwaan bahwa pria asal Pasuruan, Jawa Timur, bekerja sebagai sales marketing di  PT. Merak Jaya Beton. 


Kemudian membuat akun google business dengan menampilkan profil, logo, nama dan alamat perusahaan yang bergerak di bidang beton cor siap pakai (ready mix) tersebut, serta mencantumkan nomor telpon terdakwa sendiri. 


Selama memegang akun tersebut, terdakwa berhasil mendapatkan kurang lebih 10 konsumen untuk membeli beton cor siap pakai," tulis dakwaan JPU Anugerah Agung Saputra Faizal,SH.


Namun pembelian tersebut tidak semua diserahkan ke PT Merak Jaya Beton. Pada tahun 2020 terdakwa pun berhenti bekerja di perusahaan itu. Namun masih mengunakan akun google business tersebut. 


Bahkan, terdakwa masih bisa mendapat konsumen untuk membeli beton cor siap pakai. Salah satu yang menjadi pembeli itu adalah I Putu Kurniawan. 


"Bahwa akibat perbuatan terdakwa PT. Merak Jaya Beton mengalami kerugian immateril dan materil dan Saksi I Putu Kurniawan mengalami kerugian sejumlah Rp.14.350.000,00," dikutip dalam dakwaannya. [ar/r5]

Motor Vs Mobil "Adu Jangkrik", 1 Tewas


Karangasem, Bali Kini -
Tragis, sebuah kecelakaan lalin yang terjadi pada Minggu (14/11/2021) malam menewaskan seorang pemuda 23 tahun bernama Made Darma Riyana asal Desa Pekutatan Kabupaten Jembrana. 


Kecelakaan ini terjadi di Jalan raya jurusan Klungkung menuju Amlapura KM 24-25, tepatnya di sebelah timur SPBU Yehmalet Desa Antiga Kelod, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Dimana Darma yang tengah melintas di jalan menuju arah Amlapura dengan mengendarai sepeda motor NMaxnya mengambil haluan terlalu kekanan. Kemudian datanglah Ran Toyota Rush Warna Hitam Metalik yang di kemudikan oleh I WP dari arah berlawanan secara bersamaan sehingga menyebabkan kecelakaan dengan posisi "adu jangkrik".


Tak hayal, korban Darma alami luka berat yakni luka patah pada kaki kiri, patah pada tangan kiri, luka robek pada paha kiri dan lukalecet pada dahi kanan. Sempat di bawa ke Rumah Sakit Klungkung, namun sayangnya akhirnya nyawa korban Darma tak tertolong dan sudah dinyatakan meninggal dunia ketika perjalanan menuju RS. 


Hal ini dibenarkan oleh Kapolsek Manggis Kompol I Ketut Ekajaya saat dikonfirmasi, Senin (15/11/2021). "Kecelakaan disebabkan karena kelalaian pengemudi, " Ungkapnya. Sementara jenazah korban saat ini sudah di serahkan ke pihak keluarga. (Ami)

Jumat, 12 November 2021

Kejati Bali Amankan Koruptor Buronan Kejati Papua


BALI KINI ■ Pada Jumat, 12 November 2021 sekitar pukul 06.00 WITA terpidana perkara tindak pidana korupsi I Made Jabbon Suyasa Putra dilakukan pengamanan oleh jajaran Kejaksaan melalui tim tangkap buron (Tabur) Kejati Papua bersama-sama Tim Tabur Kejati Bali yang terdiri dari Kejati Bali dan Kejari Gianyar. 

"Terpidana I Made Jabbon Suyasa Putra diamankan di kediamannya di Banjar Tengah Bon Biu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali," papar A.Luga Harlianto,SH.M.Hum, Kasipenkum Kejati Bali.

Terpidana I Made Jabbon Suyasa Putra merupakan Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejati Papua yang telah 9 Tahun dicari keberadaannya oleh Kejati Papua untuk melaksanakan putusan tingkat kasasi Nomor 392 K/Pid.sus/2012 tanggal 27 Maret 2012. 

Sebelumnya terpidana I Made Jabbon Suyasa Putra dilakukan penahanan sejak tahap Penyidikan hingga tahap upaya hukum di tingkat banding. Pada saat menunggu putusan kasasi terpidana I Made Jabbon Suyasa Putra dikeluarkan demi hukum dikarenakan masa penahanannya telah habis. 

Sejak saat itu terpidana I Made Jabbon Suyasa Putra tidak berada lagi di domisili tempat tinggalnya sesuai berkas perkara sehingga tidak dapat dilakukan eksekusi pada saat putusan kasasi Nomor 392 K/Pid.sus/2012 tanggal 27 Maret 2012. 

Beberapa bulan terakhir, Kejati Papua mendapatkan informasi bahwa terpidana berada di kabupaten Gianyar, Provinsi Bali sehingga dilakukan pemantauan intensif antara Kejati Papua dengan Kejati Bali. 

Beberapa hari terakhir terpantau terpidana kelahiran Jakarta 24 Maret 1980 silam ini berada di kediamannya yang berada di Banjar Tengah Bon Biu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali dan pagi ini sekitar pukul 06.00 WITA langsung diamankan oleh Tim Tangkap Buron Kejati Bali dan Kejati Papua untuk selanjutnya akan dibawa ke Jayapura untuk melaksanakan putusan tingkat kasasi Nomor 392 K/Pid.sus/2012 tanggal 27 Maret 2012. 

Mantan Direktur CV Romba Putra, ini merupaka terpidana berdasarkan putusan Nomor 392 K/Pid.sus/2012 dijatuhi pidana penjara selama 1 Tahun 6 Bulan dan pidana denda sebanyak Rp. 50.000.000,- subsidair 3 Bulan Kurungan. 

Selain itu, terpidana diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp. 740.908.700,- subsidair 1 Tahun Penjara. Putusan Nomor 392 K/Pid.sus/2012 menguatkan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Kelas IA Jayapura Nomor 02/Pid.Tipikor/2011/PN.Jpr. tanggal 27 September 2011 juncto putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi tingkat banding pada Pengadilan Tinggi Jayapura Nomor 04/Tipikor.Banding/2011/PT.Jpr. tanggal 21 November 2011.

Dimana pada intinya menyatakan terpidana I Made Jabbon Suyasa Putra alias I Made Jabbon Suyana Putra telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Perbuatan terpidana ini sebagaimana dalam pasal 3 Jo. Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Jo. Pasal 55 Ayat 1 Ke-1 KUHP.

Terpidana I Made Jabbon Suyasa Putra alias I Made Jabbon Suyana Putra dinyatakan bersalah melakukan Tindak Pidana Korupsi atas pengadaan Notebook dan Genset pada Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupatan Keerom, Papua dimana pekerjaan tersebut belum selesai 100% namun terpidana melampirkan dokumen pekerjaan seolah-olah pekerjaan telah selesai 100%, sehingga dilakukan pembayaran pekerjaan sebesar 100%, dengan nilai kerugian negara sebesar Rp. 805.908.700,-

Terpidana I Made Jabbon Suyasa Putra alias I Made Jabbon Suyana Putra melakukan perbuatan tersebut bersama-sama dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Keerom, Papua, Sakir. (**)

Selasa, 09 November 2021

10 Hari Tak Bisa Berjualan, Puluhan Pedagang Gerudug Gedung DPRD


BALI KINI ■ Puluhan perwakilan pedagang kuliner dari pasar senggol terminal timur Pasar Amlapura, pada Senin (8/11/2021) gerudug Gedung DPRD Karangasem. 

Mereka kemudian diterima oleh Ketua DPRD Karangasem, I Wayan Suastika bersama sejumlah anggota, para pedagang ini diajak berdialog di Ruang Rapat Gabungan Komisi, lantai II gedung DPRD Karangasem.

Alasannya ialah untuk menyampaikan aspirasi mereka, karena selama hampir 10 hari dilarang berjualan di pasar senggol seperti biasanya oleh Pemkab Karangasem. Yakni sejak Tanggal 31 Oktober lalu. Hal ini mengakibatkan mereka kehilangan pekerjaan alias menganggur. Padahal menurut para pedagang ini, jika mereka sudah berjualan selama lebih dari 35 tahun lamanya.

Menurut mereka, hal ini berdampak tak hanya pada para pedagang tersebut, namun juga termasuk ratusan UMKM yang memasok kue dan makanan ke pedagang di pasar senggol itu juga kehilangan pekerjaan.

Mereka juga harus di relokasi ke halaman parkir terminal barat Pasar Amlapura. Dimana biasanya di terminal timur ini memang dijadikan tempat berjualan pedagang tumpahan dari Pasar Pasar Amlapura. Karena sudah tidak ada lagi bemo ataupun angkutan umum yang mangkal ataupun beroperasi di rute tersebut. 

Kendati areal terminal timur pasar itu jadi tempat berjualan para pedagang sayur dan ikan, namun para pedagang itupun hanya berjualan saat subuh, sehingga pukul 07.00 Wita para pedagang sudah tidak lagi menggelar dagangan mereka diareal tersebut dan pindah masuk kedalam areal pasar.

"Diatas Pukul 07.00 Wita, terminal itu sudah bersih dan disapu untuk selanjutnya menjadi lahan parkir pengunjung Mall Pelayanan Publik (MPP), " Ungkap salah satu pedagang.

Mereka mengaku keberatan karena menurutnya, informasi yang diberikan oleh Dinas Infokom ketika mensosialisasikan hal tersebut, jika yang direlokasi itu hanya pedagang pagi yang jualan sayur dan ikan di terminal itu. Alasannya agar tidak mengganggu parkir Mall Pelayanan Publik. Namun entah kenapa pedagang yang berjualan sore juga digusur dan direlokasi ke terminal barat Pasar Amlapura.

“Nah kalau kami dianggap mengganggu pelayanan MPP, lha kami kan jualannya sore hari setelah MPP itu tutup,” tandasnya.

"Untuk itu kami memohon kepada Bapak Ketua DPRD dan anggota Dewan untuk membantu kami agar kami bisa diberikan berjualan disana lagi. Apalagi dari informasi yang kami dapat itu kan bukan lahan milik Pemkab Karangasem tetapi milik Pemerintah Pusat," bebernya. Selain itu, selama berjualan disana, dia dan pedagang lainnya juga membayar retribusi ke Pemkab Karangasem dan ada bukti pungutan retribusinya.

Tanggapi aspirasi  tersebut, Ketua DPRD Karangasem, I Wayan Suastika, berjanji akan membantu menjembatani masalah itu. Dengan tegas Suastika mengaku akan memanggil pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk rapat kerja. "Nanti kita akan bahas bersama untuk mencari solusi yang terbaik," tegas Suastika. (Ami) 

Senin, 08 November 2021

Didampingi LBH Lingkar Karma, Para ABH Divonis Langsung Bebas


Denpasar ,Bali Kini  -
Kasus begal atau pencurian dengan kekerasan, yang dilakukan oleh empat terdakwa anak atau Anak Berhadapan Dengan Hukum (ABH) dalam sidang yang digelar langsung di PN Denpasar, Senin (8/11) diputus 1 bulan penjara.


Putusan ini secara tidak langsung, membuat para terdakwa anak ini langsung bebas. "Karena para terdakwa anak telah ditahan sejak tanggal 9 Oktiber 2021, maka hari ini senin tanggal 8 Nopember 2021 anak telah selesai menjalani masa hukuman," terang penasehat hukum anak Ni Nyoman Ayu Sisilia Tri Handayani, SH dan didampingi oleh Diah Fitriani, SH.,MH.


Ditambahkan I Made Aryana Putra Atmaja, SH.,MH.,yang juga dari LBH Lingkar Karma, bahwa dalam sidang dengan hakim tunggal Putu Suyoga, SH. Memutuskan ketiga anak 1 bulan penjara dan 1 anak dikembalikan kepada orang tuanya, sehingga hari ini bisa kembali bersama keluarga. 


"Anak Gede CS (17), anak Kmg SW (15) dan Mde SA (15) diputus penjara selama 1 bulan, dan anak Ptu LD (13) dikembalikan kepada orang tuanya," tambah Putra Atmaja, seraya memastikan para ABH bisa merayakan Hari Raya Galungan.


Dalam eksekusi bebas ini, didampingi juga oleh pihak Kejaksaan Negeri Denpasar, Bapas Kelas 1 A Denpasar beserta orang tua ABH bertempat di Polresta denpasar. 


JPU Ni Ketut Muliani, SH yang menjerat para ABG ini dengan dakwaan alternatif yaitu dakwaan kesatu  pasal 365 ayat (2) ke-1 dan ke-2 KUHP atau kedua pasal 363 ayat (1) ke-4 KUHP. Dan menuntut selama 60 hari penjara, menyatakan menerima dengan putusan hakim.

 

Sebagaimana tertuang dalam berkas dakwaan yang disampaikan LBH Lingkar Karma, bahwa kasus ini berawal, Sabtu tanggal 2 Oktober 2021 sekira pukul 01.00 wita dimana saksi Ananda Rahmat Tulah als Nanda (Berkas perkara terpisah) menawarkan obat herbal (obat kuat) melalui aplikasi Michat. 


Untuk mengelabui para korban, Ia menggunakan akun nama Anggi dengan foto perempuan. Akun tersebut dibuat dengan menggunakan HP milik saksi Doni Damara als Doni (berkas perkara terpisah). 


Selanjutnya saksi korban JFR mengirim pesan kepada saksi Ananda, ingin membeli obat tersebut dengan harga yang telah disepakati Rp.200.000,- dan menyetujui untuk COD  di Jalan  Gunung Talang No. VI C Denpasar.


Sekitar pukul 02.00 Wita, Doni menemui para terdakwa anak yang sudah berkumpul di Jalan Gunung Lebah Denpasar. Kemudian, dengan berboncengan mereka menuju lokasi Jalan Gunung Talang.


Hampir 30 menit mereka menunggu saksi korban baru muncul. Saat itu terdakwa anak (I) Gde mendekati saksi korban dan menanyakan ada pesan obat kuat di michet. Singkat cerita, terdakwa anak (II) Mde membawakan amplop yang didalamnya hanya berisi spon busa filter rokok dan dikatakan sebagai obat kuat.


Saat itu, Saksi Doni hanya memperhatikan duduk di motor memantau ke empat ABG ini. Begitu korban mengambil dompet dan akan membayar, terdakwa anak (II) berusaha merampas dompet dan terjadi pergulatan.


Dalam situasi itulah, ke empat ABG ini langsung melakukan penyerangan dengan dibantu oleh Doni mengeluarkan doubel stik yang memukuk ke arah kepala korban berulang kali. Syukurnya korban yang tersungkur masih bisa selamat dan menuju ke rumah sakit Bhayangkara setelah melaporkan ke Polisi. 


"Selain uang dalam dompet berisi Rp 3 juta, HP korban juga dirampas. Ditafsir kerugian materil berkisar Rp.6 juta. Korban alami luka jahit di kepala dan memar di wajah serta luka lecet lainnya," tulis dalam dakwaan.


Ni Nyoman Ayu Sisilia,.dkk dari LBH Lingkar Karma bahwa dalam perkara ini para terdakwa anak melakukan perbuatan tersebut karena diajak oleh terdakwa dewasa, nanda dan doni (keduanya berkas terpisah) dan anak turut serta.[ar/5]

Jumat, 05 November 2021

Simpan Dua Karung Ganja, Pria asal Banyuwangi ini Dihukum 16 Tahun


Denpasar , Bali Kini  -
Nur Moch.Kosim alias Dalbo (32) yang diamankan di Banyuwangi bersama rekannya berikut barang bukti ganja berat 15 kg menerima hukaman selama 18 tahun penjara.


Terdakwa yang diamankan berdasarkan dari pengembangan Badan Narkotika Nasional (BNN) Prov.Bali, ada sebanyak 6 karung yang didalamnya terdapat bungkusan berisi ganja yang ditutupi sejumlah kain dan pakaian bekas. Total keseluruhan ada 15.286,08 gram netto atau 15,3 kg.


Dalam sidang yang digelar secara online di PN Denpasar, terungkap bahwa terdakwa ditangkap pada 08 Maret 2021, sekira pukul 12.30 waktu setempat bagian barat dirumahnya dusun Kemiren, Banyuwangi.


Dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa NL Wyn Adhi Antari,SH dihadapan Hakim Ketua sidang, Hari Supriyanto,SH.,MH., Menyebutkan bahwa awalnya dihubungi oleh Doni (belum tertangkap) yang menawarkan pekerjaan untuk mengantar barang narkotika dengan daerah tujuan Denpasar, Bali.


Setelah Oke, pada Kamis 4 Maret 2021 sekira pukul 10.00 WIB, terdakwa menerima kiriman 7 karung yang diantar oleh petugas ekspedisi di rumahnya dusun Kemiren, Singojuruh Banyuwangi.


Kemudian terdakwa menghubungi Doni dengan cara Video Call untuk tujuan menanyakan dan meyakinkan kiriman yang telah diterimanya. Setelah Doni membenarkan, terdakwa langsung menyimpan ke tujuh karung tersebut ke dalam kamar tidurnya.


Beberapa menit kemudian, terdakwa kembali dihubungi oleh Doni untuk membawa 1 karung diserahkan kepada laki-laki kode "Gimbal" dengan lokasi depan Warung Soto Pak Hasim di Daerah Rogojampi.


Tiba dilokasi yang diperintahkan, terdakwa bertemu dengan seseorang yang belakangan diketahui bernama Yulis Siswanto Als. Embing (berkas terpisah vonis 16 tahun).


"Terdakwa bertanya kepada saksi Yulis Siswanto Als. Embing dengan berkata “Gimbal ya?” lalu dijawab oleh saksi Yulis, “Ya, benar”, selanjutnya terdakwa langsung menyerahkan 1 karung yang berisi paket ganja tersebut. Setelah itu mereka pergi dari tempat tersebut," sebut Jaksa dalam dakwaan.

 

Selanjutnya, Senin 08 Maret 2021, sekira pukul 12.30 WIB sesampainya terdakwa dirumahnya, terdakwa disambangi 4 orang petugas mengaku dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Propinsi Bali. Tanpa berkutik, terdakwa langsung digiring untuk diinterogasi.


Dari penangkapan ini ditemukan di dalam kamar tidur rumah terdakwa barang berupa tumpukan karung yang berisi potongan kain dan pakaian bekas. Setelah dikeluarkan isinya, ditemukan bungkusan pelastik yang dilatban berisi ganja. 


"Total paket ganja yang ditemukan ada 15 paket yang dibungkus lakban berisi biji, batang dan daun tanaman yang diduga narkotika jenis Ganja dengan berat bersih keseluruhan 15.286,08 gram," tulis dalam dakwaan.


Dalam pengembangan, petugas kemudian menggiring terdakwa untuk bertemu  Embing. Petugas kembali menemukan 1 karung berisi 11 paket/bungkusan yang didalamnya berisi Ganja dengan berat total keseluruhan 9.899,13 gram netto.


Untuk selanjutnya, kedua terdakwa dilayar ke kantor BNNP Bali. "Bahwa terdakwa tanpa hak atau melawan hukum dengan sengaja mencoba melakukan pemufakatan jahat sebagai perantara jual beli narkotika jenis ganja yang beratnya melebihi dari 5 gram," tulis Jaksa Adhi dalam dakwaan.


Perbuatan terdakwa dijerat dan diancam dalam Undang-undang RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika, Pasal 114 ayat (2) dan Pasal 111 ayat (2) Jo Pasal 132 Ayat (1).


"Menghukum terdakwa pidana penjara selama 16 tahun dan denda sebesar Rp.2 miliar, subsider 6 bulan penjara," putus hakim.[ar/5]

Kamis, 04 November 2021

Tuntutan JPU Dibacakan Usai Libur Galungan


Denpasar , Bali Kini  -
Pihak Jaksa Penuntut Unum (JPU) yang dikomandoi Jaksa Dewa Lanang Raharja,SH menyatakan belum siap membacakan amar tuntutan terhadap terdakwa Zaenal Tayeb terkait dugaan memasukkan keterangan palsu ke dalam akta outentik.


Sidang yang digelar secara online di PN Denpasar, Kamis (4/11) ketua majelis hakim Wayan Yasa,SH.,MH. terpaksa menunda jadwal sidang tuntutan hingga pekan depan atau setelah libur Galungan. 


"Kami harap sodara penuntut umum sudah siap dengan tuntutannya pada hari Selasa, 16 November," putus hakim dalam sidang.


Sebagaimana diketahui, terakhir Zaenal Tayeb dihadirkan dalam sidang secara online, Kamis (28/10). Setidaknya terjeda hingga 21 hari lamanya untuk mendengarkan amar tuntutan dari JPU Kejari Badung.


Dikesempatan terakhir, Zaenal Tayeb, sempat mempertegas agar PN Denpasar mengijinkan untuk dilakukan proses pengukuran ulang terkait tanah yang dijadikan permasalahan ini muncul.


Dimana pada intinya, kata Zaenal hal ini adalah kerjasama dan kesepakatan para pihak. Jadi, dirinya tidak pernah merasa menyuruh ataupun memberikan keterangan palsu.


"Riil tanah di Ombak luxury Cemagi adalah sesuai luasan yg disepakati, penjualan telah dilakukan sejak 2013 namun baru dibayarkan sejak 2017-2019 setelah ada perjanjian kerjasama di tanda tangani," terang Zaenal saat sidang dengan agenda keterangan terdakwa.


Kembali mengulas dakwaan JPU, kasus ini bermula dari Hedar Giacomo Boy Syam yang merupakan keponakan dari Zaenal Tayeb, melaporkan terkait penjualan tanah 13.700 meter persegi di Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. 


Dalam laporan Hedar, bahwa luas tanah dalan sertifikat hanya 8.700 meter persegi sehingga ada kekurangan. Dimana Zaenal Tayeb dalam hal ini selaku pemilik tanah, sedangkan drapnya dibuat oleh Yuri Pranatomo yang justru saat itu sebagai di PT Mirah Property milik Header. 


Namun pemilik sasana tinju Mirah Boxing Camp ini menjelaskan, bahwa tanah miliknya seluas 17.302 m2. Dari luas itu, yang dikerjasamakan hanya seluas 13.700 M2 dan dua kavling (1.700 M2) tidak dijual. Dimana tanah 137 are itu sudah dibayar dengan cara dicicil sampai lunas. 


Menurutnya ada dua kavlingan yang terjual. Sedangkan Yuri dalam kesaksiannya, menyebut penyusunan drap akta tanah 33 atas perintah dan kesepakatan dari Hedar dan Zaenal Tayeb.


Saat terjadi selisih ukuran yang tidak sesuai, Yuri sempat menyampaikan agar kembali dihitung ulang bersama notaris. Namun, selanjutnya Yuri tidak tau apakamh dilaksanakan atau tidak. 


Saat itu, Hedar yang merasa ditipu tidak hanya mempolisikan mantan Promotor tinju ini, tetapi juga Yuri Pranatomo yang diepercaya mengurus perusahaan miliknya di PT Mirah Property. 


Yuri Pranatomo, yang lebih awal didudukkan di kursi pesakitan PN Denpasar justru oleh Hakim, Heri Priyanto,SH.,MH.,selaku pimpinan sidang dinyatakan bebas dan tidak terbukti bersalah sebagaimana yang didakwakan oleh JPU dari Kejari Badung.


Ditegaskan hakim dalam amar putusannya bahwa kesalahan yang didakwakan terhadap terdakwa Yuri sama sekali tidak terbukti. "Semua alat bukti yang diajukan penuntut umum sama sekali tidak dapat membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa,  yaitu memasukkan keterangan palsu ke dalam akta," putus hakim kala itu. 


Menimbang, bahwa oleh karena unsur ini merupakan unsur pokok atau inti delik, dan karena unsur tersebut tidak terbukti, maka unsur selanjutnya yang merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan dari unsur sebelumnya.


"Selanjutnya secara mutatis mutandis, tidak akan dipertimbangkan lagi," putus hakim terhadap terdakwa Yuri, yang secara tidak langsung juga berkaitan dengan terdakwa Zaenal Tayeb. 


Dalam dakwaan JPU menjerat Zaenal Tayeb dengan pidana Pasal yang tidak jauh beda dengan apa yang diajukan kepada Yuri yaitu Pasal 266 Ayat (1) KUHP Jo Pasal 378 KUHP. [ar/5]

Dilaporkan Lakukan Penggelapan, Begini Tanggapan Komisaris PT.PSI


Kokisaris PT.PSI

Denpasar , Bali Kini - DA (33) Pria berkebangsaan Uzbekistan, yang merupakan Komisaris di Perusahaan PT.PSI Jalan Sunset Road No.13 Kuta, Badung, dipolisikan oleh Direksi diperusahaan tersebut. 


Dalam laporannya di Polresta Denpasar, Jumat (29/10) lalu, DA diduga melakukan tindak pencurian dan pengancaman. Ferdi, selaku Direksi diperusahaan itu menyebut DA telah melakukan penggelapan uang perusahaan yang mereka berdua bangun secara kerjasama.


Dari laporan polisi LP-B/937/X/2021/SPKT.SAT.RESKRIM.POLRESTA DPS.Bali membuat DA yang menjadi komisaris di perusahaan itu langsung diamankan. Dalam laporannya, pelapor mengaku telah berusaha untuk melakukan mediasi secara kekeluargaan atas banyaknya uang pengeluaran di perusahaan.


Bahkan dalam laporan tersebut, pelapor mengaku dirinya merasa terancam dengan sikap DA yang datang ke kantor dengan cara mengacak acak kantor dan membawa sejumlah preman. 


Diterangkannya, bahwa dirinya telah sepakat menjalin kerjasama dengan DA untuk menjalankan proyek. Namun seiring waktu, keuangan perusahaan mengalami kebocoran yang jumlahnya mencapai miliaran rupiah. Bahkan gaji karyawan ada yang tidak terbayarkan hingga ratusan juta.


Menanggapi adanya laporan tersebut, Fahmi Yanuar Siregar, SH., LL.M. dan Gita Sri Pramana,SH selaku penasehat hukum dari terlapor, mengklaim ada pemutar balikan fakta dari pelapor. 


Kata Fahmi, ada beberapa poin yang perlu dirinya pertegas soal keyakinan kliennya tidak bersalah dalam kasus yang dilaporkan oleh pelapor sebagaimana yang tertuang dalam berkas laporan.


"Pertama, tidak benar bahwa klien kami melakukan penggelapan uang perusahaan," tegas Fahmi, Kamis (4/11). 


Ditambahkannya, bahwa untuk menjunjung asas praduga tak bersalah sesuai Pasal 8 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman yang mengatakan: 


“Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan/atau dihadapkan di depan pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum yang tetap,"


Kedua, narasi dalam berita memuat bahwa DA seolah-olah menyebabkan utang perusahaan sampai miliaran rupiah, bahkan gaji karyawan saja tidak dibayarkan hingga jumlahnya mencapai ratusan juta serta melakukan perampasan dokumen audit perusahaan.  


"Ini menjadi tidak relevan, karena justru pertanggungjawaban perusahaan berada pada Direksi, dan yang sedang menjabat direksi pada perusahaan tersebut adalah Pelapor sendiri," sebutnya.


Sedangkan, terkait Pengambilan hasil audit merupakan tindakan DA dalam jabatannya sebagai Komisaris dalam fungsi sebagai pengawas dan evaluator Direksi.[ar/5]

Rabu, 03 November 2021

Gepeng , Pedagang Asongan dan Pengamen Kocar Kacir di sapi Satpol PP Kota Denpasar


Denpasar ,Bali Kini  -
Tim Kecamatan Denpasar Utara bersama Satpol PP Kecamatan Denpasar Utara menertibkan gepeng , pedagang asongan dan pengamen berbusana adat Bali  di beberapa titik perempatan jalan di Kota Denpasar di wilayah Kecamatan Denpasar Utara Rabu (3/11).


Camat Denpasar Utara I Nyoman Lodera mengatakan, penertiban ini dilakukan karena  maraknya gepeng , pedagang asongan dan pengamen berbusana adat Bali menyebar di beberapa tempat dan perempatan  jalan yang ada di Kota Denpasar khususnya Kecamatan Denpasar Utara. Selain itu penertiban ini untuk menciptakan Denpasar yang aman nyaman dan indah.


 Untuk itu  pihaknya bersama tim  Kecamatan Denpasar Utara dan Satpol PP Kecamatan Denpasar Utara melakukan penertiban di Perempatan Jalan Cokroaminoto dan Perempatan Jalan Nangka. Menurutnya dalam penertiban tersebut pedagang asongan dan pengamen di perempatan Jalan Cokroaminoto berhasil melarikan diri sedangkan di perempatan Jalan Nangka berhasil ditertibkan 5 orang dan 2 orang  meloloskan diri. “Untuk tindak lanjut 5 orang itu telah diamankan dan diberikan pembinaan di Kantor Satpol PP  Kota Denpasar,” kata Lodera. 


Lebih lanjut Lodera mengatakan, pihaknya tidak melarang mereka untuk mencari rezeki, namun hal yang dilakukan itu sangat mengganggu ketertiban umum. JIka ingin mengais rejeki masih banyak pekerjaan lain yang bisa dilakukan tanpa melanggar peraturan daerah yang ada di Kota Denpasar.


Sebagai  Camat Denpasar Utara  kedepan berharap agar masing masing desa kelurahan yang mewilayahi ikut menjaga ketertiban dan keamanan wilayah khususnya gepeng pengamen dan pedagang asongan liar. [rl/1]

Selasa, 02 November 2021

Terima Sekilo Paket Ganja, Wanita Medan ini Dihukum 10 Tahun


Denpasar ,Bali Kini  -
Gara-gara menerima pesanan Ganja yang dioder oleh kekasihnya, membuat wanita asal Medan, Stephanie Joice Tjowandi (28) harus menerima hukuman selama 10 tahun penjara.


Berawal dari hubungan dirinya dengan Rian (DPO) membuat terdakwa terpaksa menuruti saat diminta mengambil paket ganja seberat 1 kg yang dikirim lewat paket JNE dari Medan.


Awalnya, pada 22 Mei 2021 terdakwa disuruh untuk menerima paketan ganja oleh Rian. Itu disampaikan setelah Rian kembali pulang ke Medan. Intruksi disuruh mengambil kiriman paket ganja lewat JNE. 


Selanjutnya, Kamis 27 Mei 2021, terdakwa dihubungi oleh Giston Sinaga (DPO) bahwa paket ganja sudah tiba, tetapi kurir JNE tidak mau antar. Sehingga pengiriman lewat Gojek.


Pengambilan ditentukan di depan  Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman Jl. Tukad Batanghari XIV Denpasar Selatan, sekira pukul 00.05 Wita.


Petugas yang sejak awal mendapat informasi tersebut langsung melakukan penyidikan. Terdakwa berhasil diamankan usai menerima paket berisi ganja. "Dalam paket bungkusan pelastik itu berisi ganja dengan berat bersih 1000 gram," tulis dalam dakwaan.


Penyidikan berlanjut ke kamar kos terdakwa di Jalan Hangtuah, Renon Denpasar. Dalam kamar kos ditemukan 1 linting ganja dan satu bendel pelastik kosong. 


Jaksa I Putu Bayu Pinarta,SH yang sebelumnya menuntut 12 tahun penjara, setidaknya mendapat keringan dari Hakim Ketua Hakim Wyn Sukradana,SH.,MH yang memutuskan hukuman 10 tahun penjara dan denda 1 miliar Subsidair tiga bulan.


"Menyatakan terdakwa tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika golongan I dalam bentuk tanaman yang beratnya melebihi 1 (satu) kilogram," putus hakim secara virtual melalui PN Denpasar.


Perbuatan terdakwa telah terbukti bersalah sebagaimana tertuang dalam Pasal 111 ayat (2) UU RI No.35 tahun 2009.[ar/5]

© Copyright 2021 BALIKINI.NET | BERIMBANG, OBYEKTIF, BERBUDAYA | All Right Reserved