Tirtawan Keluhkan Ketimpangan Dana Hibah Antara Pimpinan dan Anggota - Bali Kini

Bali Kini

https://www.voaindonesia.com

Breaking News

Rabu, 27 Februari 2019

Tirtawan Keluhkan Ketimpangan Dana Hibah Antara Pimpinan dan Anggota

Denpasar,Balikini.Net - Dana hibah bansos yang difasilitasi oleh DPRD Bali Tahun 2019 dipangkas oleh Pemprov Bali. Diketahui, pemangkasan untuk membiayai pembangunan Shortcut Denpasar-Singaraja.  Disamping itu, nominal hibah bansos antara anggota dewan dengan pimpinan sangat jauh. Anggota menerima Rp. 4 Millyar, sedangkan Pimpinan Rp. 10 Millyar. 

Pemamgkasan dan perbedaan tersebut dikeluhkan oleh anggota dewan, salah satunya Nyoman Tirtawan. Politisi Partai NasDem ini mengkutip pidato Gubernur Bali sebelumnya Made Mangku Pastika saat pembahasan Rancangan RAPBD 2019 lalu, menyebutkan bahwa banyak dana yang tersisa. Alasannya, selama 2019 tak ada Pilkada dan pembangunan Rumah Sakit. Setidaknya ada dana yang tersisa sebesar Rp. 450-500 Milyar. Ditambah lagi, pengembalian dana sisa penyelenggaraan Pilgub Bali 2018 sebesar Rp. 30 Milyar. 

Tak hanya itu saja, dalam RAPBD 2019 juga sudah dirancang hibah bansos yang difasilitasi oleh dewan. "Rancangan APBD 2019, semuanya sudah berdasarkan E-Planning dan E- Budgeting dan sudah terverifikasi dan mestinya tidak bisa dirubah lagi. Tetapi kenyataannya dirubah dan angkanya bagi anggota semakin kecil nilainya," jelas dia, Rabu (27/02)

Menurutnya, ada dua hal mendasar untuk merubah anggaran yang telah ditetapkan. Pertama, terjadi kesalahan procedural, fiktif, dan pemanfaatan yang tidak efektif. Kedua, adanya force major seperti bencana alam. Namun, kalau untuk alasan pembangunan Shortcut, baginya tak masuk akal. Pasalnya masih ada dana yang tersisa. Apalagi, proposal permohonan hibah masyarakat telah diverifikasi dan lolos. 

Tirtawan mencontohkan, ada masyarakat yang mengusulkan pembangunan jembatan dengan Rencana Anggaran Belanja (RAB) sebesar Rp. 100 Juta. Setelah dinyatakan lolos verifikasi, ditengah pembangunan dipotong sebesar 30 persen atau sekitar Rp. 30 Juta. Secara logikanya, pembangunan jembatan tersebut menjadi terkendala. "Secara logika jelas pembangunan jembatan gak bisa diselesaikan dan secara etika, permohonan yang sudah diloloskan dalam verifikasi gak bisa dikoreksi kecuali dianggarkan lebih dari permohonan," akunya. 

Disisi lain, Tirtawan juga mengaku tak pernah diikutkan dalam rapat pembahasan pemangkasan dana hibah. Tiba-tiba untuk pimpinan melonjak naik menjadi Rp 10 miliar sementara yang difasilitasi untuk anggota turun menjadi Rp 4 miliar dari Rp 6 miliar sebelumnya. "Jangan pernah abaikan etika dan logika dalam menyusun anggaran, ketimpangan sudah sangat tinggi antara anggota dengan pimpinan, masyarakat pasti protes hibahnya dipangkas dan pembangunan gak bisa diselesaikan sesuai rencana," tutup dia. Dp/r2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Redaksi Balikini.net menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan di Balikini.net . Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi Balikini.net akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.

Terimakasih
www.balikini.net