Sabtu, 17 Oktober 2020

Kemenag Gelar Lomba Film Pendek Pemuda Hindu Berhadiah Total Rp50 Juta


Jakarta ,BaliKini.Net - 
Kementerian Agama melalui Ditjen Bimbingan Masyarakat Hindu menggelar Lomba Film Pendek  dengan tema Pemuda Hindu Bersatu Bangkit dan Berkarya. Lomba yang digelar dalam rangka Hari Sumpah Pemuda ini akan merebutkan hadiah total senilai 50 juta rupiah. 

Kita ketahui bersama, saat ini Pandemi Covid-19 tengah melanda dunia dan juga Indonesia. Ini tentu membawa dampak bagi banyak sektor kehidupan. Momen Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2020 ini tentunya menjadi momen untuk bangkit dari segala keterpurukan akibat pandemi, tutur Dirjen Bimas Hindu Tri Handoko, Senin (1210). 

Pemuda Hindu harus mengambil peran untuk turut bersama-sama dengan Pemerintah agar dapat membangkitkan semangat menghadapi era norma baru saat ini,imbuhnya. 

Film, lanjut Tri Handoko, menjadi media komunikasi yang dipilih Ditjen Bimas Hindu untuk menyebarkan semangat kebangkitan ini. Kami berharap dengan film yang dibuat, pemuda-pemuda Hindu dapat menyebarkan dan menyerukan semangat yang dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan produktif masyarakat saat ini, harap Tri Handoko.  

Ia menambahkan, untuk lomba ini, masing-masing pemenang akan memperoleh hadiah sebagai  Juara Pertama  Rp 20 Juta , Juara Kedua  Rp 12 Juta , Juara Ke Tiga  Rp 10 Juta , Harapan Satu Rp 5 juta ,Harapan Dua Rp 3 juta .

 Info penting adapun syarat dan ketentuan lomba film pendek Bimas Hindu, sebagai berikut: 

1. Lomba Terbuka Untuk Pemuda Hindu Warga Negara Indonesia

2. Film Pendek dalam rangka sumpah pemuda dengan tema Pemuda Hindu Bersatu Bangkit dan Berkarya

3. Konten Film tidak mengandung unsur kekerasan, hal-hal negatif dan tidak melanggar hukumaturan yang berlaku

4. Peserta hanya mengirimkan 1 Vidio dengan sinopsis penjelasan film

5. Film yang dikirimkan merupakan karya asli pribadikelompok dan peserta wajib bertanggungjawab penuh terhadap karya yang dikirimkan

6. Film yang dikirim tidak pernah dipublikasikan sebelumnya

7. Film pendek menggunakan Bahasa Indonesia

8. Film yang dikirimkan menjadi milik panitia dan dapat secara bebas dalam rangka kegiatan dilingkungan Kementerian Agama dengan tetap mencantumkan nama kreatorpencipta

9. Peserta wajib memfollow  akun IG @bimashinduri dan merepost flyer lomba dengan menyertakan hastag #pemudahindubersatubangkitdanberkarya

10. Unggah Video melalui google drive dan kirim linktautan ke bimashindu@kemenag.go.id cc ditjenhindu@gmail.com dengan subjek Lomba Video Sumpah Pemuda Bimas Hindu

11. Video dikirim paling lambat 21 Oktober 2020 dengan menyertakan nama lengkap, asal, No. HP yang dapat dihubungi dan jenis serta judul video

12. Pihak Penyelenggara dan Dewan Juri tidak bertanggung jawab atas hal apapun mengenai film pendek yang dikirimkan apabila terjadi penuntutan kepemilikan cipta atas sebagianseluruh bagian film yang dikirimkan dan hal-hal lainnya yang membuat kerugian dengan nilai ataupun tanpa nilai bagi peserta maupun pihak lain

13. Penyelenggara berhak mendiskualifikasi film peserta sebelum dan sesudah penjurian apabila dianggap tidak memenuhi ketentuan, serta mencabut status juara peserta apabila film yang dilombakan menjadi pemenang dilomba film pendek bimas hindu

14. Peserta dianggap telah menyetujui semua persyaratan yang ditetapkan atas karya film pendek yang dikirim

15. Kreteria Penilaian bersifat tertutup dengan metode penilaian Profesional dari pakar dan penyelenggara

16. Pemenang lomba video ditentukan oleh juri dan akan diumumkan pada saat hari sumpah pemuda 28 Oktober 2020 di medsos bimashinduri serta keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. [ men/r4]

Senin, 23 Desember 2019

Pemkab Karangasem Mengucapkan Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2020

Bali Kini - Seluruh masyarakat Karangasem melalui Bupati IGA Mas Sumatri didampingi Wakil Bupati I Wayan Artha Dipa mengucapkan Selamat Hari Raya Natal bagi seluruh umat Nasrani baik di Karangasem dan Bali pada umumnya, sekaligus selamat merayakan Tahun Baru 2020.

Melalui momentum Natal 2019 ini, Bupati mengajak masyarakat semakin memperkokoh toleransi melalui landasan Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai NKRI. Apalagi, semangat toleransi di Kabupaten berjuluk Gumi Lahar tersebut sudah terjalin sejak zaman kerajaan.

Ia juga meminta, umat Nasrani turut berkontribusi terhadap pembangunan di Karangasem. "Kami mengharapkan peran serta seluruh umat beragama. Karena kita adalah saudara. Selamat merayakan Hari Raya Natal bagi saudara penganut Nasrani," ucap Bupati Mas Sumatri di Karangasem, Senin (23/12).

Visi Karangasem "The Spirit of Bali", menurut Mas Sumatri tidak saja diperuntukkan bagi umat Hindu, melainkan seluruh umat beragama. Sebab pada dasarnya Tuhan hanya satu yang membedakan adalah cara menyembahnya. 

Landasan Tri Hita Karana, lanjut Bupati perempuan pertama ini, juga bisa diimplementasikan oleh seluruh umat beragama karena sifatnya universal. "Tri Hita Karana yang menjadi fondasi pembangunan Karangasem sangat universal, apapun agamanya mesti menyeimbangkan hubungan yang harmonis dengan Tuhan (sesuai kepercayaan), alam dan sesama manusia," tegasnya.

Terkait tahun baru 2020, Bupati Mas Sumatri mengimbau warganya untuk introspeksi diri atas pencapaian tahun sebelumnya. Ia berharap, pergantian tahun mampu membawa perubahan positif bagi masing-masing individu, keluarga, bangsa dan negara.

Sebagai kepala daerah, Ia juga mengaku bakal melakukan evaluasi di tahun baru ini. Pihaknya mengharap kritik yang membangun dari Krama Karangasem demi mewujudkan Karangasem Bermartabat dan Sejahtera. "Sudah empat tahun lebih kami memimpin Karangasem. Tiap tahun kami lakukan evaluasi, karena tentu kami tidak sempurna," kata Mas Sumatri. (hms)

Minggu, 18 Agustus 2019

STRATEGIS PENYULUH UNTUK NDONESIA

Oleh : I K. Satria

BaliKini.Net - Visi Indonesia Maju merupakan salah satu yang menarik dalam upaya pemajuan keberadaban Bangsa Indonesia. Maju dalam hal ini adalah maju disegala bidang. Sebagai bangsa yang besar Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi yang terdepan, alam dan hasil bumi yang sangat melimpah mampu menyokong keberadaan Indonesia sebagai Negara maju. Beberapa indicator kemajuan mesti melalui pentahapan, seperti misalnya Pembangunan infrastruktur yang sudah dilakukan dilanjutkan terus, prioritas SDM sejak dalam kandungan sehingga lahir anak-anak yang cerdas dan kuat dalma melakukan pembangunan kedepan, selain itu dalam rangka percepatan pembnagunan  pemerintah mesti bekerjasama dengan berbagai pihak salah satunya adalah investor sehingga mempermudah Investasi untuk lapangan kerja menjadi poin selanjutnya dalam pentahapan ini, etos kerja yang lemah mesti diperbaiki dengan cara reformasi birokrasi sebagai salah satu upaya penggerak roda pembangunan nasional dan APBN harus tetap sasaran, dalam hal ini APBN diharapkan mengarah pada program-program kemajuan bangsa. Kelima pentahapan ini mampu memberikan nuansa kemajuan bangsa karena akan mampu membangun iklim yang lebih sehat dan pembangunan akan berjalan dengan lancar.
Penyuluh Agama dan Penyuluh Informasi Publik (PIP) adalah salah satu elemen penting dalam penguatan Sumber daya manusia. Penyuluh adalah mereka yang memberikan penerangan dengan bahasa agama kepada masyarakat, sebagai manusia Pancasila maka informasi dan pengembangan manusia dengan pendekatan agama menjadi penting. Penyuluh yang mampu menterjemahkan program-program pemerintah dan menyampaikannya dengan sederhana kepada masyarakat pedesaan akan mampu memberikan penguatan baru terhadap berjlannya program pemerintah di akar rumput. Hal lainnya adalah bahwa penyuluh mampu dengan pendekatan agama diharapkan program pemerintah berjalan dengan baik. Masyarakat dicerahkan, dituntun dan diarahkan dalam ikut serta dalam pembangunan bangsa.
Sebagai salah satu upaya yang dilakukan oleh penyuluh agama adalah menguatkan betapa pentingnya dasar negara pancasila dan NKRI dalam kehidupan global ini. Persaingan antar bangsa, kriminalisasi negara, disintegrasi dan radikalisme sebagai salah satu yang akan mengganggu keutuhan bangsa merupakan musuh yang memerlukan formulasi baru untuk mencegahnya. Penyuluh agama diharapkan mampu menterjemahkan nilai-nilai yang terkandung dalam kitab suci dalam rangka mengajak, mencerahkan dan menuntun masyarakat agar ikut dalam rangka membangun bangsa. Masyarakat yang memiliki nilai nasionalisme goyah memang sangat memerlukan penguatan nilai-nilai persatuan demi ajegnya negara pancasila Indonesia.
Empat pilar nilai kebangsaan merupakan keharusan yang mesti dipahami dan dituangkan dalam prilaku warga Negara. Apa yang dimaksud dengan empat Pilar Kebangsaan? Pengertian 4 Pilar Kebangsaan adalah tiang penyangga yang kokoh (soko guru) agar rakyat Indonesia merasa nyaman, aman, tentram, dan sejahtera, serta terhindar dari berbagai macam gangguan. Jika bisa kita andaikan bahwa empat pilar itu sebagai suatu pengikat persatuan dan keutuhan bangsa. Ini merupakan sistem keyakinan (belief system) atau filosofi (philosophische grondslag) yang isinya berupa konsep, prinsip, serta nilai yang dianut oleh masyarakat suatu negara. Filosofi dan prinsip keyakinan yang dianut oleh suatu negara digunakan sebagai landasan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, demi kemajuan bangsanya.
Penyuluh berperan strategis sebagai penerang dan penyampai pesan pembangunan dari pemerintah kepada masyarakat di kalangan bawah. Penyuluh sebagai elemen strategis sesungguhnya mampu menjadi kekuatan handal pemerintah untuk menerangkan program kerja itu dan disampaikan dengan pendekatan agama kepada masyarakat, hal ini diyakini mampu menjadi jembatan penghubung antara pemerintah dengan lapisan masyarakat yang paling bawah. Penyuluh juga diharapkan mampu merubah pola pikir masyarakat dari yang biasa dan sederhana menuju pemikiran yang maju, membangun dan handal dalam menyokong pembangunan bangsa.

Indonesia maju adalah sebuah bangsa yang memiliki daya saing kuat, sumber daya manusia yang unggul disegala bidang, nilai persatuan dan cinta tanah air yang kokoh, serta masyarakat yang bangga menjadi bagian dari bangsanya yang diperjuangkan oleh para pahlawan dengan tumpahan darah dan air mata. Warga Negara yang maju adalah yang mampu memahami perbedaan yang ada sebagai penghias peradaban bangsa. Penyuluh agama dan penyuluh informasi publik sangat berperan untuk menjadi tauladan, menjadi contoh di masyarakat dan menjadi penerang dalam kehidupan beragama di akar rumput. Dengan berbagai keterampilan penyuluh untuk mengkemas muatan ceramah untuk mengajak masyarakat ikut serta dalam membangun peradaban bangsa merupakan nilai lebih dari penyuluh, dan dengan penyuluh akan mampu mewujudkan Indonesia maju, utamanya dalam penguatan keagamaan sebagai pondasi kesuksesan manusia Pancasila.

Senin, 04 Maret 2019

MENJELAJAH INDONESIA SEHARI SETELAH MERAYAKAN HARI RAYA NYEPI DI BALI

Gianayar ,Bali - Sehari  setelah  Hari  Raya  Nyepi  disebut  Ngembak  Geni.  Ngembak  sendiri  mengandung  arti  “bebas”  dan Geni  artinya  “api.”  Jadi  Ngembak  Geni  mengandung  arti  bebas  menyalakan  api,  yang  dalam  arti  luas bebas  untuk  melakukan  aktifitas  kembali.  Saat  Ngembak  Geni,  umat  Hindu  melaksanakan persembahyangan  dan  memohon  kepada  Sang  Hyang  Widi  Wasa  agar  di  tahun  yang  baru,  alam  semesta beserta  isinya  memperolah  kerahayuan.  Setelah  selesai  sembahyang  biasanya  dilanjutkan  dengan kegiatan  Dharma  Santhi  dilingkungan  keluarga,  teman  dan  selanjutnya  mengunjungi  obyek-obyek  wisata untuk  rekreasi.

Salah  satu  tempat  yang  sangat  menarik  untuk  dikunjungi  adalah  Taman  Nusa  yang terletak  di  Desa  Sidan,  Gianyar,  Bali. Taman  Nusa  yang  menampilkan  perjalanan  waktu  bangsa  Indonesia  dari  masa  ke  masa,  dari  Masa  Prasejarah,  Masa  Perunggu,  Masa  Kerajaan,  Kampung  Budaya,  Indonesia  Awal,  Indonesia  Merdeka,  sampai ke  Indonesia  Masa  Depan.  Di  Masa  Kerajaan,  pengunjung  dapat  menikmati  kemegahan  salah  satu mahakarya  dunia  yaitu  replika  Candi  Borobudur,  dimana  pengunjung  dapat  naik  ke  stupa  tingkat  atas  dan merasakan  seperti  berada  di  Candi  Borobudur  aslinya  di  Jawa  Tengah.  Didalam  Kampung  Budaya, terdapat  lebih  dari  60  bangunan  tradisional,  dimana  beberapa  rumah  tradisional  di  Kampung  Budaya  ada yang  sudah  berusia  puluhan  tahun,  bahkan  ratusan  tahun.  Terdapat  pula  beberapa  sanggar  dan  aktifitas kesenian  dimana  pengunjung  dapat  terlibat  langsung  dan  berinteraksi  dengan  kebudayaan  itu  sendiri.   

Jalan-jalan  santai  di  pagi  atau  sore  hari  dengan  keluarga  dan  teman-teman,  akan  semakin  lengkap  dengan pemandangan  alam  Bali  seperti  gunung,  sungai  dan  alam  yang  mengagumkan  serta  hutan  yang  masih  asri yang  semakin  langka  ditemui  di  pulau  dewata  Bali.  Kampung  Budaya  juga  dilengkapi  dengan  kafetariakafetaria  untuk  beristirahat,  dan  Pondokan  Kuliner  Nusantara  sambil  menikmati  pemandangan  teras sering  dan  jurang  Sungai  Melangit. Dalam  rangka  menyambut  liburan  setelah  hari  Raya  Nyepi  di  Bali,  Taman  Nusa  kembali  memberikan Promo  khusus  KTP  Bali,  Beli  1  Gratis  1  sesuai  dengan  syarat  dan  ketentuan  yang  berlaku  untuk  Paket Budaya  ,  Paket  Nusa  dan  Paket  Warna  Nusantaraku.  

Promo  ini  berlaku  dari  tanggal  8  –  10  Maret    2019. Terdapat  pula  promo  dengan  pembelian  minimum  100  ribu  di  Restoran  Dapur  Nusa  mendapatkan  free  1 soft  drink. Taman  Nusa  buka  setiap  hari  dari  pukul  09.00  -  17.00  WITA.  Segera  kunjungi  Taman  Nusa  yang  terletak  di Jalan  Taman  Bali,  Banjar  Blahpane  Kelod,  Desa  Sidan,  Gianyar.   Untuk  alamat  dan  informasi  lengkap,  dapat  menghubungi  bagian  informasi:  0361  –  952  952  atau  lihat  di website  www.taman-nusa.com ,  Facebook,  Instagram  dan  Twitter@tamannusa  atau  Google  Search ‘Taman  Nusa’  karena  lokasi  Google  Maps  sudah  akurat  dan  diverifikasi. Pastikan  keluarga  anda  terhibur  dan  mendapatkan  kenangan  yang  berbeda  pada  masa  liburan  kali ini!    Kunjungi  Taman  Nusa,  taman  wisata  budaya  Indonesia  di  Gianyar,  Bali.

Kamis, 11 Oktober 2018

Pelatihan Artikel Ilmiah di IHDN Denpasar

Denpasar,Balikini.Net  - Artikel ilmiah merupakan keharusan yang dibuat oleh dosen sebagai publikasi hasil penelitian atau kajian teori yang ditulis dosen. Untuk meningkatkan kualitas penulisan dikalangan civitas Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, Rabu (10/10/2018) di Aula Kampus, Jalan Ratna No. 51 Denpasar.

Artikel ilmiah kini tengah menjadi perhatian khusus Kemenristek Dikti. Kini para dosen dituntut produktif menghasilkan karya ilmiah. Namun sayangnya, jumlah dosen yang membuat artikel ilmiah masih belum signifikan.

Hadir sebagai narasumber Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra dari Universitas Udayana dan Dr. Janner Simarmata dari Universitas Negeri Medan.

Prof.  I Nyoman Darma Putra mengatakan bahwa hal penting dalam menulis adalah pahami data, berikan makna, opini, argumentasi, kritis dan gunakan kutipan untuk mendukung penulisan.

“Dan langsung ke topik, tulis yang penting secepatnya, jangan sampai menunda,” pintanya.

Sementara itu, Janner Simarmata menyampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah etika, gaya dan bahasa, struktur penulisan, komponen penulisan, proses pengiriman artikel, dan proses penerbitan.

“Sebelum menulis ilmiah, sebaiknya perlu mengetahui peraturan-peraturan dari penerbit jurnal yang dituju. Tiap penerbit memiliki peraturan yang berbeda-beda, “ Imbuh Janner

Begitu juga dengan struktur dan komponen penulisan. Untuk hal ini, perlu konsentrasi yang cukup tinggi karena merupakan faktor terpenting dalam menentukan karya ilmiah tersebut layak diterima atau tidak.

“Setiap detailnya harus diperhatikan betul, karena penulis biasanya banyak terkendala disini dan editor dengan sangat mudah menolak karya anda melalui tahap pengecekan struktur dan komponen penulisan,” tandasnya

Dr. I Ketut Sudarsana Ketua Panitia Pelaksana kegiatan ini berharap agar kegiatan pelatihan yang diikuti oleh 75 dosen dilingkungan Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar (IHDN) ini, mampu mendongkrak dosen-dosen dalam memiliki kemampuan untuk menulis karya ilmiah yang berupa artikel yang nantinya dapat dipublikasikan dalam jurnal-jurnal ilmiah sesuai dengan bidang ilmunya masing-masing.

Acara pelatihan ini akan digelar selama dua hari, besok Kamis (11/10/2018) masih ada materi yang tidak kalah pentingnya yang akan dipaparkan oleh Heri Nurdiyanto yang juga Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jogyakarta.

“Materi yang akan dibahas adalah terkait sitasi, pencarian sumber ilmiah dan bagaimana menggunakan template dari setiap jurnal,” tutup Sudarsana. (js/r5)

Minggu, 26 Agustus 2018

Mandala Giri, Memaknai dan Menyikapi Gunung

Denpasar,Balikini.Net —Masyarakat Bali dan seluruh pemangku kepentingan diminta bersungguh-sungguh menjaga lingkungan dan mewujudnyatakan penghargaan terhadap gunung yang menjadi salah satu sumber kehidupan.


Inilah pesan yang bisa dipetik dari Dialog Budaya ‘Mandala Giri: Pemaknaan dan Penyikapan’ yang digelar Boost Sanur Village Festival, Jumat (24/8/2018) sore dengan meghadirkan empat narasumber di Griya Santrian Resort, Sanur, Denpasar.

Festival yang mengambil tema ‘Mandala Giri’ ini memang ingin mengajak khalayak memusatkan perhatian kembali untuk memaknai dan menyikapi erupsi Gunung Agung yang mengguncang berbagai segi kehidupan dan mengganggu aktivitas pariwisata. 

Budayawan Wayan Westa membedah narasi satrawi tentang muasal gunung dan berbagai filosofinya. “Sudah sewajarnya orang Bali memuliakan gunung, bukan hanya untuk memuja Siwa, tetapi juga memuja leluhur,” kata penekun sastra Bali ini.

Ia mengingatkan puncak gunung dalam diri manusia berada di kepala, oleh karena itu para tetua selalu bernasihat agar berhati-hati membawa kepala, di situlah tempat Batara Siwa. Hal ini dipahami betapa penting arti kepala tempat bersemayam pikiran, wibawa, dan nasib berkelindan.

Westa pun percaya bahwa orang yang tak menghargai isi kepala sendiri –apalagi menggunakan ‘isi’ kepala orang lain—dianggap tak memiliki kepribadian. Ia juga menjelaskan serentetan pemahaman gunung sebagai pusat dari mana datangnya kerahayuan atau ‘sangkan ingkang hayun teka.’

Budayawan asal Prancis Jean Couteau mengatakan dalam konteks tanda-tanda alam seperti halnya erupsi selayaknya dirangkai dengan berbagai peristiwa lain seperti kebakaran hutan, pencemaran, hingga ke konsumsi energi dan kebijakan industri serta pangan yang mempengaruhi sumber daya alam.

Ia lantas mengingatkan adanya ancaman ekologi yang serius di berbagai belahan bumi. Jean mengutip ‘Roga Sanghara Bhumi’ yakni teori tradisional Bali yang dikenal sebagai ‘ruug jagat’ yang meramalkan penghancuran bumi sesuai dengan yuga atau siklus makrokosmis, hampir menjadi kenyataan.

Kata dia saatnya kini membuat gerakan penyelamatan ekologis melalui kebijakan yang kemudian diterapkan secara nyata. Bahkan dia ingin Indonesia dengan ideologi Pancasila menjadi pelopor gerakan ini demi nasib bangsa, juga bangsa-bangsa di dunia. “Mudah-mudahan kepeloporan seperti itu disuarakan para petinggi saat pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia Oktober nanti,” katanya.


Narasumber lain, Risa Permanadeli dari Pusat Kajian Representasi Sosial Indonesia menjelaskan tentang muasal dimulainya kebutuhan perjalanan wisata oleh kaum pekerja di Barat, hingga Bali yang menanggung beban dan jebakan berhala pariwisata. Bali dengan kearifan lokal —yang harus mewujud dan bukan berhenti pada konsep/filofofi’— diharapkan membentengi pulau yang ikut bertanggung jawab menjadi salah satu sumber daya ekonomi bagi negara tujuan wisata. 


Ia mengajak mencari Bali dalam arus besar masyarakat dunia dnegan melihat ulang seberapa jauh bergesernya dari Mandala Giri ke berhala industri pariwisata yang menjanjikan rejeki dan ilusi. Pergeseran itu bakal ditentukan pada mentalitas masyarakat Bali sendiri yang teolah memiliki bekal; Trihita Karana .

“Mari kita lihat ulang perubahan arus dan pola pariwisata masyarakat modern dengan ancaman baru dunia. Kini saatnya merumuskan keberanian untuk menegakkan kedaulatan Bali sebagai sebuah habitat kehidupan sosio-kultural yang tidak mungkin terlepas dari arus dunia,” katanya.

Fotografer Ida Bagus Putra Adnyana atau Gustra yang menarasikan budaya masyarakat gunung di Bali secara visual mengungkapkan optimisme turis tak banyak mengganggu kawasan giri. Ia justru mengkritik warga Bali sendiri yang usai melakukan upacara tak segera membersihkan sampah plastik yang berserakan.

Ketua Umum Boost Sanur Villlage Ida Bagus Gede Sidharta Putra mengatakan dua program menarik yakni diskusi pariwisata dan dialog budaya merupakan bagian penting dari festival yang mengakomodasi berbagai kritik dan pendapat para cerdik-cendekiawan. Ia berupaya hasil perbincangan tidak sekadar menjadi wacana, melainkan bisa diwujudkan dalam upaya memajukan Sanur dan memberi sumbangsih untuk Bali, serta Indonesia, tentunya.[km/r3]


   

Senin, 09 Juli 2018

Hadiri Workshop Busana, Ayu Pastika Ingatkan Penggunaan Bahan Tekstil Tradisional

Denpasar,Balikini.Net - Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan (TP PKK) Provinsi Bali menghadiri Kegiatan Workshop Busana Bali dan Modifikasi yang digelar serangkaian perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) XL Tahun 2018, Minggu (8/7). Workshop kali ini secara khusus membahas tentang Busana Adat Pengantin Bali dengan pembicara desainer kenamaan Tjok. Gde Abinanda Sukawati atau yang akrab dengan panggilan Tjok Abi.

Ditemui di sela-sela kegiatan workshop, Ayu Pastika manyampaikan bahwa dewasa ini desain Busana Adat Pengantin Bali mengalami perkembangan yang begitu dinamis dan makin beragam. Tak hanya bertahan dengan desain busana yang monoton, belakangan ini bermunculan busana modifikasi yang menambah marak karya desain Busana Pengantin Bali. Sejalan dengan trend busana yang begitu dinamis, Ayu Pastika kembali mengingatkan agar para desainer tetap mengutamakan penggunaan bahan tekstil tradisional Bali dalam merancang karya-karya mereka. Karena Bali memiliki jenis tenun tradisional yang begitu beragam seperti endek, songket dan rangrang. Selain pemilihan bahan, model busana tetap harus  mengedepankan etika, kesopanan dan kaidah berbusana yang mencerminkan Budaya Bali. Ayu Pastika berharap, pelaksanaan workshop dapat meningkatkan pemahaman TP PKK Kabupaten/Kota se-Bali tentang penggunaan busana tradisional Pengantin Bali. Selanjutnya mereka diminta mengikuti kegiatan ini dengan baik dan mensosialisasikan apa yang diperoleh dalam kegiatan workshop kepada kader dan masyarakat di lingkungannya.

Sementara itu, Tjok Abi menerangkan bahwa modifikasi pada busana pengantin Bali bersifat fleksibel. Namun pria kelahiran 13 Januari 1968 ini sependapat jika modifikasi busana pengantin tetap harus memperhatikan etika dan estetika. Lebih dari itu, dia menekankan agar rancangan busana mengutamakan pemakaian bahan tenun tradisional seperti endek. Memeriahkan pelaksanaan workshop, pria yang terkenal dengan penggunaan kain poleng dalam desain busananya ini juga menampilkan sejumlah koleksi rancangannya. Busana rancangan Tjok Abi dibawakan oleh Puteri Bali 2018 AA. Ayu Mirah Cynthia Dewi, Runner Up I Puteri Bali 2018 Shelviana Tjandra dan Putri Favorit 2017 Nadya Pradnyagita. Selain itu, ditampilkan pula peragaan busana pengantin yang menjadi ciri khas kabupaten/kota se-Bali.[pr/r4]

Selasa, 12 Juni 2018

Salah Kaprah, Ini Pergantian Hari Menurut Kalender Bali

Jembrana (Balikini.Net) - Ternyata masih banyak umat Hindu khususnya di Bali yang belum paham benar, kapan sebenarnya pergantian hari menurut perhitungan Wariga. Jika hal ini belum dipahami benar maka terjadi kesalah-pahaman dan kaitannya adalah akan menjadi penyebab kesalahan pemilihan hari baik, kesalahan penentuan hari suci (rahinan) ataupun kesalahan penetapan wetonan (oton) seorang anak, dan sebagainya.

Seperti umum diketahui, anak-anak Bali yang beragama Hindu sejak lahir sampai dewasa, hingga masalah ritual pribadinya akan selalu dikaitkan dengan Wariga. Disinilah, maka hari ulang tahun boleh saja tidak dirayakan, namun wetonan adalah wajib untuk diperingati dengan ritual keagamaan.

Menurut Jro Mangku Suardana, Pemangku Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi, yang dimaksudkan dengan Wariga itu adalah Wewaran, dari Eka Wara sampai Dasa Wara dan Wewaran ini dikaitkan dengan Wuku yang berjumlah tiga puluh serta pergantian hari menurut Wariga adalah pada pagi hari (saat matahari terbit), untuk gampangnya ditetapkan lebih kurang setiap pukul 06.00 pagi, pukul 12.00 siang dan pukul 18.00 sore, walaupun sesungguhnya ini sering tidak tepat. Misalnya, saat dimana kedudukan matahari berada di Selatan Katulistiwa, pukul 18.00 sore matahari masih nampak di Barat, jadi sesungguhnya belum Sandhyakala. Tetapi karena dianggap rumit untuk menyesuaikan dengan tenggelamnya matahari, maka Puja Trisandya-pun tetap berkumandang di televisi pada pukul 18.00.

Maka penetuan pergantian hari disini juga akan berdampak pada pengantian Sasih (Bulan) dalam Kalender Caka, hingga pelaksanaan hari suci (rahinan) seperti misalnya raya Nyepi akan dimulai sejak pukul 06.00 pagi sampai pukul 06.00 pagi keesokan harinya disebut Ngembak Geni. Hal inilah hendaknya senantiasa diingatkan kepada seluruh umat agar jangan sampai baru pukul 00.01 warga sudah mulai meledakkan ketikusan (mercon), menyuarakan kentongan dan sebagainya dengan maksud mengisyaratkan hari telah berganti pagi dan ini yang selalu terjadi (salah kaprah), karena Nyepi baru berakhir pada saat matahari terbit (Ngembak Geni).

Demikian juga pada penetapan kelahiran anak, kalau ada anak yang lahir lewat tengah malam, misalnya pukul 03.00 sampai mendekati pukul 06.00 dini hari, anak itu weton-nya mengikuti hari kemarin, bukan mengikuti hari yang akan datang sebagaimana perhitungan Kalender Masehi dan inilah yang sering tidak diketahui.

Akibat kesalah-pahaman dalam menentukan pergantian hari menurut Wariga ini hingga banyak yang salah weton (salah hari otonan) dan ini akan berpengaruh pada “watak sang anak” karena setiap hari ada peruntungannya dan ada pantangannya. Apalagi kalau terjadi beda Wuku, misalnya, anak yang lahir hari Minggu dini hari menurut Kalender Masehi, seharusnya adalah milik hari Sabtu menurut Wariga. Karena antara Sabtu dan Minggu sudah beda Wuku. Perwatakan Wuku sangat beda maka pengaruhnya pun besar.

"Saya berikan contoh yang akan berakibat luas. Misalnya hari ini, Sabtu 8 Februari 2014, wuku Ugu. Jika ada bayi yang lahir lewat tengah malam nanti, misalnya, pukul 03.00 atau pukul 05.00, maka weton-nya tetap Sabtu (Saniscara) Pon Wuku Ugu. Bukan mengikuti hari Minggu (Redite) Wage wuku Wayang. Kalau salah menentukan pergantian hari karena terpengaruh tahun Masehi, dan anak itu ditetapkan weton Minggu Wage wuku Wayang, maka anak itu harus dibuatkan upacara Pangelukatan Wayang dengan runtutan penubahan Wayang Sapu Leger. Padahal seharusnya itu tak terjadi", jelasnya.

Kesalahan penentuan hari otonan (weton) ini sering terjadi dan umumnya kalau keluarganya menyadari kesalahan itu, pada saat weton-nya diadakan Perubahan Weton dan ini banyak dilakukan, upacaranya juga tidak jelimet, hanya menambah beberapa sesajen.

Masalah hari ulang tahun, tentu mengikuti Kalender Masehi, karena ulang tahun tidak berdasarkan Wariga (tak memakai hari dan wuku), tetapi memakai tanggal. Kalau anak itu lahir seperti contoh di atas, ulang tahunnya tetap saja 9 Februari, karena pergantian Tahun Masehi adalah pukul 00.00 tengah malam.

Pergantian hari itu berbeda-beda menurut kalender. Pergantian hari  Tahun Masehi pada saat tengah malam, pukul 00.00. Sedang Tahun Hijrah yang digunakan umat Islam (dan sekarang diikuiti pula oleh Tahun Jawa), pergantian harinya dimulai magrib pada hari tersebut. Jadi, malam hari ini setelah magrib adalah milik hari esoknya. Karena itu umat Islam, misalnya, menyebut malam Jumat itu adalah hari Kamis malam yang biasa dikenal di Bali.

Jro Mangku Suardana juga menjelaskan, dalam perhitungan Wariga Bali juga dikenal istilah Wuku dimana Wuku ini adalah bagian dari suatu siklus dalam penanggalan Jawa dan Bali yang berumur 7 (tujuh) hari  atau 1 (satu) pekan. Dalam siklus Wuku ini berumur 30 pekan atau selama 210 hari yang masing-masing Wuku memiliki nama tersendiri. Perhitungan dalam Wuku atau Pawukon (dalam bahasa Jawa) masih digunakan di Jawa dan Bali, terutama untuk menentukan hari baik dan hari buruk serta terkait dengan Weton (Oton). Adapun ide dasar perhitungan menurut Wuku adalah bertemunya dua hari dalam sistem Pancawara (Pasaran) dan Saptawara (Pekan) menjadi satu. Sistem Pancawara atau Pasaran terdiri dari 5 (lima) hari diantaranya dimulai dari Umanis (Legi), Pahing, Pon, Wage dan berakhir Kliwon sedangkan sistem Saptawara terdiri dari 7 (tujuh) hari diantaranya dimulai hari Senin (Soma), Selasa (Anggara), Rabu (Budha), Kamis (Wrehaspati), Jumat (Sukra), Sabtu (saniscara) dan berakhir pada hari Minggu (Redite). Dalam satu wuku, sudah pasti akan berakhir pada hari Sabtu. Pertemuan antara hari Pasaran dan hari Pekan ini misalnya seperti Sabtu Kliwon, jika di Bali biasanya disebut Tumpek salah satunya terjadi dalam wuku Kuningan dan karena dalam siklus satu Wuku berakhir pada hari Sabtu maka keesokan harinya yakni hari Minggu tidak lagi Wuku Kuningan namun sudah berganti Wuku lain yakni Wuku Langkir, sehingga selama ini umat menjadi salah kaprah jika kesesokan hari setelah hari Tumpek Kuningan itu menyebut hari Umanis Kuningan tetapi yang benar adalah hari Minggu (Redite) Umanis Wuku Langkir.

"Demikian, semoga tidak ada lagi yang salah kaprah dan juga menentukan Weton (Oton) anaknya jika lahir menjelang dini hari", tutup Jro Mangku Suardana (!)
© Copyright 2019 Bali Kini | All Right Reserved